Kamis, 04 Juni 2026

Merenggut Kesucian keponakan istriku


 

Sejak memergoki Danira kemarin Damian selalu kepikiran. Dia sampai tidak fokus jika gadis itu mendekatinya. Tiba-tiba saja gairahnya ikut naik. Dia langsung masuk ke kamar dan melihat istrinya sedang tertidur. Dicumbunya istrinya itu hingga terbangun dengan mata setengah mengantuk. "Ngghh mas aku capek besok aja ya mas" tolak Vera sambil mendorong pelan tubuh Damian. "Sayang aku pengen banget ayolah" ajak Damian dengan tetap mencumbu istrinya namun lagi-lagi Damian hanya menerima penolakan dari istrinya. "Nggak mas aku ngantuk!! " Vera langsung berbalik sambil memeluk gulingnya. Damian hanya bisa menghela nafas kasar lalu masuk ke kamar mandi untuk menuntaskan hasratnya. Tiba-tiba saja dia memikirkan Danira. Dia mencoba untuk menghilangkan bayang wanita itu dari pikirannya tapi tidak bisa. Kenapa dia terus memikirkan Danira. "Danira.. kenapa kamu terus meracuni otakku. Aku hanya mencintai istriku tidak mungkin aku tertarik denganmu" batinnya. Esok harinya seperti biasa Damian akan mengantarkan Danira ke kampus. Damian tidak bisa fokus dan sesekali melihat Danira lewat kaca mobilnya. Sesampai di kampus Danira tiba-tiba mencium pipi Damian. "Makasih ya om" ucap Danira sambil tersenyum padanya. "I.. iya hati-hati" balas Damian dengan wajah memerah. Danira turun dari mobilnya dan melambaikan tangan padanya sebelum masuk ke kampus. Damian merasakan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Kenapa bisa seperti ini. Apa dia sudah jatuh cinta dengan keponakan istrinya itu. Dia hanya mencintai Vera dan selamanya hanya Vera yang menjadi istrinya. Damian berusaha mengusir perasaan asing yang tumbuh di dalam hatinya dan kembali melanjutkan perjalanannya ke kantor. *** Langkah kaki Damian membawanya tepat di depan kamar Danira. Lagi-lagi suara desahan terdengar di telinganya. Sudah lama Vera tidak memberikan jatah padanya. Hasrat Damian sudah tidak bisa dibendung lagi. Damian mengintip di balik cela pintu yang sedikit terbuka. Disana dia bisa melihat Danira sedang melakukan m********i seperti kemarin. "Ahhh om Damian... om Damian.. ngghh om sentuh Danira om" desah Danira sambil memasukkan jarinya ke dalam miliknya. Damian merasakan sekujur tubuhnya memanas saat Danira memanggil-manggil namanya. Bagian bawahnya sudah mengeras tanpa dia sadari. Persetan jika Danira adalah keponakan istrinya dia sudah tidak kuat lagi. BRAKKK Damian langsung membuka kamar Danira hingga gadis itu sangat terkejut dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Damian mengunci kamarnya dan mendekati Danira dengan perlahan. "Om Damian.. ngapain om kemari? " tanya Danira ketakutan. "Om sudah lihat semuanya. Kenapa kamu melakukan m********i sambil memanggil namaku? " tanya Damian. "A.. apa maksud om? om hanya salah dengar" jawab Danira berbohong. Damian menyunggingkan senyumnya mendengar jawaban Danira. "Sudah beberapa kali om melihatmu begini. Apa kamu sengaja ingin menggoda om? " Danira tidak bisa mengelak dan berkutik lagi. Tiba-tiba dia menangis di hadapannya. "Maafkan aku om, sebenarnya aku.. aku suka sama om Damian hiks hiks hiks" tangis Danira menyesal. Damian begitu terkejut saat mendengar pengakuan Danira. Jadi selama ini gadis itu menyukainya. Dadanya kembali berdebar-debar karena rasa yang dimilikinya ternyata sama seperti yang Danira rasakan. "Sudah jangan menangis om tidak marah sama kamu Danira" Damian menyeka air mata yang membasahi pipi Danira. Entah siapa yang memulai tiba-tiba saja bibir mereka saling bertemu. Jantung mereka berdebar-debar saat melakukannya. Damian memperdalam ciumannya hingga Danira memukul dadanya karena sesak nafas. Damian menyudahi ciumannya dan menyeka bibir basah Danira dengan jempolnya. "Maaf om khilaf melakukannya" Damian ingin pergi tapi Danira malah menahan tangannya. "Om harus tanggung jawab itu ciuman pertama aku om" ucap Danira malu-malu. Damian sudah tidak bisa lari lagi. Dia sudah terlanjur basah minum air. "Kamu yang memintanya Danira jangan menyesal karena om tidak akan pernah mundur lagi" Damian kembali memagut bibirnya. Danira membuka mulutnya agar Damian bisa mengeksplor lebih jauh di dalamnya. Dalam hati dia bersorak karena berhasil