Kamis, 17 April 2025

WAKTU KEMPING


 


Cerita Dewasa terindah ini gak akan aku lupakan. Aku ngentot sama dia saat camping, sungguh kenikmatan sex yg sangat berbeda, sehingga sampai kapanpun aku gak akan pernah melupaknnya.


Tomiiiiii....!!! "jeritan suara cewek

 

Aku medengar suara cewek yang memanggilku. Aku berputar-putar kepala mencari siapa yg sedang memanggilku.

 

Lalu mataku tertuju pada suatu sosok wanita. Dia memakai tangtop ketat dan celana pendek gemes yg bertype Hotpans.

 

Aku sejenak berpikir siapa cewek itu ya..?

 

Ternyata tak salah lagi dia bernama Lilis. Aku agak lupa sih karena kami udah lama ngak ketemu. Kami terakhir bertemu saat SMA dan betemu lagi saat kuliah.

 

Lilis sekarang agak berubah, postur badannya sekarang lebih langsing, rambut panjang dan tingginya sepantaran denganku, umumnya cewek itu lebih pendek dari pada cowok.

 

Kemudian aku menuju ketempat Lilis berdiri dan langsung memeluknya. Hingga terasa payudaranya nempel didadaku. Dan Lalu kami cipika cipiki.

 

Dia juga biasa di sebut cewek yang pintar. Meskipun kami dulu sekolah bareng. Dia sangat rajin mengikuti berbagai organisasi di sekolah,

Sehingga waktu dulu agak sulit untuk ditaklukan. Hal ini membuatku putus asa untuk mendekatinya, sampai akhirnya aku sempat melupakannya dan sibuk dengan kegiatanku sendiri dan bersama pacar baruku.

 

Setelah menjalin hubungan baik, kami lambat laun menyatakan cinta.

 

1 Minggu Kemudian

 

Dia mengajakku untuk bercamping, katanya dia ingin berlibur. Kalau masalah tempat dia yg menentukannya tetapi untuk perlengkapan camping aku yg mengaturnya.

 

Karena dia sama sekali belum pernah camping, sedangkan aku sudah berkali-kali camping dengan temanku terutama jika naik gunung.

 

Begitu sampai di lokasi kami langsung saja mendirikan tenda,

 

Tapi...

 

...Sayangnya dia tidak membawa tenda yang ketinggalan di rumahnya. Aku sebenarnya heran melihatnya, tenda yg begitu penting untuk kemah malah tertinggal.

 

Akhirnya, aku putuskan untuk berbagi ruang di tendaku, karena hari mulai gelap kamipun segera tidur.

 

Setelah ia tertidur pulas, Aku memandanginya dengan tatapan lembut dari mataku  wajahnya begitu mulus, bibirnya yang mungil membuatku mabuk kepayang ingin menciuminya.

 

Aku tak tahu apa yg mendorongku untuk melakukan ini, dan akupun sadar kalau tingkah laku aku ini bisa membuatnya marah.

 

Pembalasan rasa rinduku selama bertahun-tahun gak bertemu dengannya, mungkin moment camping ini yg jadi pembalasannya.

 

Karena dia status sebagai pacarku, dengan bermodal nekad satu tenda aku mencoba menciumi bibirnya mataku terpejam saat melakukan itu, 

 

Sambil menikmati rasa bibirnya yg menyatu dengan bibirku. Hinga tidur lelapnya mulai terusik karena perlakuanku, tangannya mulai meraba-raba, kepalanya bergerak ke kanan-ke kiri dengan perlahan, dan terakhir kurasakan nafasnya memburu.

 

Melihat responnya tidak ada sama sekali, akibat tidur yang terlalu nyenyak.

 

Tanganku pun mulai kumasukan ke dalam bajunya yg sangat terasa tubuhnya menjadi hangat berkat sentuhanku.

 

Tak lama kemudian matanya terbuka, yang langsung memelototi wajahku.

 

Dia benar-benar kaget, sambil bibirnya bergetar tapi ngak ada kata-kata yang terucap. Selama menjadi pacarku dia memang belum pernah kucium secara langsung, aku hanya mencium pipi dan tangannya karena dia tidak selalu memberikan kesempatan itu kepadaku.

 

Eeeehhh... Kamu kok gini sih beb...?"ucapnya

 

Hhhmmm... anu... anu beb, aku ngak sengaja ingin menciumi kamu barusan"balasku

 

Idiiiih main nyolong-nyolong waktu, ngak bilang-bilang pula tuh..."ucapnya kembali

 

Yaaaaa... maaf beb, ngak sengaja terbawa nafsu"sambungku

 

Yeeeeeeee... dasar cowok cari kesempatan dalam kesempitan, kalau mau terusin aja lagian udah tanggung, aku udah keburu bangun"ucap Lilis memberi kode

 

Yakin kamu beb...?

 

Iya benar dong, kalau aku marah mungkin udah gampar kamu sayang...!!!"ucapnya sambil mengelus wajahku

 

Mendapat signal seperti itu, aku langsung menciumi bibirnya kembali dengan hawa nafsu yang membara.

 

Sambil tanganku mulai meraba-raba punggungnya untuk mencari tali BH-nya yg ingin di lepaskan, kulihat gumpalan daging yg bulat dan kenyal itu tampak sempurna.

