Kamis, 04 Juni 2026

guru SD yang suka bercinta

 


 

Di cerita kali ini aku akan menceritakan sebuah kisahku, sebelum, itu perkenalkan namaku Yanti dan aku masih berumur 25 tahun dan kini aku bekerja sebagai Guru SD di jawabarat. Aku sangat hobi sekali dengan yang namanya mansturbasi dengan membayangkan k****l teman sekantorku dan bererbagai fantasi yang sangat aku idam kan, apalagi semenjak aku jomblo hampir setahun ini. Dan beginilah, belakangan ini jika sedang h***y aku tidak kenal tempat untuk memuaskan gejolak birahiku. Balik ke cerita tadi… Sangkin nikmatnya m********i di toilet sekolah, aku sampai tidak menyadari kalau pintu toilet meski kututup tapi tidak kukunci. Aku semakin tidak peduli, yang kutahu aku harus memuaskan birahiku yang sedang terbakar, kucoba menahan desahanku, meski terlepas juga terlepas dari desahan kecil dari bibir tipisku. “sshh..emhhh”, desakan kecil dari bibir tipisku. Aku membayangkan bercinta dengan pak Oki, guru olah raga baru di sekolah tempatku bekerja, pak Oki sungguh tampan dan tubuhnya sangat kekar, siang hari memperhatikannya yang sedang memberi petunjuk cara meregangkan otot kepada murid kelas 6 SD. ototnya begitu keakar, belum lagi ada tonjolan yang menggelembung di antara pahanya. Terus terbayang-bayang, aku jadi ga kaut lagi menahan birahiku sampai akhirnya di toilet sekolah ini jam pelajaran berakhir dan sekolah sudah sepi. Aku membayangkan bercinta dengan pak Oki di toilet ini, mengawasinya yang besar di vaginaku dari arah belakang, mendorong tubuhku sehingga aku memaksa tubuhku untuk tembok dan sedikit menungging. Aku mempraktekkannya seolah-olah semuanya nyata, satu tangan bertopang di dinding dan yang lain membelai klitorisku dari depan. ‘uuuh pak oki’, desisku pelan. aku terus mengejar kenikmatan, keringatku mulai keluar dari atas keningku. Tidak lama saya merasa hampir tiba di ujung kenikmatan itu, namun tiba-tiba, ‘braaak’, toilet tiba-tiba terbuka. ‘bu Yanti’, kata orang yang berdiri di depan pintu toilet dengan mata yang tidak berkedip melihatku. Aku kaget, ‘pak parman ehhhh…’, kataku kaget ketika melihat pak parman, cleaning service sekolah yang umurnya sekitar 40 tahun. Sangkin kaget dan tidak tahu melakukan apa saya jongkok merapatkan kakiku sangkin kagetnya, namun kami berada di antara selangkanganku, begitu kaget sampai luapa menarik tanganku. ‘pak parmaan keluar’, kataku dengan suara pelan. Kurang terbuka benar, keluar tapi malah cepat masuk dan menutup pintu kamar toilet dan menguncinya. ‘ngapain pak… keluar,’ perintahku dengan tetap berjongkok sambil merapikan rok ku ke bawah yang tadinya tersingkap sampai ke pinggul. ‘Bu Yanti’, kata parman sambil mendekatiku dan mendekap tubuhku. Aku bertambah kaget, tapi aku tdak berani berteriak, aku takut ada orang yang mengetahui kalau aku m********i di toilet sekolah. ‘jangaan pak’, kataku berusaha melepaskan dekapannya, kugeser tubuhku untuk melepaskan diri dari dekapannya, namun dia tetap mendekapku sampai aku menabrak dinding. ‘jangan paak’, kataku takut, dia tidak mendengarkanku, bahkan dia mendekati wajahnya dan menciumi leherku, ‘jangaaan’, kataku lagi. Melihat parman yang begitu beringas dengan mengalirkan nafas dan menciumi leherku dan mulai meraba raba buah dadaku. Aku menyadari kalau aku terjebak, aku berusaha melawan, dengan tenaga aku dorong tubuhnya, berhasil, dia terjatuh di lantai toilet. Aku langsung mengambil kesempatan, berdiri ke arah pintu, namun ketika aku mencoba membuka grendel pintu toilet. Tanganku terputus oleh tangan parman yang kekar, ‘lepaskan’, kataku, namun parman yang sudah kesetanan itu tidak mendengarkanku, dia malah memutar tangan kananku ke belakang tubuhku dengan paksa, menekan tangan kiriku didinding. Aku terjebak, tenaganya kuat sekali, seperti terkunci dan tidak bisa bergerak, ‘pak parmman jangan…sakit..lepaskan’, kataku memohon dengan suara memelas. ‘bu Yanti… biarkan aku…’, katanya didekat telingaku, dengusan nafasnya sampai terasa menerpa telingaku. “ahhh”, aku memohon lagi begitu mengetahui tubuh kekarnya menekan tubuhku kedinding. Aku sangat takut, ketika merasa ada benda yang keras kenyal menabrak bokongku. ‘ahh k*ntolnya udah tegang, dia akan memperkosaku’, jerit batinku Aku semakin memberontak berusaha melepaskan kuncian tangan yang menahan kedua tanganku. ‘sebaiknya bu Yanti jangan berisi, nanti ada orang yag dengar, biarlah saya dipukuli tetapi saya akan cerita ke semua orang kalau ibu Yanti m********i di kamar mandi’, mengancam, aku mengurangi perlawananku, ancamannya begitu mengena. Apalagi di sekolah yang aku kenal sebagai wanita anggun yang berkarisma. Aku mendukung perjuanganku…berpikirlah. Kesempatan itu tidak disiakannya, tangan kananku diletakkan di atas merapat dindinding bersatu dengan tangan kiriku, dengan tangan kirinya dia menahan kedua tanganku. ‘jangan paak, kumohhhon jangaan’, aku memelas kepadanya. Tapi sia-sia, tangan kanannya sudah bebas meraba raba buah dadaku, dia memeras buah dadaku keras sekali. Ingin rasanya menangis tapi aku takut malah ada yang dengar. “aahh bu Yanti..toked bu Yanti gede banget emmhh’, kata-kata kotor yang memuji