menjebak Damian ke dalam perangkapnya. Malam itu terjadilah pergumulan diantara mereka. Kesucian Danira terenggut oleh suami tantenya sendiri. Damian mencium sudut mata Danira yang basah. Dia merasa bersalah sudah mengambil keperawanannya. "Maafkan aku.. aku tidak tau kalau kamu masih perawan" sesal Damian. Baru kali ini dia meniduri wanita yang masih perawan karena saat dia pertama kali melakukannya dengan Vera istrinya itu sudah tidak perawan lagi. Awalnya Damian kecewa tapi karena dia sangat mencintai Vera hal itu tidak menjadi masalah baginya. "Tidak apa-apa om Danira bahagia sudah memberikan kesucian Danira untuk om. Danira juga tidak berniat merebut om dari tante Vera" ucap Danira sambil memeluknya. "Terima kasih Danira kamu memang orang yang baik" ucap Damian sambil membalas pelukannya. Andai saja dia bisa menahan nafsunya mungkin semua ini tidak akan terjadi. Diam-diam Danira tersenyum licik di balik pelukannya. "Tante Vera sebentar lagi suamimu akan menjadi milikku" tawanya di dalam hati. *** Damian, Danira, dan Vera sedang makan bersama di meja makan. Vera sejak tadi berbicara tapi perhatian Damian hanya tertuju pada Danira. "Mas kamu denger gak sih aku ngomong apa? " tanya Vera. "Hah? kamu tadi bicara apa? " tanya Damian saat tersadar dari lamunannya. "Nanti aku mau liburan ke Paris sama teman-teman aku. Kamu gapapa kan aku tinggal berdua dengan Danira di rumah? " tanya Vera. "Tentu saja boleh" jawab Damian tanpa beban. Vera sampai heran biasanya Damian akan merengek memintanya untuk tetap dirumah tapi dia tidak terlalu memikirkannya. "Terima kasih ya mas sudah mengizinkan aku pergi. Aku mau pergi belanja dulu ya. Danira kamu mau ikut? " ajak tante Vera. "Tidak tante, aku masih banyak tugas kuliah yang harus aku kerjakan" jawab Danira sambil menyenggol kaki Damian. Damian menyadarinya dan hanya tersenyum pada Danira. "Baiklah kalau begitu tante pergi sendiri aja. Sayang aku pergi dulu ya" Tante Vera mencium Damian baru setelah itu bersiap-siap untuk pergi. Setelah Vera pergi Danira dengan berani duduk di pangkuan Damian dan mencium bibirnya. Damian langsung melepas ciuman mereka karena takut ketahuan pembantu di rumahnya. "Danira jangan disini nanti ketahuan bi Sri" "Aku cemburu saat melihat tante Vera mencium om Damian"ucap Danira sedih. "Iya maaf ya sayang kita ke kamar kamu saja ya om sudah kangen sama kamu" ajak Damian. "Ehm om nakal banget sih, kan kemarin malem udah" "Masih kurang ayo" Damian menuntun tangan Danira ke kamar gadis itu. Diam-diam bi Sri melihat tuannya bermain gila dengan keponakan nyonya nya. Dia hanya bisa mengelus d**a dan beristighfar tapi tidak ingin ikut campur terlalu jauh. Bisa-bisa dia dipecat oleh tuan Damian jika membocorkan rahasia ini. Di dalam kamar Danira dan Damian sedang berciuman dengan panas. Lidah Damian menerobos masuk ke dalam rongga mulut Danira. Ciuman ini sangat manis dan candu untuknya. Damian seolah tak pernah menciumnya lagi dan lagi. Setelah itu ciumannya turun sampai ke leher dan dadanya. Damian banyak meninggalkan jejak cinta disana. Entah tak tau sejak kapan tubuh mereka sama-sama polos. Danira sudah bergoyang di atasnya sampai ranjangnya berderit-derit. Damian hanya bisa mendesah dan melenguh menikmati goyangannya. "Ahhh Danira mau keluar om!! " desah Danira. "Keluarkan saja sayang" ucap Damian sambil merem melek menikmati percintaan mereka. Akhirnya Danira mendapatkan klimaks pertamanya. Mereka berganti posisi dengan Danira membelakanginya. Damian langsung menghujamnya dari belakang dengan keras. Ia tampar b****g bulatnya berkali-kali hingga memerah sambil mempercepat hentakannya. Mereka bercinta tak kenal waktu hingga berkali-kali melakukannya. Damian membuang benihnya di tubuh Danira karena tak ingin wanita itu hamil dan Vera curiga dengan hubungan mereka. Akibat terlalu lelah bercinta tanpa sadar mereka berdua ketiduran sambil berpelukan. Beberapa jam kemudian suara ketukan pintu mengganggu pendengaran mereka. Damian langsung terbangun saat mendengar suara istrinya di luar kamar Danira. "Danira! apa kamu ada di dalam? " tanya Vera di luar kamar. Damian sangat panik dan langsung memakai bajunya dengan cepat. Jangan sampai Vera tau kalau dia berada di kamar Danira.