pujian keluar dari.Kurang puas meraba buah dadaku yang masih menutup baju, dia menarik mundurku ke atas dari dalam rokku. Tangannya yang kasar mulai terasa meraba raba perutku, ‘ammpuun pakQ’, kucoba lagi memohon ketika dia mulai memeras buah dadaku. ’emmh bu Yanti, gede banget t***t bu Yanti”, katanya lagi dengan berbisik dari belakang, dengusan nafasnya yang berderu menandakan dia sangat bernafsu. Dan aku bisa merasakan penisnya sudah sangat keras sekali menabrak p****t pantatku. Ini semua menandakan dia benar-benar sudah sangat ingin menyetubuhiku. ‘Bu Yanti ijinkan saya ngent*tin bu Yanti’, bisiknya pelan sambil menarik rokku ke atas. Aku cukup baik, tetapi tenagaku tidak kuat melepaskan kuncian tangan. ‘Pak..jangan panggangi aku’, kataku memelas. menentukan yang apapun katakan tidak dapat membendung nafsu setannya, tidak kurasakan tangan kanannya meraba raba badan. penasaran apa yang ada. aku menoleh ke belakang dan alangkahnya kaget.. ‘oooh jangan pak’, aku panik ketika melihat ke belakang dia mengeluarkannya, meski tidak begitu jelas aku bisa melihat penisnya yang besar dan hitam legam sudah keluar dari sarangnya. Belum hilang rasa kagetku, Parman menekan tubuhku, merasakan benda kenyal dan keras mengesek dan menabrak pantatku. ‘Aduuh p****t bu Yanti montok banget’, katanya meremas pantatku. Aku terkaget, aku baru jika saat m********i tadi aku melepas celana dalamku dan celana dalamku masih tergantung di pintu toilet. ‘Gawat neh’, pekikku dalam hati mengetahui bokongku tidak dibaluti kain ini. Pasti dia dengan mudah menemukan sasaran tembaknya apa lagi vaginaku mengeluarkan cairan karena m********i tadi, aku menjadi panik kembali, aku takut membayangkannya. Kucoba lagi memberontak, tapi tetap sia sia. Aku pasrah, rasanya tidak mungkin lepas, kurasakan ada benda kenyal sedang menggesek belahan vaginaku yang licin seperti mencari cari sasaran. Akhirnya benda itu berhenti tepat di mulut lubang vaginaku setelah mendapatkan sasaran tembak, k*ntol parman sudah berada tepat di depan mulut vaginaku, aku sungguh tidak berdaya. ‘Pak parman ampun pak’, kataku memohon lagi menyadari dalam hitungan detik penisnya akan segera masuk ke dalam tubuhku. ‘Bu Yanti udah lama saya pengen giniin bu Yanti, bu Yanti seksi banget’, katanya dan tiba-tiba kurasakan penisnya masuk, panik mencoba melawan sengan sisa harapanku, terlepas tapi malah karena gerakan p***s itu malah mulai aku panik mencoba melawan sengan sisa harapanku, terlepas tapi malah karena gerakan itu malahan masuk ke dalam lubang vaginaku, ‘aaaah tidaaak’, pekikku dalam hati ketika kurasakan penisnya terasa terbenam matahari terbenam vaginaku. Aku menarik nafas, ingin rasanya menangis. Sungguh sia-sia, vaginaku yang sudah basah ketika aku m********i tadi malah memudahkan batang itu masuk, tapi kupikir itu lebih baik, jika tidak mungkin vaginaku bisa terinfeksi karena ada benda yang memaksa masuk, berkat cairan yang sebelumnya memang sudah membanjiri vaginaku, p***s parman yang besar itu pun masuk secara perlahan menggesek dinding lubang vaginaku secara perlahan. ’emmmh bu Yanti, v****a bu Yanti enak banget, ooohhh’, desahnya didekat telingaku ketika penisya dibenamkan sedalam mungkin dan terasa menyentuh rahimku, Ya ampuuun panjang banget p***s laki laki ini, ampuuun’, pekikku dalam hati. Aku berharap p***s itu udah mentok karena terasa sangat keras menabrak rahimku dan terasa sedikit perih karena jujur ​​aja belum pernah ada benda sebesar itu masuk ke vaginaku. Ketika batangan itu amblas, aku terdiam, antara bingung, takut, kagum, nikmat dan kaget. Semuanya berkecamuk dikepalaku… aku benar-benar terdiam, tidak bergerak. Aku pasrah, tidak mengeluarkan satu kata pun, tidak kusangka khyalanku bercinta di toilet sekolah, dan disetubuhi dari belakang kesampean juga, tapi bedanya bukan dengan pak oki dan aku tidak menginginkan ini terjadi. Tapi sebenarnya, laki laki yang sedang mendesah desah di belakangku, yang sedang membenamkan batangannya di lubang surgaku yang berharga adalah pegawai kebersihan alias cleaning service di sekolah kami. Kenyataan yang harus kuterima, parman sedang menikmati vaginaku, menikmati penisnya keluar masuk di lubang lubangku. oooh bu Yanti…ohhh enaknya’, desah parman ga karuan berkali kali ’emmmh’, aku mendesis kecil, meski aku tidak suka tapi tiba-tiba aku merasakan rasa nikmat meski tersamar oleh rasa takutku. Parman terus mengocok penisnya tanpa henti, begitu dalam melesat masuk di lubang vaginaku. Kedua saya masih ditahan oleh tangan yang kekar di dinding toilet. ‘oooh ya ampppuuun penisnya teraasa banget’, teriakku dalam hati. Ketika saya mulai tenang, saya menyadari kalau p***s parman memang besar dan keras sekali, bertumpu dan tusukan penisnya begitu mantap memenuhi lubang vaginaku. Terasa banget ada benda yang mengganjal selangkangku, mulai menebarkan rasa nikmat yang menjalar di seluruh tubuhku. Diam diam aku mulai menikmati diperkosa pria ini, setiap kali dia menggerakkan batang penisnya, darahku berdesir, sungguh luar biasa nikmat yang kudapat. Ketika dia menancapkan penisnya kembali ke dalam liangku, aku mendesis pelan, kucoba tidak mengeluarkan suara, aku terlalu sombong untuk mengakui kalau batangan itu sungguh memberikan kesenangan, tapi tetap saja keinginan kecil keluar dari bibirku. ‘mmmh mmmmh’, desisku pelan. ‘enakkan bu?, katanya tiba tiba. Ternyata dia mengetahui kalau saya mulai menikmati tusukan penisnya. Aku terdiam malu, tidak berani berkomentar, kalau kubilang tidak atau memaki makinnya, pasti tahu aku bohong karena vaginaku sudah mengeluarkan banyak cairan yang menandakan aku juga terangsang dan menikmati enjotan penisnya. Aku memperhatikan dan mencoba dan memperhatikan hal yang mengecup pipi kananku. ‘Tunggingin dikit bu Yanti’, sambil menarik pantatku ke atas. ‘Kurang ajaaar… beraninya dia malah menyuruhku menungging’, umpatku dalam hati. Tapi aku tidak punya pilihan selain menyelesaikan birahinya secepat mungkin, dan berharap agar semuanya secepat mungkin berakhir. Aku ikuti saja kemauannya dengan menunggingkan pantatku. ’emmh p****t bo Yanti memang montok banget, ga salah apa yang aku khayalin selama ini’, katanya sambil meremas remas pantatku gemas. ‘Gila, ternyata aku sudah lama jadi fantasi laki laki ini’, pikirku dalam hati. Merasa posisiku sudah siap, sambil tangan kirinya menahan pinggulku, dia kembali menggerakkan penisnya kembali. ’emmh pak pelan’, kataku kurasakan penetrasi penetrasi penisnya terasa lebih dalam dari sebelumnya,mungkin karena aku menunggingkan pantatku sehingga posisi vaginaku benar-benar bebas hambatan. Parman tidak memperlambatnya, malah merusaknya, saya mulai mendesah-desah masih menjaga sikapku, ’emmh emmmh’, desisku merasakan benturan batangannya di lubang vaginaku. Melihat yang terdorong mendorong kedepan, parman sepertinya sengaja mendorong kedua tanganku sehingga aku dapat menahan tekanan pada tubuhnya, dengan kedua kami bertumpu pada tembok. ’emmmh gila seret banget’, erangnya. Kini kedua-tangannya meremas remas bokongku yang bulat padat sambil tidak berhenti mengocok penisnya. ‘ooh bu oooh’, parman semakin keras mendesah, aku jadi takut kalau-kalau ada orang yang mendengar desahannya itu. “pak parman..ja..jangan berisik pak..”, kataku memohon takut desahannya didengar orang. ‘I..i..iya bu emhh abis enak banget’, katanya pelan dengan nafas menderu. Kocokan penisnya terasa semakin cepat. Kurang puas meremas-remas bokongku, dia menguakkan belahan pantatku. dan kurasakan satu jarinya membelai anusku. Kontan aja aku menggeliat, pantatku bergoyang ke kanan ke kiri karena kegelian. ‘oooh pak parman..oooh’, aku bukan lagi mendesis tetapi desahan mulai keluar dari bibirku, rasa nikmat yang tercipta dari kocokan p***s parman ditambai gesekan jarinya yang membelai anusku seperti racikan yang pas membuat aku lupa diri, dan membuatku tidak dapat membendung desahanku. Hebat sekali, rasanya aku mulai benar benar menikmati semua ini, tubuhku terasa sangat geli, kenikmatan rasanya menyebar diseluruh tubuhku.‘oooh ahhh’, aku semankin menggila desahanku bertambah keras saja, parman bukan saja hanya membelai anusku dengan jarinya tetapi memasukkan satu jarinya ke anusku dan menusuk nusuk jarinya ke anusku, refleks pantatku semakin kutungingin, tiap kali dia menarik penisnya dia membalasnya dengan menusukkan jarinya ke anusku. Jujur saja terlintas dibenakku untuk melakukan anal s*x dengan pak parman, seperti yang dulu pernah kulakuan dengan pacarku. Parman semakin mengerang tak karuan, tidak kuhiraukan lagi apa yang dikatakan parman, rasanya aku sudah mau o*****e. ‘saya mau keluar..ahh bu Yanti’, kudengar samar samar erangannya, namun tidak kupedulikan karena aku juga merasa sudah mau o*****e. ‘ooh emmmh oooh’ desahku lebih keras, kurapatkan tubuhku kedinding, parman mengikuti tubuhku dan menekan keras keras penisnya kedalam vaginaku, bahkan dia menusuk jarinya sampai amblas didalam anusku ‘ahhhh setaaan kau parmaaaaan’, lirihku panjang, aku o*****e, aku tidak dapat menahannya, sungguh luar biasa aku bisa o*****e ketika diperkosa. Kutelan air liurku menikmati sisa kenikmatan, masih kurasakan p***s parman memenuhi liangku, tetapi tidak kurasakan lagi jari parman di anusku, kedua tangannya memegang pantatku dan memompa penisnya dengan ganas. oooh bu Yanti oooh’, tiba tiba parman mengerang keras dan menekan tubuhku keras, aku kaget menyadari dia mau o*****e, tapi terlambat, diringi erangannya, k*ntol parman sudah menyemburkan s****a hangat menyirahi rahimku. Berkali kali dia mengehentakkan penisnya dalam-dalam membuat tubuhku terdorong ke tembok. ‘ooooh emmmh’, entah kenapa aku ikut menikmati sensasi ketika parman o*****e di liangku, denyutan-denyutan kecil batang k*ntolnya terasa di sinding lubang vaginaku ketika cairan hangat spermanya berhamburan keluar menyirami lubangku. ‘Ahhh apa yang kulakukan? Parman o*****e di vaginaku’, pekikku dalam hati. Aku tersadar kembali, kurapatkan tubuhku kedinding dan menarik nafasku, aku teringat kalau aku memang sudah mau haid, aku hanya bisa berharap spermanya tidak membuahi telur dirahimku. ‘ahh bu Yanti emmh’, dia mencoba mencium pipiku tapi kudorong dengan mata melotot. Melihatku protes, dia segera merapikan pakaiannya tanpa membersihkan k*ntolnya yang masih dilumuri