 

Desahan di kamar keponakan istriku


 

Hari ini Danira akan masuk kuliah di kampus barunya. Vera meminta suaminya untuk mengantarkan Danira ke kampus karena takut Danira akan tersesat. "Mas tolong anterin Danira ya. Aku sibuk sekali hari ini. Sekarang aku telat mau senam dengan teman-temanku. Tolong ya mas" pinta Vera sambil mencium bibir suaminya. "Iya kamu tenang saja. Hati-hati di jalan ya" Damian sebenarnya masih merindukan Vera tapi dia tak ingin Vera terkekang hidup bersamanya. Dia hanya bisa melihat kepergian istrinya dan melambaikan tangannya. Vera membalas lambaian tangannya sebelum pergi. "Om Damian.. " sapa Danira yang terlihat sangat cantik dan segar pagi ini. Kali ini pakaian yang dikenakan Danira terlihat sopan di hari pertamanya kuliah. "Kamu sudah siap ayo om antar ke kampusmu" ajak Damian. "Iya om" ucap Danira seraya tersenyum pada suami tantenya itu. Mereka berdua masuk ke dalam mobil lalu pergi menuju kampus Danira yang masih searah dengan kantor Damian. Sepanjang perjalanan Danira melihat keluar jendela dengan tatap berbinar melihat gedung-gedung tinggi di sekitarnya karena selama ini Danira tinggal di desa. Setelah sampai di kampus Danira mencium tangan Damian sebelum turun dari mobil. Vera istrinya tidak pernah mencium tangannya seperti ini. Hati Damian tersentuh dan menghangat karena merasa dihormati oleh seseorang. "Om Danira masuk dulu ya ke kampus. Hati-hati di jalan ya om" Danira melepas tangannya dan turun dari mobilnya. Damian sampai tak bisa berkata-kata dan melihat kepergian Danira sampai masuk ke dalam kampusnya. Di tatapnya tangan yang baru saja Danira cium. Damian tersenyum lalu melanjutkan perjalanannya menuju kantornya. Hari-hari terus berlanjut. Damian yang dingin mulai membuka dirinya pada Danira. Dia bahkan tidak peduli dengan istrinya yang suka kelayapan. Bahkan tanpa canggung lagi Danira sering bergelayut manja pada Damian. "Om kok gak nungguin Danira sih!! " rajuk Danira padahal mereka sudah janji mau nonton film bareng di tivi. "Kamu nya lama jadi om duluan deh. Duduk sini" Damian menepuk sofa di sebelahnya agar Danira duduk disana. Danira langsung duduk si sebelah Damian. Mereka menonton film horor di tivi. Beberapa kali Danira menutup wajahnya ketakutan saat melihat jumpscare yang menakutkan. "Ahkk!! " teriak Danira reflek memeluk lengan Damian. d**a Danira menyenggol lengannya hingga pria itu salah tingkah. "Ma.. maaf om" Danira langsung menjaga jarak diantara mereka dan kemudian fokus dengan filmnya. Tapi Damian sudah kehilangan fokusnya sampai film yang mereka tonton berakhir. Tanpa sadar Danira malah tertidur hingga kepalanya bersandar di bahunya. Damian tidak tega untuk membangunkannya dan menggendong Danira ke kamarnya. Danira sedikit menggeliat sampai bibir menempel di leher Damian. Jantungnya berdebar apalagi saat Danira menggerakkan bibirnya. "Jangan gila Damian.. dia keponakan istrimu" batinnya mengusir perasaan asing yang hinggap di hatinya. Setelah sampai di kamar Danira, dia langsung merebahkan tubuh Danira di atas ranjang dan menarik selimutnya hingga batas d**a. Wajah tenang Danira begitu meneduhkan hingga Damian larut dalam pesonanya. Tangan besarnya terulur menata anak rambut yang menutupi wajah gadis itu. Setelah itu Damian keluar dari kamar Danira. "Mas? kamu ngapain keluar dari kamarnya Danira? " tanya Vera curiga. "Danira tadi ketiduran. Aku tidak tega membiarkannya tidur di sofa" jawab Damian gugup. "Oh aku kira kenapa. Ayo kita tidur mas aku gak bisa tidur kalau nggak ada kamu" ajak Vera sambil bergelayut manja pada suaminya. "Ayo" Damian merangkul istrinya ke dalam kamarnya. Untung saja Vera tidak curiga dan bertanya yang macam-macam. Sementara itu Danira terbangun setelah Damian keluar dari kamarnya. Dia sengaja pura-pura tertidur agar digendong Damian sampai ke kamarnya. "Sepertinya aku harus lebih agresif lagi" gumamnya sambil tersenyum licik. **** Di hari libur Damian sangat kecewa karena Vera lagi-lagi pergi arisan dengan teman-temannya. Dia memilih beristirahat dirumah sambil membaca korannya. BYURR Sepertinya ada seseorang yang berenang di kolam renang. Damian menutup korannya dan melihat dari atas balkon Danira sedang berenang sendirian dibawah sana. Damian turun kebawah untuk ikut berenang karena bosan hanya mengurung diri di dalam kamar. Dia hanya memakai celana pendek hingga otot-otot kekarnya terlihat jelas. "Om Damian!! " panggil Danira dari dalam kolam renang. Gadis itu terlihat seksi dengan bikini yang dipakainya. Bukit kembarnya sangat besar lebih besar dari milik istrinya. Damian memalingkan wajahnya. Apa dia sudah gila sudah membandingkan istrinya dengan wanita lain apalagi wanita itu adalah keponakan istrinya sendiri. Damian langsung ikut menceburkan diri ke dalam kolam renang agar pikiran buruknya menghilang. Danira berenang mendekati Damian hingga posisi mereka sangat dekat sekali. "Om ganteng juga ya kalau dilihat dari dekat" puji Danira. "Terima kasih" jawab Damian gugup lalu melanjutkan aktivitas berenangnya. Danira juga kembali berenang hingga tiba-tiba saja dia mengalami kram pada kakinya. "Tolong!! tolong!! " teriak Danira hingga tenggelam ke dasar kolam. Damian langsung menolongnya dan membawanya ke pinggir kolam. "Danira!! Danira!! bangun Danira!! " Damian mengguncangkan tubuh Dan ia sambil menepuk-nepuk wajahnya tapi Danira tidak bangun-bangun juga. Tanpa pikir panjang Damian langsung memberikan nafas buatan untuk Danira agar gadis itu bisa kembali bernafas. Beberapa kali Damian memberikan nafas buatan dari mulut ke mulut sampai akhirnya Danira terbatuk-batuk memuntahkan air dari perutnya. "Om Damian hiks hiks hiks " tangis Danira sambil memeluk Damian. d**a montok Danira menekan d**a bidangnya hingga membuat wajahnya memerah malu. "Tenanglah Danira jangan menangis. Om akan antar kamu ke kamar ya" Damian langsung membopong Danira sampai ke kamarnya. Dia mengelap tubuh Danira dengan handuk sampai tangan Danira memegang tangannya. "Om terima kasih ya" ucap Danira lalu mencium pipi Damian. Jantung Damian berdetak lebih cepat saat merasakan bibir Danira mencium pipinya. Kenapa Danira tiba-tiba melakukan hal ini. Danira tersenyum saat melihat Damian salah tingkah karena memang ini tujuannya. "Sama-sama.Om keluar dulu ya" Damian memilih keluar untuk menetralkan perasaannya. Tidak mungkin kalau dia malah memiliki perasaan pada Danira keponakan istrinya. Dia hanya mencintai Vera. Hanya Vera yang dia cintai seumur hidupnya. "Apa yang kamu pikirkan Damian. Dia itu keponakan istrimu jangan sampai kamu berbuat lebih jauh" batinnya lalu kembali ke kamarnya. *** Damian baru pulang lembur dari kantornya. Sepertinya Vera sudah tidur duluan karena sekarang waktu sudah menunjukkan pukul jam 12 malam. "Ahhh nghhhh sttt" Samar-samar Damian mendengar suara desahan. Damian melihat pintu kamar Danira yang sedikit terbuka. Matanya terbelalak saat melihat Danira melakukan m********i dengan tubuh telanjang. Tubuhnya sampai membeku di tempat dan tidak bisa bergerak sama sekali. Tubuh Danira sangat indah sekali. Bukit kembarnya terlihat besar dan montok apalagi tubuhnya juga langsing dan putih tanpa cacat noda sedikitpun. "Ahhh om Damian... om Damian.. sentuh Danira om nghhh" desah Danira memanggil-manggil namanya. Damian begitu terkejut Danira malah memanggil namanya. Apakah selama ini gadis itu menyukainya?

 

Senin, 19 Januari 2026

bercinta dengan Tetangga lagi hamil 2


 


Part 2.

 

Dalam hati aku memuji, Manis juga ibu ini walaupun umurnya kelihatannya di atasku sekitar 34 -36 tahun kalau digambarkan seperti artis Misye Arsita dan saat itu perutnya agak membuncit kecil kelihatan sedang hamil muda. “Kalau ke manukan naik angkot apa ya Dik?” “Wah jam segini sudah habis Bu angkotnya, Gimana kalo saya antar?” Dia kelihatan gembira. “Apa tidak merepotkan?” “Kebetulan rumah saya juga satu arah dari sini, mari naik!” Setelah dia ikut mobilku, Ibu itu bercerita bahwa dia berasal dari Jawa Tengah, dia sedang mencari suaminya yang kebetulan baru 2 minggu kerja sebagai sopir bis jurusan Semarang-Surabaya, keperluannya ke sini hendak mengabarkan kalau anaknya yang pertama yang berumur 15 tahun kecelakaan dan dirawat di rumah sakit sehingga butuh uang untuk perawatan anaknya.

 

Kebetulan alamat yang di tulis oleh suaminya tidak ada nomer teleponnya. Sesampainya di alamat yang dituju kami berhenti. Setelah di depan rumah ketika akan mengetuk pintu ternyata pintunya masih digembok, lalu kami bertanya pada tetangga sebelah yang kebetulan satu profesi. “Suami Ibu paling cepat 2 hari lagi pulangnya. Baru saja sore tadi bisnya berangkat ke Semarang. Kebetulan kami satu PO.” Kemudian kami permisi pergi.

 

Kelihatan di dalam mobil dia sedih sekali. “Terus sekarang Ibu mau ke mana?” tanyaku. “Sebenarnya saya pengin pulang tapi.. pasti saya nanti di marahi mertua saya kalau pulang dengan tangan kosong, lagian uang saya juga sudah nggak cukup untuk pulang.” “Begini saja, Ibu kan rumahnya jauh, capek kan baru nyampek trus pulang lagi.. apalagi kelihatanya ibu sedang hamil, berapa bulan?” “Empat bulan ini Dik, trus saya harus gimana?” “Dalam dua hari ini Ibu tinggal saja di rumah saya, kan nggak jauh dari manukan nanti setelah dua hari ibu saya antar ke sini lagi, gimana?” “Yah terserah adik saja yang penting saya bisa istirahat malam ini.” “Oh ya, boleh kenalan.. nama Ibu siapa dan usianya sekarang berapa?” “Panggil saja aku Mbak Yanti, dan sekarang aku 35 tahun.” Malam itu, dia kusuruh tidur di kamar samping yang biasanya dipakai untuk kamar tamu yang mau menginap. Rumahku terdiri dari 3 kamar, kamar depan kupakai sendiri dan isteriku, sedang yang belakang untuk anakku yang pertama. Malam itu aku tidur nyenyak sekali, kebetulan malam sabtu dan di kantorku hanya berlaku 5 hari kerja jadi sabtu dan minggu aku libur. Sebenarnya aku ingin pergi ke Malang tapi karena ada tamu, kutangguhkan kepergianku minggu depan. Sekitar jam 8 pagi aku bangun, kulihat sudah ada kopi yang sudah agak dingin di meja makan serta beberapa kue di piring. Mungkinkah ibu itu yang menyajikan semua ini. Lalu setelah kuteguk kopi itu aku bergegas ke kamar mandi untuk cuci muka dan kencing.

Karena agak ngantuk aku kurang mengawasi apa yang terjadi, saat aku selesai kencing aku tidak sadar kalau di bathup Mbak Yanti sedang telanjang dan berendam di dalamnya. Matanya melotot melihat kemaluanku yang menjulur bebas, ketika aku membalik ke samping aku kaget dan sempat tertegun melihat tubuh telanjang Mbak Yanti, tubuh yang kuning langsat dan mulus itu terlihat mengkilat karena basah oleh air dan buah dadanya.. wow besar juga ternyata, 36B. Pasti empunya gila seks. Lalu mataku berpindah ke sekitar pusarnya, di atas liang senggamanya tumbuh bulu kemaluannya yang lebat. Tak sadar kemaluanku tegak berdiri dan aku lupa kalau belum mengancingkan celana, Dan Mbak Yanti sempat tertegun melihat kejantananku yang lumayan besar, panjangnya 17 cm tapi kemudian.. “Aouuww, Dik itunyaa!” kata Mbak Yanti sambil menutup buah dadanya dengan tangan serta mengapitkan kakinya.

Aku baru sadar lalu buru-buru keluar. Di kamar aku masih membayangkan keindahan tubuh Mbak Yanti. Andai saja aku bisa yantimati tubuh itu… aku malah berpikiran ngeres karena memang sudah lama aku tidak mendapat jatah dari isteriku, ditambah lagi situasi di rumah itu hanya kami berdua. Lalu timbul niat isengku untuk mengintip lagi ke kamar mandi, ternyata dia sudah keluar lalu kucari ke kamarnya. Saat di depan pintu samar-samar aku mendengar ada suara rintihan dari dalam kamar samping, kebetulan nako jendela kamar itu terbuka lalu kusibakkan tirainya perlahan-lahan. Sungguh pemandangan yang amat syur. Kulihat Mbak Yanti sedang masturbasi, kelihatan sambil berbaring di ranjang dia masih telanjang bulat, kakinya dikangkangkan lebar, tangan kirinya meremas liang kewanitaannya sambil jarinya dimasukkan ke dalam lubang senggamanya, sedang tangan kanannya meremas buah dadanya bergantian.

Sesekali pantatnya diangkat tinggi sambil mulutnya mendesis seperti orang kepedasan, wajahnya kelihatan memerah dengan mata terpejam. “Ouuuhh… Hhhmm… Ssstt…” Aku semakin penasaran ingin melihat dari dekat, lalu kubuka pintu kamarnya pelan- pelan tanpa suara aku berjingkat masuk. Aku semakin tertegun melihat pemandangan yang merangsang birahi itu. Samar- samar kudengar dia menyebut namaku, “Ouhhh Aldiii.. Sss Ahhh..” Ternyata dia sedang membayangkan bersetubuh denganku, kebetulan sekali rasanya aku sudah tidak tahan lagi ingin segera yantimati tubuhnya yang mulus walau perutnya agak membuncit, justru menambah nafsuku. Lalu pelan-pelan kulepaskan pakaianku satu-persatu hingga aku telanjang bulat.