cairan vaginaku. ‘Cepat keluar pak’, kataku dengan suara lantang sambil merapikan posisi rokku. Parman tanpa berkata apa apa langsung keluar dan kukunci pintu toilet. Aku langsung membersihkan kemaluanku dari cairanku sendiri dan s****a parman yang mengalir keluar, ‘gila..banyak banget spermanya’, umpatku dalam hati. Aku mengenakan celana dalam dan merapikan baju yang kukenakan. Aku mengendap endap toilet dengan hati berdebar, takut ada orang yang mengetahui apa yang terjadi tadi di toilet. Suasana sekitar sekolah sepi, memang saat itu sudah hampir jam 4 sore. Dengan hati berdebar aku memasuki ruangan guru, melihat kepala sekolah dan 2 orang guru belum pulang lagi sibuk dengan urusan masing-masing. Aku sedikit bernafas lega meski perasaan kotor masih ada dipikiranku. Dan sore itu aku pulang kerumah dengan perasaan yang tidak menentu antara malu, dan takut. sampai di rumah aku bertemu anak anak aku dan bertanya, mamah kemana aja ko lama dan aku menjawab mamah ada miting di sekolah, papaah mana, tanya kepada anak aku papah belum pulang , oooh ya udah, kalu langsung bergegas mandi karena habis bercinta dengan parman karena aku yakin badan aku bau keringatcdan s****a parman yang sangat ganas menggenjot aku, aku mandi dan terus tertidur pulas tak terasa jam menunjukan pukul 7 malam dan aku keluar untuk makan dan ada suamiku bertanya ko kamu seperti kecapean, aku membuat alasan, ya di sekolah da miting samapai sore jadi aku ngantuk, malam pun tiba. sayang.. suamiku berkata padaku sayang.. papah ingin bercinta donk mah, dalam hatiku, aduh pagi tadi aku habis di genjot sama si parman masa malam ini aku harus melayani suamiku juga, kaya apa jadinya vaginaku aku dong sayang, dengan terpaksa aku melayani suami aku, dari mulai melumat bibir sampai ke v****a ku, aku mulai mengerang lagi, ah pah ah pah terus pah, aku merasa nafsu birahi naik lagi, setelah tadi aku bercinta dengan parman, ah ...ah..., p***s suamiku kecil tapi panjang, ooh sayang... enak sayang...sambil berbisik kecil di telingaku. ayo...pah sebentar lagi mamah mau kelaur nih, langsung suamiku tancap gas dengan kecepatan 320km/jam menggejot aku tanpa henti, akhirnya kita keluar bersamaan. sekian episode ini nantikan episode selanjutnya ANAK SMA YANG SUKA BERCINTA Dari beberapa sepupu aku yang cewe, ada satu sepupu gw yang paling genit. Sebut saja namanya Anna. Anna ini terpaut 4 tahun sama aku, berkulit putih dengan tubuh yang bisa dikatakan cukup menarik dan cukup seksi. Karena penampilan yang cukup menarik, aku suka sesekali ngelirik kearah Anna. Jika ada pertemuan keluarga senantiasa aku bisa ngelirik dia sembari malu-malu. Terakhir yang gw tahu dari nyokap aku sendiri, Anna menyukai aku. saat, aku disuruh anna bantuin buat design logo acara skolah dia. Saat itu, aku di kuliah serta anna di sma. Kebetulan ditinggal orang tempat tinggal, gw serta anna berduaan di kamar aku karna computer aku berada di kamar. ko, mengapa koko lom miliki pacar? ”, bertanya anna memecah situasi.aku yang sekali lagi serius hanya bengong sembari melihat ke anna serta aku kaget karna mukanya deket banget am aku sampai aku dapat kerasa nafasnya dia (untung nafasnya gak bau hehehe). Dikit deg2an juga aku ngeliat muka manis anna yang deket banget. “eh.. tidak saja.. maksud koko, belum mau”, jawab aku sekenanya sembari meneruskan kerjaannya. Beberapa puluh menit lewat serta rupanya anna mulai pegal karna dia duduk di kasur aku di lantai serta komputernya di deket kasur aku. Sekian kali anna mesti mengubah tempat serta terkadang dia ajukan pertanyaan masalah bentuk logonya. Tak tahu disengaja atau tidak, setiap kali dia ganti tempat duduk, tentu lengan kiri aku nyenggol payudaranya yang sekel. Berkali kali disenggol, batang aku merespon. Mulai on aku. Curi2 pandang, aku buka belahan kaos anna. Siang itu dia pakai hotpants hitam serta atasan putih longgar, buat aku dapat ngeliat bebas kedalam pakaiannya. aku dapat intip bra biru anna yang sepertinya kekecilan nampung payudaranya yang putih bulat. ih na, janganlah nempel2 gitu dong” “napa ko? ” “gak enak saja. Itu anda nempel di aku” “apaan saya ko? ” “tuh.. p******a kamu”, jawab saya sekenanya sembari tetaplah simak monitor. Diam sesaat. “emang mengapa jika nempel? ” “ya jadi buat ingin, siapa tau naa” “pengen apa? ” “ya ingin megang hehehe” “koko ingin megang toked saya? ” Saya terkesiap. Saya nengok ke samping. Anna tengah tegak duduknya dengan cetakan p******a bulat serta muka anna yang kemerahan. emang bisa? ” “boleh ko”, lanjut anna sembari segera ngambil tangan kiri aku serta dia taruh di payudaranya yang empuuuk banget. Tanpa ada tunggulah lama, aku segera remes p******a anna. sshhhhhh…….. koko…….. aaaaahhhhhhhhhh……mmmmmhhhhhhh h” “dua duanya bisa na? ” “sssshhh…. iyaahh…boleh…. ” Saat ini, 2 tangan aku telah repot meremas p******a anna yang bener2 sekel. Tidak senang disitu, aku minta ijin untuk meremas dari dalam. Anna dengan mudah mengiyakan keinginan aku serta tangan kanan gw mulai turun mencari ujung kaos serta mulai merambat masuk kaos anna serta temukan bra anna. aku remes serta aku gesek2. lanjut di episode selanjutnya