Batang kemaluanku sudah sangat tegang, kemudian tanpa suara aku menghampiri Mbak Yanti, kuikuti gerakan tangannya meremasi buah dadanya. Dia tersentak kaget lalu menarik selimut dan menutupi tubuhnya. \ “Sedang apa Anda di sini!, tolong keluar!” katanya agak gugup. “Mbak nggak usah panik.. kita sama-sama butuh.. sama-sama kesepian, kenapa tidak kita salurkan bersama,” kataku merajuk sambil terus berusaha mendekatinya tapi dia terus menghindar. “Ingat Dik, saya sudah bersuami dan beranak tiga,” Dia terus menghiba. “Mbak, saya juga sudah beristri dan punya anak, tapi kalau sekarang terus terang saya sangat terpesona oleh Mbak.. Nggak ada orang lain di sini.. cuma kita berdua.. pasti nggak ada yang tahu.. Ayolah saya akan memuaskan Mbak, saya janji nggak akan menyakiti Mbak, kita lakukan atas dasar suka sama suka dan sama-sama butuh, mari Mbak!” “Tapi saya sekarang sedang hamil, Dik.. kumohon jangan,” pintanya terus. Aku hanya tersenyum, “Saya dengar tadi samar-samar Mbak menyebut namaku, berarti Mbak juga inginkan aku.. jujur saja.

 

” Dan aku berhasil menyambar selimutnya, lalu dengan cepat kutarik dia dan kujatuhkan di atas ranjang dan secepat kilat kutubruk tubuhnya, dan wajahnya kuhujani ciuman tapi dia terus meronta sambil berusaha mengelak dari ciumanku. Segera tanganku beroperasi di dadanya. Buah dadanya yang lumayan besar itu jadi garapan tanganku yang mulai nakal. “Ouughh jangaan Diik.. Kumohon lepaskaan..” rintihnya. Tanganku yang lain menjalari daerah kewanitaannya, bulu- bulu lebatnya telah kulewati dan tanganku akhirnya sampai di liang senggamanya, terasa sudah basah. Lalu kugesek-gesek klirotisnya dan kurojok-rojok dinding kemaluannya, terasa hangat dan lembab penuh dengan cairan mani. “Uhhh… ssss..” Akhirnya dia mulai pasrah tanpa perlawanan.

 

Nafasnya mulai tersengal- sengal. “Yaahhh… Ohhh… Jangaaann Diik, Jangan lepaskan, terusss…” Gerakan Mbak Yanti semakin liar, dia mulai membalas ciumanku bibirku dan bibirnya saling berpagutan. Aku senang, kini dia mulai yantimati permainan ini. Tangannya meluncur ke bawah dan berusaha menggapai laras panjangku, kubiarkan tangannya menggenggamnya dan mengocoknya. Aku semakin beringas lalu kusedot puting susunya dan sesekali menjilati buah dadanya yang masih kencang walaupun sudah menyusui tiga anaknya. “Yahh… teruuuss, enaakkk…” katanya sambil menggelinjang. Kemudian aku bangun, kulebarkan kakinya dan kutekuk ke atas. Aku semakin bernafsu melihat liang kewanitaannya yang merah mengkilat. Dengan rakus kujilati bibir kewanitaan Mbak Yanti. “Aaahh.. Ohhh.. enaakkk Diik.. Yaakh.. teruusss..” Kemudian lidahku kujulurkan ke dalam dan kutelan habis cairan maninya. Sekitar bulu kemaluannya juga tak luput dari daerah jamahan lidahku maka kini kelihatan rapi seperti habis disisir. Klirotisnya tampak merah merekah, menambah gairahku untuk menggagahinya. “Sudaahhh Dikk.. sekarang.. ayolah sekarang.. masukkan.. aku sudah nggak tahan..” pinta Mbak Yanti. Tanpa buang waktu lagi kukangkangkan kedua kakinya sehingga liang kewanitaannya kelihatan terbuka.

Kemudian kuarahkan batang kejantananku ke lubang senggamanya dan agak sempit rupanya atau mungkin karena diameter kemaluanku yang terlalu lebar. “Pelan-pelan Dik, punya kamu besar sekali.. ahhh…” Dia menjerit saat kumasukkan seluruh batang kemaluanku hingga aku merasakan mentok sampai dasar rahimnya. Lalu kutarik dan kumasukkan lagi, lama-lama kupompa semakin cepat. “Oughhh.. Ahhh.. Ahhh.. Ahhh..” Mbak Yanti mengerang tak beraturan, tangannya menarik kain sprei, tampaknya dia yantimati betul permainanku. Bibirnya tampak meracau dan merintih, aku semakin bernafsu, dimataku dia saat itu adalah wanita yang haus dan minta dipuaskan, tanpa berpikir aku sedang meniduri istri orang apalagi dia sedang hamil. “Ouuhh Diik.. Mbak mau kelu.. aaahhh…” Dia menjerit sambil tangannya mendekap erat punggungku. Kurasakan, “Seerrr… serrr..” ada cairan hangat yang membasahi kejantananku yang sedang tertanam di dalam kemaluannya. Dia mengalami orgasme yang pertama. Aku kemudian menarik lepas batang kejantananku dari kemaluannya. Aku belum mendapat orgasme. Kemudian aku memintanya untuk doggy style. Dia kemudian menungging, kakinya dilebarkan. Perlahan-lahan kumasukkan lagi batang kebanggaanku dan, “Sleeep..” batang itu mulai masuk hingga seluruhnya amblas lalu kugenjot maju mundur. Mbak Yanti menggoyangkan pinggulnya mengimbangi gerakan batang kejantananku. “Gimaa.. Mbaak, enak kan?” kataku sambil mempercepat gerakanku. “Yahhh.. ennakk.. Dik punyaa kamu enak banget.. Aahhh.. Aaah.. Uuuhh.. Aaahh.. ehhh..” Dia semakin bergoyang liar seperti orang kesurupan.