 


Hilangnya Kalung keponakan istri


 


 

Damian terkejut melihat Vera memergoki mereka. Dia langsung melepaskan pelukannya pada Danira. Sedangkan Danira terlihat biasa saja tanpa rasa takut sama sekali. "Sa.. sayang. sejak kapan kamu berada disana? " tanya Damian gugup. Vera berjalan menghampiri mereka dan berdiri tepat di hadapannya. "Sejak tadi mas? kenapa kalian berpelukan seperti itu? " tanya Vera curiga. "Maaf tante tadi aku terjatuh dan om Damian langsung menangkap tubuhku. Dia tidak sengaja memelukku" jawab Danira bohong. "Astaga kenapa kamu bisa jatuh sih Danira. Lalu kenapa kamu gak pakai baju mas? " tanya Vera lagi. "Aku kepanasan diluar panas sekali jadi aku sengaja membuka bajuku" jawab Damian beralaskan. Vera percaya saja karena memang udara di luar panas sekali. "Oh yasudah kalau begitu mas. Aku mau ke kamar dulu mau istirahat" Vera berjalan masuk ke dalam kamarnya meninggalkan mereka berdua. Damian menghela nafas legah hampir saja mereka ketahuan. *** Vera memperhatikan keponakannya yang setiap hari wara-wiri di depan mereka dengan baju yang minim. Awalnya dia biasa saja tapi Vera menyadari tatapan suaminya pada Danira. Vera sengaja datang ke kamar Danira untuk menasehati keponakannya agar bisa berpakaian lebih sopan. "Danira tante mau ngomong sama kamu. Apa bisa kamu memakai baju yang lebih sopan kalau di hadapan suami tante" ucap Vera sedikit cemburu apalagi saat mengingat kejadian di pesta ulang tahun pernikahan mereka kemarin. "Apa yang salah dengan pakaianku tante? bukannya selama ini tante tidak pernah mempermasalahkannya? apa tante cemburu denganku? om Damian itu cinta banget loh sama tante" tanya Danira pura-pura tidak mengerti. "Kamu benar.. Damian hanya mencintaiku tapi tetap saja kamu harus bisa menjaga sikapmu dan mulai besok tante tidak ingin kamu memakai baju seperti itu di depan Damian" ucap Vera memperingatinya. "Baiklah tante maafkan aku" ucap Danira seraya tersenyum tanpa beban. "Yasudah kalau begitu tante mau belanja dulu" Setelah Vera pergi Danira hanya tersenyum licik karena berhasil memancing kecemburuannya. Danira tidak puas. Dia ingin Vera lebih menggila lagi. Esok harinya Vera mengamuk sampai mengumpulkan para pembantunya karena kalung berlian miliknya hilang. "Mengaku kalian!! siapa yang sudah mencuri kalungku!! " tanya Vera. Dia sudah mengecek CCTV yang mengarah ke kamarnya tapi CCTV nya malah rusak. "Ka.. kami tidak tau nyonya sumpah kami tidak pernah mencuri selama ini" jawab mereka dengan jujur. Disaat sedang kisruh Danira muncul dengan mengenakan kalung berlian yang melingkar di lehernya. Vera tak menyangka ternyata keponakannya sendiri yang sudah mencuri kalungnya. "Danira!! itu kalungku!! kenapa kamu mencurinya?! " tanya Vera marah. "Ini kalung milikku tante" Danira tidak mengakui jika kalung yang dipakai olehnya adalah milik tantenya. "Tidak mungkin!! kalung itu mahal dan unlimited!! kamu tidak mungkin bisa memilikinya!! kemarikan!! " Vera menarik kalung yang dipakai oleh Danira hingga lehernya terluka dan berdarah. Di saat yang sama Damian pulang kerumah dan melihat keributan yang sedang terjadi. Danira langsung menangis sambil memegangi lehernya yang sakit. "Ahkk !! sakit hiks hiks hiks sakit" tangis Danira. "VERA!! apa yang kamu lakukan pada Danira?! " Damian sangat marah dengan perlakuan Vera pada Danira. Dia langsung menghampiri Danira lalu memeluknya di depan istrinya sendiri. "Dia sudah mencuri mas!! ini kalungku!! dia tidak mau memberikan kalung ini padaku!! " ucap Vera sambil menunjukkan kalung berlian di tangannya. "Kalung? apa kamu sudah mencarinya lebih dulu?! Danira tidak mungkin mencuri kalung milikmu!! " Damian lebih mempercayai Danira dibandingkan dirinya hingga membuat Vera makin marah dan geram saja. "Nyonya!! " salah seorang pembantu menghampiri mereka dan menyerahkan kalung berlian milik Vera yang ternyata ada di kantung mantelnya. "Ke.. kenapa bisa ada kalung yang sama? " tanya Vera bingung. "Itu hanya kalung imitasi tante" ucap Danira dengan bibir bergetar menahan tangisnya. "Kamu harus minta maaf pada Danira!! bisa-bisanya kamu menuduh keponakanmu sendiri Vera" ucap Damian kecewa pada istrinya. Bisa-bisanya Vera menuduh Danira padahal Danira adalah keponakannya sendiri. "Danira maafkan tante ya" ucap Vera merasa bersalah. Danira hanya mengangguk tanpa menjawabnya. Damian langsung menggendong Danira ala bridal di depan Vera dan para pembantunya. Vera terlihat cemburu melihat perhatian suaminya kepada keponakannya. Damian membawa Danira pergi ke kamarnya. Diam-diam Danira tersenyum sambil menyembunyikan wajahnya di d**a bidang Damian. Di dalam kamarnya Damian mengobati luka di leher Danira. Danira meringis kesakitan saat Damian meneteskan obat merah di sana lalu membalutkannya dengan kain kasa. "Aku akan telepon dokter ya" ucap Damian khawatir. Bisa saja luka itu akan berbekas nantinya. "Tidak usah tolong temani aku disini" Danira memeluk Damian agar tidak pergi meninggalkannya. "Baiklah aku akan tetap ada disini.Maafkan Vera ya dia memang suka berbuat seenaknya tapi sebenarnya dia orang yang baik" ucap Damian sambil memeluknya. "Iya om tante cuma salah paham aja kok. Aku memakai kalung berlian palsu karena tidak bisa memiliki yang asli. Aku juga kuliah karena mendapatkan beasiswa dan untuk jajan aku kerja freelance sebagai penulis harian lepas di koran dan majalah. " jawab Danira merendah diri. Damian kasihan melihat Danira kesusahan selama ini. Kenapa Vera tidak perhatian dengan keponakannya sendiri. "Kenapa kamu gak bilang sayang? " Damian langsung melonggarkan pelukannya dan mengambil sesuatu di dalam dompetnya. Ia mengeluarkan satu kartu blackcard dan memberikannya pada Danira. "Apa ini om? " tanya Danira. "Ini untukmu. Beli apapun yang kamu inginkan." jawab Damian. "Tidak om aku tidak mau nanti tante Vera semakin salah paham padaku. Aku tidak bisa menerimanya" tolak Danira sambil menyerahkan kembali kartu blackcard yang baru saja diberikan oleh Damian padanya. "Simpan saja. Uangku tidak akan cepat habis sampai 7 keturunan. Kalau Vera marah aku yang akan menghadapinya" ucap Damian meyakinkan Danira. "Baiklah om terima kasih ya" Danira menyimpan kartu itu lalu mencium bibir Damian sebagai ucapan terima kasih. Damian tersenyum lalu membalas kecupannya. Malam harinya Vera tidur dengan perasaan gelisah karena Damian tidak kunjung masuk ke dalam kamar mereka. Apa Damian masih berada di dalam kamar Danira. Vera lalu bangkit dan keluar dari kamarnya. Dia ingin melihat sedang apa Damian di dalam kamar keponakannya. Terdengar suara tawa di dalam kamar Danira. Vera menempelkan telinganya di depan pintu kamarnya. Samar-samar dia mendengar sesuatu di dalam sana. "Geli om hahaha geli" tawa Danira. "Apanya yang geli? " tanya Damian dengan suara beratnya. "Cukup om nghh geli nanti tante Vera marah loh" "Dia juga pasti sudah tidur" "Ahhaha geli om udah dong " Vera merasa kepanasan mendengar percakapan mereka. Sebenarnya apa yang sedang mereka berdua lakukan di dalam sana. BRAKKK Vera langsung membuka pintu kamar Danira dengan keras dan melihat apa yang sedang mereka lakukan di belakangnya.

 

Gairah liar keponakan istri


 


 

Peluh membasahi kening Danira. Dia kembali bermimpi buruk tentang mamanya. Di dalam mimpinya mamanya terus memintanya untuk membalaskan dendamnya. Danira terbangun dengan nafas terengah-engah. Di sampingnya masih ada Damian yang sedang tidur dengan tubuh polos tanpa pakaian. Danira bangkit dan berjalan masuk ke kamar mandi. Dia melihat tubuhnya yang penuh kissmark dengan tatapan jijik. Dia begitu jijik karena meniduri pria bekasan tantenya. Diguyurkan tubuhnya di bawah shower sambil menggosokkan tubuhnya berkali-kali. Entah kenapa dia masih merasa kotor sangat kotor sampai membuatnya nyaris ingin muntah. Dia ingin muntah mengingat bagaimana Damian menjamah tubuhnya. Kenapa tubuh jalang ini malah menikmati sentuhannya. "Sayang kamu disini" Damian masuk ke dalam kamar mandi dan memeluk tubuhnya dari belakang. Bibir Damian menjelajahi setiap inci dari tubuhnya sampai Danira merasa tak nyaman dan menolak sentuhannya. "Om Danira sudah lelah" tolak Danira. "Sekali lagi ya sayang setelah itu kita kembali tidur" pinta Damian sambil kembali mencumbunya. Danira tak bisa menolak dan membiarkan Damian menjamahnya dan kembali menghujamnya dari belakang. Perutnya bergejolak ingin muntah tapi dia menahannya sampai Damian puas melampiaskan nafsunya. Setelah itu mereka mandi bersama dan kembali tertidur di atas ranjang. *** Danira baru saja pulang dari kampusnya. Tiba-tiba sebuah mobil mengklakson dirinya dari belakang. Danira menoleh ke belakang ternyata itu adalah om David. "Om David? " David keluar dari mobilnya dan menghampiri Danira. Kenapa om David bisa berada disini. "Danira kamu kuliah di sini? om baru saja lewat sini dan tak sengaja melihatmu. Mau om antar? " tanya David. Sebenarnya David sengaja menunggu Danira pulang karena ingin dekat dengannya. "Boleh om" ucap Danira membuat David bersorak gembira di dalam hatinya. Danira masuk ke dalam mobil dan duduk di samping David. "Kamu sudah makan siang? kalau kamu tidak keberatan om ingin mengajakmu makan di restoran milik om" ajak David sambil mengendarai mobilnya. "Mau om Danira juga belum makan" ucap Danira setuju. Mereka akhirnya berhenti di sebuah restoran western. David membuka pintu mobilnya dan mempersilahkan Danira untuk turun. Mereka berdua masuk ke dalam restoran dan duduk di sebuah meja yang sudah dipersiapkan oleh David sebelumnya.Tidak ada orang lain selain mereka di restoran ini sampai membuat Danira kebingungan. Pelayan datang menghampiri mereka untuk mencatat pesanan mereka. Setelah selesai pelayan itu pergi meninggalkan mereka berdua. "Kenapa sepi sekali ya padahal ini sudah masuk jam makan siang? " tanya Danira kebingungan. "Entah mungkin mereka makan di tempat lain. Bagaimana menurutmu apa kamu suka restoran ini? " tanya David tanpa melepas tatapannya pada Danira. Dia sengaja mengosongkan restorannya selama 2 jam agar lebih nyaman mengobrol bersama Danira. "Iya suka sangat estetik dan nyaman om" jawab Danira. Tak lama kemudian pelayan membawakan makanan mereka. Mereka makan bersama sambil membicarakan banyak hal. Selesai makan David mengantarkan Danira pulang kerumahnya. "Terima kasih atas tumpangan dan makan siangnya om David" ucap Danira setelah mereka sampai di depan rumah Damian. "Sama-sama. Boleh om meminta nomor hp mu? " tanya David. "Boleh om" Danira menyebutkan nomor hp nya pada David. Setelah tersimpan David melakukan panggilan ke nomor Danira hingga nada dering hp nya berbunyi. "Simpan nomorku Danira. Siapa tau nanti kamu butuh bantuan om" ucap David sambil menyimpan hp nya. "Iya om Danira masuk dulu ya" Danira turun dari mobil David dan melambaikan tangannya pada pria itu. Setelah David pergi Danira masuk ke dalam rumah. Seperti biasa rumah ini sangat sepi sekali karena Damian sibuk dengan pekerjaannya sedangkan Vera selalu hangout bareng teman-temannya. Danira memilih naik ke atas lalu mengganti pakaiannya dengan pakaian santai yang nyaman. Kemudian dia rebahan di atas ranjang sambil membuka hpnya dan menyimpan nomor om David. Pria ini terlihat tampan juga dan sedikit mirip dengan om Damian. "Terima kasih untuk hari ini om David" pesan Danira lalu menaruh hp nya di atas meja. Malam harinya Damian pulang dan melonggarkan dasinya. Danira menyambut kepulangannya sambil mencium bibir pria itu tanpa malu lagi. Pembantu juga sudah tau hubungan terlarang mereka tapi tidak ada yang berani buka mulut karena takut dipecat oleh Damian. "Om Damian pasti sudah lapar kan? aku sudah masak yang enak tadi ayo kita makan bersama" ajak Danira sambil menuntun tangannya. "Iya tapi om lebih suka memakan mu sayang. Tantemu belum pulang? " tanya Damian. "Belum makanya aku berani menciummu om." jawab Danira. Mereka berdua duduk berdua di meja makan. Danira melayani Damian mulai dari mengambilkan nasi beserta lauk pauknya. Damian merasa senang sekali karena dilayani seperti ini. Andai saja Vera melayaninya seperti Danira melayaninya mana mungkin dia berselingkuh di belakangnya. "Ini om apa sudah cukup? " tanya Danira membuyarkan lamunannya. "Sudah cukup sayang ayo kita makan" mereka berdua makan tanpa banyak bicara. Damian sangat lelah sekali karena hari ini banyak sekali pekerjaan di kantor. "Om kenapa? " tanya Danira saat melihat Damian merenggangkan otot-otot lehernya. "Badan om pegal sekali. Nanti om mau minta bi Sri pijatin om" jawab Damian. "Tidak usah om biar Danira saja. Danira bisa kok melakukannya" Danira menuntun Damian ke sofa bed. Dia membuka satu persatu kancing baju Damian hingga terlepas menampakkan otot sixpac nya. Lalu Damian membalik tubuhnya membelakangi Danira. Danira mengambil minyak urut dan membalurkannya di atas punggung Damian dan mulai memijatnya. Pijatan Danira terasa enak sekali. Damian tidak menyangka Danira serba bisa dan dapat diandalkan. "Gimana om? enak? " tanya Danira. "Iya sayang enak banget terus sayang" jawab Damian menikmati pijatannya sampai dia nyaris tertidur. Tring tring tring Nada dering hp Danira berbunyi. Danira mengangkat teleponnya di depan Damian. "Halo om David" sapa Danira. Damian langsung membuka matanya saat mendengar nama David. Sejak kapan Danira dan David mulai dekat. "Besok? sepertinya aku gak bisa om maaf ya" tolak Danira. Setelah itu mereka menyudahi obrolannya. Damian langsung duduk dan menatapnya dengan tajam. "Ada hubungan apa kamu dengan David? " tanya Damian cemburu. "Kami nggak ada hubungan apa-apa om. Kemarin om David mengajakku makan siang dan mengantarkan aku pulang. Terus dia meminta nomorku. Aku gak enak kalau tidak memberikan nomor kontakku padanya" jawab Danira dengan jujur. "Jangan terlalu dekat dengan dia!! kamu itu hanya milikku Danira!! " ucap Damian dengan posesif. "Om David itu kan adiknya om Damian. Kenapa om malah cemburuan begini" goda Danira. "Om serius jangan dekati dia Danira!! " bentak Damian marah sampai membuatnya tersentak dan menundukkan wajahnya dengan mata berkaca-kaca. Damian menyesal kenapa dia tidak bisa mengontol emosinya. "Maafkan aku jangan menangis Danira. Om minta maaf ya sayang" Damian langsung memeluk Danira yang sedang menangis karena ulahnya. Dia berusaha menenangkannya sampai tangisnya mereda. "Sedang apa kalian berdua? " tanya Vera yang muncul tiba-tiba di belakang mereka.