 

 

Tanganku menggapai buah dadanya yang menggantung indah dan bergoyang bersamaan dengan perutnya yang membuncit. Buah dada itu kuremas-remas serta kupilin putingnya. Akhirnya Aku merasa sampai ke klimaks, dan ternyata dia juga mendapatkan orgasme lagi. “Creeett.. croottt.. serrr..” spermaku menyemprot di dalam rahimnya bersamaan dengan maninya yang keluar lagi. Kemudian kami ambruk bersamaan di ranjang. Aku berbaring, di sebelah kulihat Mbak Yanti dengan wajah penuh keringat tersenyum puas kepadaku. “Terima kasih Dik, saya sangat puas dengan permainanmu,” katanya. “Mbak, setelah istirahat bolehkah saya minta lagi?” tanyaku. “Sebenarnya saya juga masih pengin, tapi kita sarapan dulu kemudian kita lanjutkan lagi.” Akhirnya selama 2 hari sabtu dan minggu aku tidak keluar rumah, yantimati tubuh montok Mbak Yanti yang sedang hamil 4 bulan. Berbagai gaya kupraktekkan dengannya dan kulakukan di kamar mandi, di dapur dan di meja makan bahkan sempat di halaman belakang karena rumahku dikelilingi tembok. Di tanah kubentangkan tikar dan kugumuli dia sepuasnya. Pada istriku kutelepon kalau aku ada tugas luar kota selama 2 hari, pulangnya hari Senin. Mbak Yanti bilang selama 2 hari itu dia betul-betul merasakan seks yang sesungguhnya tidak seperti saat dia bersetubuh dengan suaminya yang asal tubruk lalu KO. Dan Dia berjanji kalau sedang mengunjungi suaminya, dia akan menyempatkan meneleponku untuk minta jatah dariku.

 

Minggu malam kuantarkan dia ke kost suaminya tapi hanya sampai ujung gang dan tidak lupa kuberi dia uang sebesar Rp 500.000,- sebagai bantuanku pada anaknya yang sedang di rumah sakit. Setelah istriku balik ke rumah, dia menghubungiku lewat telepon di kantor dan ketemu di terminal. Kami melakukan persetubuhan disalah satu hotel murah di Surabaya atau kadang di Pantai Kenjeran kalau malam hari. Hingga kehamilannya menginjak usia 7 bulan kami berhenti, hingga sekarang dia belum memberi kabar, kalau dihitung anaknya sudah lahir dan berusia 6 bulan.

 

bercinta dengan Tetangga lagi hamil 1


 


Part 1.

Aku adalah seorang eksekutif muda yang baru diangkat menjadi manajer di sebuah perusahaan swasta di Surabaya. Sebut saja namaku Aldi, tinggi 175 cm kata orang aku mirip pemain bulu tangkis Ricky S. Kisah ini terjadi hampir setahun yang lalu. Umurku saat itu 30 tahun. Aku sudah pernah ngentot istri orang yang beristri dan beranak 2, berumur 3 tahun dan yang bungsu baru 1 bulan. Isteri dan anakku masih tinggal di Malang karena saat melahirkan anak kedua tinggal di rumah orang tuanya dan belum pulang ke Surabaya. Kisah ini terjadi saat pulang dari kerja lembur sekitar pukul 11:00 malam.Dengan mobil Baleno kesayanganku, aku menyusuri Jalan di kawasan perumahan elit yang mulai sepi karena kebetulan hujan gerimis. Ditengah perjalanan aku melihat perempuan setengah baya berdiri di bawah pohon di pinggir jalan. Aku merasa kasihan lalu aku menghentikan mobil dan menghampirinya. Aku bertanya, “Ibu sedang menunggu apa?” Dia memandangku agak curiga tapi kemudian tersenyum.

Dalam hati aku memuji, Manis juga ibu ini walaupun umurnya kelihatannya di atasku sekitar 34 -36 tahun kalau digambarkan seperti artis Misye Arsita dan saat itu perutnya agak membuncit kecil kelihatan sedang hamil muda. “Kalau ke manukan naik angkot apa ya Dik?” “Wah jam segini sudah habis Bu angkotnya, Gimana kalo saya antar?” Dia kelihatan gembira. “Apa tidak merepotkan?” “Kebetulan rumah saya juga satu arah dari sini, mari naik!” Setelah dia ikut mobilku, Ibu itu bercerita bahwa dia berasal dari Jawa Tengah, dia sedang mencari suaminya yang kebetulan baru 2 minggu kerja sebagai sopir bis jurusan Semarang-Surabaya, keperluannya ke sini hendak mengabarkan kalau anaknya yang pertama yang berumur 15 tahun kecelakaan dan dirawat di rumah sakit sehingga butuh uang untuk perawatan anaknya.

 

 

Kebetulan alamat yang di tulis oleh suaminya tidak ada nomer teleponnya. Sesampainya di alamat yang dituju kami berhenti. Setelah di depan rumah ketika akan mengetuk pintu ternyata pintunya masih digembok, lalu kami bertanya pada tetangga sebelah yang kebetulan satu profesi. “Suami Ibu paling cepat 2 hari lagi pulangnya. Baru saja sore tadi bisnya berangkat ke Semarang. Kebetulan kami satu PO.” Kemudian kami permisi pergi.

 

 

Kelihatan di dalam mobil dia sedih sekali. “Terus sekarang Ibu mau ke mana?” tanyaku. “Sebenarnya saya pengin pulang tapi.. pasti saya nanti di marahi mertua saya kalau pulang dengan tangan kosong, lagian uang saya juga sudah nggak cukup untuk pulang.” “Begini saja, Ibu kan rumahnya jauh, capek kan baru nyampek trus pulang lagi.. apalagi kelihatanya ibu sedang hamil, berapa bulan?” “Empat bulan ini Dik, trus saya harus gimana?” “Dalam dua hari ini Ibu tinggal saja di rumah saya, kan nggak jauh dari manukan nanti setelah dua hari ibu saya antar ke sini lagi, gimana?” “Yah terserah adik saja yang penting saya bisa istirahat malam ini.” “Oh ya, boleh kenalan.. nama Ibu siapa dan usianya sekarang berapa?” “Panggil saja aku Mbak Yanti, dan sekarang aku 35 tahun.” Malam itu, dia kusuruh tidur di kamar samping yang biasanya dipakai untuk kamar tamu yang mau menginap. Rumahku terdiri dari 3 kamar, kamar depan kupakai sendiri dan isteriku, sedang yang belakang untuk anakku yang pertama. Malam itu aku tidur nyenyak sekali, kebetulan malam sabtu dan di kantorku hanya berlaku 5 hari kerja jadi sabtu dan minggu aku libur. Sebenarnya aku ingin pergi ke Malang tapi karena ada tamu, kutangguhkan kepergianku minggu depan. Sekitar jam 8 pagi aku bangun, kulihat sudah ada kopi yang sudah agak dingin di meja makan serta beberapa kue di piring. Mungkinkah ibu itu yang menyajikan semua ini. Lalu setelah kuteguk kopi itu aku bergegas ke kamar mandi untuk cuci muka dan kencing.