 

Masa Lalu keponakan istriku


 

"Danira bangunlah!! " Damian membangunkan Danira yang sedang tertidur. "Ehmm ada apa om? " tanya Danira sambil mengucek matanya. "Vera ada di luar sedang mencarimu coba kau temui dia dulu om akan sembunyi di kamar mandi" jawab Damian panik. "Iya om jangan panik begitu dong" Danira mencium bibir Damian lalu memakai kembali pakaiannya. Damian langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi. Danira membuka pintu kamarnya dengan penampilan yang cukup berantakan. "Danira kamu kemana aja sih dari tadi tante panggil? ini buat kamu" tante Vera menyerahkan sebuah kantung yang berisi baju-baju kepada Danira. "Apa ini tante? " tanya Danira. "Ini baju-baju bekas tante. Masih bagus banget baru tante pakai sekali. Tante lihat baju kamu itu-itu aja jadi pakai ya sayang" jawab tante Vera. "Terima kasih ya tante " "Iya sama-sama. Yasudah tante mau istirahat dulu maaf ya ganggu kamu tidur" Setelah kepergian tantenya Danira menatap kantung yang berisi baju-baju itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kemarahan yang tersirat namun dia menahan semuanya demi membalaskan dendamnya. "Beraninya kau memberikan aku barang bekasmu. Baiklah aku akan menikmatinya. Suamimu juga nikmat tante aku menyukai permainan ranjangnya" gumamnya. CEKLEK Damian keluar dari kamar mandi. Dia melihat Danira masih berdiri di depan pintu. Damian menghampirinya dan mencium pipinya. "Om keluar dulu ya sayang. Terima kasih untuk hari ini" "Iya om" Setelah Damian pergi Danira menutup kembali pintu kamarnya. Dia membanting kantung baju itu hingga terjatuh berantakan di lantai dan menginjak-injak semuanya sambil berteriak seperti orang gila. Terlintas bayangan masa lalu disaat dia mengetahui perselingkuhan tante Vera dan papanya. Karena perselingkuhan mereka ibunya meninggal dan dia juga kehilangan calon adiknya. Flashback On Danira saat itu masih berumur 12 tahun. Tante Vera tinggal bersama dengan mereka untuk sementara waktu. Awalnya tidak ada yang aneh hingga suatu hari Danira melihat papanya masuk ke dalam kamar tante Vera. Danira mendekat dan mengintip apa yang mereka lakukan di dalam sana. Dia melihat papanya sedang menindih tubuh tante Vera. Suara desahan mereka terdengar jelas di telinganya. Danira tidak mengatakan kejadian ini pada mamanya. Setiap malam Danira melihat papanya akan menyelinap masuk ke dalam kamar tante Vera. Hingga suatu hari Danira mendengar pertengkaran mama dan papanya. "Kamu sudah berselingkuh dengan Vera mas!! aku mau cerai sekarang juga!! " teriak mamanya. "Tidak!! kita tidak akan cerai. Aku selingkuh karena kamu tidak bisa melayani aku!! harusnya kamu sadar diri Anjani!! " teriak papanya tak mau kalah. "Aku sedang hamil mas!! kandungan ku rentan makanya aku tidak bisa melayani kamu!! dasar pria b******n kamu mas!! ahkkk!! " Anjani merasakan sakit yang luar biasa di perutnya. Tiba-tiba saja darah keluar dan luruh membasahi kakinya. Papa terlihat panik dan langsung membawa mamanya ke rumah sakit. Danira hanya bisa menangis dan terpaksa menunggu di rumah sendirian karena tante Vera sudah kabur duluan setelah perselingkuhannya dengan papanya ketahuan. Beberapa hari kemudian mamanya pulang dengan perut mengempis bersama papanya. Calon adik Danira meninggal di dalam kandungan. Sejak saat itu mamanya berubah menjadi pendiam dan suka mengurung diri di kamar. Papanya memilih tidur di kamar lain dan tidak bertegur sapa dengan mamanya. Sampai akhirnya mamanya ditemukan meninggal dunia karena overdosis akibat meminum obat-obatan penenang dalam jumlah banyak. "Mama!! jangan tinggalin Danira ma!! bangun ma bangun!! hiks hiks hiks mama!! " Danira menangis sambil memanggil mamanya tapi tidak ada sahutan sama sekali. Papanya berusaha menenangkannya tapi Danira malah memukul-mukul d**a papanya. "Aku benci papa!! semua gara-gara papa!! sebaiknya papa juga mati!! hiks hiks aku benci papa!! " teriak Danira penuh dengan kemarahan dan kebencian. PLAKK Papanya malah menampar Danira dengan kuat. Danira merasakan pipinya kebas akibat tamparan papanya. "Maafkan papa Danira papa... " "Aku benci papa!! " teriak Danira. Danira langsung berlari meninggalkan rumah di bawah derasnya guyuran air hujan. Dia tidak peduli sekeras apa papanya memanggil-manggil namanya. Flashback Off Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan Vera dan Damian