 

 

Karena agak ngantuk aku kurang mengawasi apa yang terjadi, saat aku selesai kencing aku tidak sadar kalau di bathup Mbak Yanti sedang telanjang dan berendam di dalamnya. Matanya melotot melihat kemaluanku yang menjulur bebas, ketika aku membalik ke samping aku kaget dan sempat tertegun melihat tubuh telanjang Mbak Yanti, tubuh yang kuning langsat dan mulus itu terlihat mengkilat karena basah oleh air dan buah dadanya.. wow besar juga ternyata, 36B. Pasti empunya gila seks. Lalu mataku berpindah ke sekitar pusarnya, di atas liang senggamanya tumbuh bulu kemaluannya yang lebat. Tak sadar kemaluanku tegak berdiri dan aku lupa kalau belum mengancingkan celana, Dan Mbak Yanti sempat tertegun melihat kejantananku yang lumayan besar, panjangnya 17 cm tapi kemudian.. “Aouuww, Dik itunyaa!” kata Mbak Yanti sambil menutup buah dadanya dengan tangan serta mengapitkan kakinya.

 

 

Aku baru sadar lalu buru-buru keluar. Di kamar aku masih membayangkan keindahan tubuh Mbak Yanti. Andai saja aku bisa yantimati tubuh itu… aku malah berpikiran ngeres karena memang sudah lama aku tidak mendapat jatah dari isteriku, ditambah lagi situasi di rumah itu hanya kami berdua. Lalu timbul niat isengku untuk mengintip lagi ke kamar mandi, ternyata dia sudah keluar lalu kucari ke kamarnya. Saat di depan pintu samar-samar aku mendengar ada suara rintihan dari dalam kamar samping, kebetulan nako jendela kamar itu terbuka lalu kusibakkan tirainya perlahan-lahan. Sungguh pemandangan yang amat syur. Kulihat Mbak Yanti sedang masturbasi, kelihatan sambil berbaring di ranjang dia masih telanjang bulat, kakinya dikangkangkan lebar, tangan kirinya meremas liang kewanitaannya sambil jarinya dimasukkan ke dalam lubang senggamanya, sedang tangan kanannya meremas buah dadanya bergantian.

 

 

Sesekali pantatnya diangkat tinggi sambil mulutnya mendesis seperti orang kepedasan, wajahnya kelihatan memerah dengan mata terpejam. “Ouuuhh… Hhhmm… Ssstt…” Aku semakin penasaran ingin melihat dari dekat, lalu kubuka pintu kamarnya pelan- pelan tanpa suara aku berjingkat masuk. Aku semakin tertegun melihat pemandangan yang merangsang birahi itu. Samar- samar kudengar dia menyebut namaku, “Ouhhh Aldiii.. Sss Ahhh..” Ternyata dia sedang membayangkan bersetubuh denganku, kebetulan sekali rasanya aku sudah tidak tahan lagi ingin segera yantimati tubuhnya yang mulus walau perutnya agak membuncit, justru menambah nafsuku. Lalu pelan-pelan kulepaskan pakaianku satu-persatu hingga aku telanjang bulat.Cerita Sex 2015

 

 

Batang kemaluanku sudah sangat tegang, kemudian tanpa suara aku menghampiri Mbak Yanti, kuikuti gerakan tangannya meremasi buah dadanya. Dia tersentak kaget lalu menarik selimut dan menutupi tubuhnya. \ “Sedang apa Anda di sini!, tolong keluar!” katanya agak gugup. “Mbak nggak usah panik.. kita sama-sama butuh.. sama-sama kesepian, kenapa tidak kita salurkan bersama,” kataku merajuk sambil terus berusaha mendekatinya tapi dia terus menghindar. “Ingat Dik, saya sudah bersuami dan beranak tiga,” Dia terus menghiba. “Mbak, saya juga sudah beristri dan punya anak, tapi kalau sekarang terus terang saya sangat terpesona oleh Mbak.. Nggak ada orang lain di sini.. cuma kita berdua.. pasti nggak ada yang tahu.. Ayolah saya akan memuaskan Mbak, saya janji nggak akan menyakiti Mbak, kita lakukan atas dasar suka sama suka dan sama-sama butuh, mari Mbak!” “Tapi saya sekarang sedang hamil, Dik.. kumohon jangan,” pintanya terus. Aku hanya tersenyum, “Saya dengar tadi samar-samar Mbak menyebut namaku, berarti Mbak juga inginkan aku.. jujur saja.

 

 

” Dan aku berhasil menyambar selimutnya, lalu dengan cepat kutarik dia dan kujatuhkan di atas ranjang dan secepat kilat kutubruk tubuhnya, dan wajahnya kuhujani ciuman tapi dia terus meronta sambil berusaha mengelak dari ciumanku. Segera tanganku beroperasi di dadanya. Buah dadanya yang lumayan besar itu jadi garapan tanganku yang mulai nakal. “Ouughh jangaan Diik.. Kumohon lepaskaan..” rintihnya. Tanganku yang lain menjalari daerah kewanitaannya, bulu- bulu lebatnya telah kulewati dan tanganku akhirnya sampai di liang senggamanya, terasa sudah basah. Lalu kugesek-gesek klirotisnya dan kurojok-rojok dinding kemaluannya, terasa hangat dan lembab penuh dengan cairan mani. “Uhhh… ssss..” Akhirnya dia mulai pasrah tanpa perlawanan.

 

 

Nafasnya mulai tersengal- sengal. “Yaahhh… Ohhh… Jangaaann Diik, Jangan lepaskan, terusss…” Gerakan Mbak Yanti semakin liar, dia mulai membalas ciumanku bibirku dan bibirnya saling berpagutan. Aku senang, kini dia mulai yantimati permainan ini. Tangannya meluncur ke bawah dan berusaha menggapai laras panjangku, kubiarkan tangannya menggenggamnya dan mengocoknya. Aku semakin beringas lalu kusedot puting susunya dan sesekali menjilati buah dadanya yang masih kencang walaupun sudah menyusui tiga anaknya. “Yahh… teruuuss, enaakkk…” katanya sambil menggelinjang. Kemudian aku bangun, kulebarkan kakinya dan kutekuk ke atas. Aku semakin bernafsu melihat liang kewanitaannya yang merah mengkilat. Dengan rakus kujilati bibir kewanitaan Mbak Yanti. “Aaahh.. Ohhh.. enaakkk Diik.. Yaakh.. teruusss..” Kemudian lidahku kujulurkan ke dalam dan kutelan habis cairan maninya. Sekitar bulu kemaluannya juga tak luput dari daerah jamahan lidahku maka kini kelihatan rapi seperti habis disisir. Klirotisnya tampak merah merekah, menambah gairahku untuk menggagahinya. “Sudaahhh Dikk.. sekarang.. ayolah sekarang.. masukkan.. aku sudah nggak tahan..” pinta Mbak Yanti. Tanpa buang waktu lagi kukangkangkan kedua kakinya sehingga liang kewanitaannya kelihatan terbuka.

 

 

Kemudian kuarahkan batang kejantananku ke lubang senggamanya dan agak sempit rupanya atau mungkin karena diameter kemaluanku yang terlalu lebar. “Pelan-pelan Dik, punya kamu besar sekali.. ahhh…” Dia menjerit saat kumasukkan seluruh batang kemaluanku hingga aku merasakan mentok sampai dasar rahimnya. Lalu kutarik dan kumasukkan lagi, lama-lama kupompa semakin cepat. “Oughhh.. Ahhh.. Ahhh.. Ahhh..” Mbak Yanti mengerang tak beraturan, tangannya menarik kain sprei, tampaknya dia yantimati betul permainanku. Bibirnya tampak meracau dan merintih, aku semakin bernafsu, dimataku dia saat itu adalah wanita yang haus dan minta dipuaskan, tanpa berpikir aku sedang meniduri istri orang apalagi dia sedang hamil. “Ouuhh Diik.. Mbak mau kelu.. aaahhh…” Dia menjerit sambil tangannya mendekap erat punggungku. Kurasakan, “Seerrr… serrr..” ada cairan hangat yang membasahi kejantananku yang sedang tertanam di dalam kemaluannya. Dia mengalami orgasme yang pertama. Aku kemudian menarik lepas batang kejantananku dari kemaluannya. Aku belum mendapat orgasme. Kemudian aku memintanya untuk doggy style. Dia kemudian menungging, kakinya dilebarkan. Perlahan-lahan kumasukkan lagi batang kebanggaanku dan, “Sleeep..” batang itu mulai masuk hingga seluruhnya amblas lalu kugenjot maju mundur. Mbak Yanti menggoyangkan pinggulnya mengimbangi gerakan batang kejantananku. “Gimaa.. Mbaak, enak kan?” kataku sambil mempercepat gerakanku. “Yahhh.. ennakk.. Dik punyaa kamu enak banget.. Aahhh.. Aaah.. Uuuhh.. Aaahh.. ehhh..” Dia semakin bergoyang liar seperti orang kesurupan. Cerita Sex 2015

 

 

Tanganku menggapai buah dadanya yang menggantung indah dan bergoyang bersamaan dengan perutnya yang membuncit. Buah dada itu kuremas-remas serta kupilin putingnya. Akhirnya Aku merasa sampai ke klimaks, dan ternyata dia juga mendapatkan orgasme lagi. “Creeett.. croottt.. serrr..” spermaku menyemprot di dalam rahimnya bersamaan dengan maninya yang keluar lagi. Kemudian kami ambruk bersamaan di ranjang. Aku berbaring, di sebelah kulihat Mbak Yanti dengan wajah penuh keringat tersenyum puas kepadaku. “Terima kasih Dik, saya sangat puas dengan permainanmu,” katanya. “Mbak, setelah istirahat bolehkah saya minta lagi?” tanyaku. “Sebenarnya saya juga masih pengin, tapi kita sarapan dulu kemudian kita lanjutkan lagi.” Akhirnya selama 2 hari sabtu dan minggu aku tidak keluar rumah, yantimati tubuh montok Mbak Yanti yang sedang hamil 4 bulan. Berbagai gaya kupraktekkan dengannya dan kulakukan di kamar mandi, di dapur dan di meja makan bahkan sempat di halaman belakang karena rumahku dikelilingi tembok. Di tanah kubentangkan tikar dan kugumuli dia sepuasnya. Pada istriku kutelepon kalau aku ada tugas luar kota selama 2 hari, pulangnya hari Senin. Mbak Yanti bilang selama 2 hari itu dia betul-betul merasakan seks yang sesungguhnya tidak seperti saat dia bersetubuh dengan suaminya yang asal tubruk lalu KO. Dan Dia berjanji kalau sedang mengunjungi suaminya, dia akan menyempatkan meneleponku untuk minta jatah dariku.

 

 

Minggu malam kuantarkan dia ke kost suaminya tapi hanya sampai ujung gang dan tidak lupa kuberi dia uang sebesar Rp 500.000,- sebagai bantuanku pada anaknya yang sedang di rumah sakit. Setelah istriku balik ke rumah, dia menghubungiku lewat telepon di kantor dan ketemu di terminal. Kami melakukan persetubuhan disalah satu hotel murah di Surabaya atau kadang di Pantai Kenjeran kalau malam hari. Hingga kehamilannya menginjak usia 7 bulan kami berhenti, hingga sekarang dia belum memberi kabar, kalau dihitung anaknya sudah lahir dan berusia 6 bulan.

Cerita Sex Ngentot Tetangga lagi hamil – Aku adalah seorang eksekutif muda yang baru diangkat menjadi manajer di sebuah perusahaan swasta di Surabaya. Sebut saja namaku Aldi, tinggi 175 cm kata orang aku mirip pemain bulu tangkis Ricky S. Kisah ini terjadi hampir setahun yang lalu. Umurku saat itu 30 tahun. Aku sudah pernah ngentot istri orang yang beristri dan beranak 2, berumur 3 tahun dan yang bungsu baru 1 bulan. Isteri dan anakku masih tinggal di Malang karena saat melahirkan anak kedua tinggal di rumah orang tuanya dan belum pulang ke Surabaya. Kisah ini terjadi saat pulang dari kerja lembur sekitar pukul 11:00 malam.Dengan mobil Baleno kesayanganku, aku menyusuri Jalan di kawasan perumahan elit yang mulai sepi karena kebetulan hujan gerimis. Ditengah perjalanan aku melihat perempuan setengah baya berdiri di bawah pohon di pinggir jalan. Aku merasa kasihan lalu aku menghentikan mobil dan menghampirinya. Aku bertanya, “Ibu sedang menunggu apa?” Dia memandangku agak curiga tapi kemudian tersenyum.

BERSAMBUNG.