yang ke 4 tahun. Vera sudah menyiapkan pesta yang sangat meriah dan mengundang semua teman-teman dan keluarganya. Keluarga Damian ikut hadir dalam acara ini termasuk David adiknya Damian. "Selamat ulang tahun pernikahan kalian" ucap David sambil memeluk kakaknya. "Iya terima kasih sudah hadir adikku" ucap Damian. David melepas pelukannya dan beralih memeluk kakak iparnya. "Kakak ipar kau terlihat cantik" puji David membuat wajah Vera tersipu. "Terima kasih" ucap Vera setelah David melepas pelukannya. "Mana mama dan papa?" tanya Damian pada adiknya. "Mama tidak ikut katanya gak enak badan dan papa sebentar lagi akan datang" jawab David berbohong. Sudah bukan rahasia lagi kalau mamanya tidak suka dengan Vera. Damian merangkul istrinya agar tidak sedih. Padahal Vera tidak peduli mau mertuanya itu suka atau tidak padanya yang penting dia sudah menjadi istri Damian dan menikmati semua hartanya. Tak lama kemudian Gilbert papanya Damian datang dan memberikan selamat pada mereka. Mereka semua berbincang menikmati pesta sampai akhirnya perhatian mereka teralih saat melihat Danira turun mengenakan gaun berwarna merah yang pernah Vera berikan padanya. Gaun itu adalah gaun yang pernah Damian belikan untuk Vera. "Siapa wanita itu? " tanya David terpanah melihat kecantikan Danira. "Dia Danira keponakanku" jawab Vera terlihat cemburu. Harusnya dia yang menjadi pusat perhatian tapi malah keponakannya yang mencuri perhatian semua orang. Damian juga tak bisa melepas pandangannya pada Danira. Tanpa sadar Damian dan David maju sambil menyodorkan tangan mereka pada Danira sampai membuat Vera terkejut. Danira kebingungan saat mereka berdua menyodorkan tangan mereka padanya. Dia tidak mungkin memilih Damian di depan tantenya. Terpaksa Danira menyambut tangan David. Damian menarik tangannya kembali dengan perasaan marah dan kesal. Dia hanya bisa melihat Danira dan David berdansa bersama bergabung bersama yang lainnya. Vera menghampiri suaminya dan mengajaknya untuk berdansa menyusul mereka. Damian berdansa dengan Vera tepat di sebelah Danira dan David. "Hai Danira perkenalkan aku David adiknya Damian" ucap David saat mereka sedang berdansa bersama. "Senang berkenalan denganmu om David" ucap Danira begitu manis. David rasa dia baru saja jatuh cinta dengan Danira. Tidak pernah ada wanita yang mampu membuatnya jatuh cinta selama ini. Mereka menari sambil berbicara banyak hal membuat Damian terus menatap mereka dengan tajam. Setelah itu mereka berputar berganti pasangan dansa. Vera menari bersama David sedangkan Damian menari bersama Danira. "Kamu terlihat cantik Danira tapi aku tidak suka melihatmu memakai gaun ini di depan banyak orang" ucap Damian cemburu. "Aku memakainya untukmu om" bisik Danira menggoda Damian. Diam-diam dia menjilat telinga Damian tanpa sepengetahuan yang lain. "Jangan menggodaku, aku akan membuatmu tidak bisa berjalan. Saat ini aku sangat marah padamu" bisik Damian. "Aku tidak sabar menunggunya om" tantang Danira membuat Damian b*******h dan ingin bercinta dengannya. Tiba-tiba listrik padam. Damian langsung mencium bibir Danira dengan rakus. Danira tersenyum dan membalas ciumannya. "Kamu hanya milikku Danira" bisik Damian. Mereka segera menyudahi ciuman mereka saat listrik menyala. Setelah itu Damian kembali berdansa dengan istrinya. Danira hanya tersenyum penuh arti sambil menyeka bibirnya yang basah. *** Suara lenguhan terdengar di sebuah kamar. Vera terus mendesah dibawah kungkungan seorang pria yang tak lain adalah adik iparnya sendiri. "Ahhh David lebih keras lagi sayang" desah Vera. plok plok plok David terus menghujam Vera hingga akhirnya mereka mendapatkan klimaks bersama. "David aku mencintaimu" ucap Vera sambil memeluknya. David tidak menjawab dan mendorong pelan Vera untuk melepas pelukannya. "Sebaiknya kita putus Vera. Aku.. aku sudah tidak sanggup menjadi selingkuhanmu. Aku tidak ingin menyakiti kakakku" ucap David. "Tidak.. aku tidak mau putus sama kamu David. Aku cinta sama kamu sayang aku nggak mau" tolak Vera. Tapi David tetap dengan pendiriannya untuk berpisah dengan Vera. David mengenakan kembali pakaiannya dan keluar dari kamar hotel tempat mereka menginap. Tanpa David sadari ada seseorang yang mengambil foto-fotonya saat keluar dari kamar hotel. Tak lama setelah itu Vera juga keluar dari sana dan orang itu kembali mengambil fotonya.