Sponsor : Jika ingin taruhan online seperti permainan Poker | Domino | Capsa | Blackjack | Togel | Casino | Sabung Ayam | Bola.
Description: agen judi online terpercaya

 

ketika aku memegang puting buah dadanya, Dia tersentak kaget ketika ku mulai memuir putingnya.

 

Kini aku melepaskan ciumanku dan mulai berkonsentrasi pada payudaranya yang masih OKE itu,

 

Benar-benar toked yang merangsang birahi."komentarku dalam hati

 

Aku pun langsung mengulum puting buah dadanya yg dihiasi puting berwana merah jambu itu.

 

Aarrrhhhh... Sssshhhh... Lilis mengerang kenikmatan.

 

Awalnya ia menolak-nolak kepalaku ketika aku mempermainkan puting susunya, entah itu tolakan pura-pura atau sekedar acting saja.

 

Tetapi lama kelamaan tolakan itu menghilang dan malah aku semakin merasakan buah dadanya mulai mengeras yang menandakan dia sangat terangsang.

 

Tanpa menunggu basa-basi aku melewati lubang memeknya untuk di jilati, aku langsung berfokus ingin memasukan batang penisku ke dalam lubang mekinya.

 

Masih dalam mempermainkan puting susunya, aku membuka celana dalam Lilis yang langsung mengarahkan batang penisku lurus ke vaginannya.

 

Bleeess... !!! "masuklah seluruh penisku dengan sekali sodokan

 

Ouhhhh... Aarrrhhhh... "jerit Lilis di dalam tenda

 

Uuuuusssttttt..."tanganku ke mulut

 

Jangan berisik beb, ntar ketahuan orang lain"ucapku mengajaknya santai

 

Ouh iya say, maaf aku ngak sengaja menjerit barusan"ucapnya

 

Lalu aku memulai menggoyang lubang memeknya yang masih sempit itu, terasa seluruh isi dalam memeknya menarik-narik kontolku jauh lebih dalam ke vaginanya lagi.

 

Beb, kok gini rasanya...? tanyaku

 

Rasa apa emangnya beb...? tanya kembali

 

Perasaan anu aku di tarik-tarik deh...! ucapku spontan

 

Iya aku juga ngerasain say, tapi aku emang lagi horny sekali, gpp deh lanjutin aja say goyangnya"sambungnya

 

Aku menggoyangkan lagi lubang sempit memeknya yang selalu menarik-narik kontolku lebih dalam.

 

Aaahhhh... Ahhhhh... "suara Lilis terdengar yang di tutupi oleh tangannya sendiri

 

Aku masih tetap berusaha ntuk memuaskan hasrat kami berdua,

 

Plokk... Ploookk... Plokkk "suara kencrotan memek ketemu kontol saat itu

 

Aaahhhh... Hmmmmm... Ssshhhh..."sungguh suara kami berdua seperti ini sangking merasakan kenikmatannya sambil jantung berdetak kencang.

 

Aku semakin mempercepat ayunan penisku lagi, kali ini dia pun juga ikut menggoyang-goyangkan pinggulnya naik turun mengikuti iramaku.

 

Di akhir goyangan, aku memberinya kode..."beb udah di ujung nih" sambil mencabut batang penisku yang mengarahkan di bagian belahan memeknya tersebut

 

Croooott..."keluarlah spermaku itu di garis memeknya yang masih rapat.

 

Sungguh pesona yang luar biasa malam itu aku dan dia berbagi kasih.

 

Diapun tampak lelah dengan wajahnya yg usang kelelahan berkat goyanganku yang bersemangat.

 

Badanku, kurebahkan di sampingnya sambil mengajak dia ngobrol.

 

Sakit ya beb...?

 

Ngak kok, enak-enak aja kok rasanya..."ucapnya singkat

 

Ya udah malam ini kita lanjut tidur aja ya sayang, besok pagi kita jalan-jalan di sekitar gunung ini" ucapku sambil mengelus wajahnya

 

Dan kami bersama-sama menutup mata terlelap tidur yang saling berpegangan tangan.

 

Romantinya malam itu sambil di hiasi suara jangkrik-jangkrik di sekeliling tenda kenikmatan.

 

gadis perawan abg SMP dan SMA


gadis perawan abg SMP dan SMA selalu bikin horny, apalagi cewek perawan abg SMP atau SMA yang hilang perawan. Tubuhnya yang baru memasuki usia kematangan seksual selalu membangkitkan birahi para laki-laki hidung belang. Seperti yang terjadi dalam cerita seks berikut ini..

Perkenalkan pembaca nama saya Andra. Umur 24 tahun dan sekarang lagi kuliah di sebuah PTS di Kediri. Aku termasuk cowok yang populer di kampus (sekeren namaku). Tapi aku punya kelemahan, saat ini aku udah nggak perjaka lagi (emang sekarang udah nggak jamannya keperjakaan diutamakan). Nah, hilangnya perjakaku ini yang pengin aku ceritakan.

Aku punya banyak cewek. Diantaranya banyak cewek itu yang paling aku sukai adalah Rere. Tapi dalam kisah ini bukan Rere tokoh utamanya. sebab hilangnya perjakaku nggak ada sangkut pautnya sama Rere. Malah waktu itu aku aku lagi marahan sama doski.


Waktu itu aku nganggap Rere nggak bener-bener sayang sama aku. Aku lagi jutek banget sama dia. Habisnya udah lima bulan pacaran, masak Rere hanya ngasih sun pipi doang. Ceritanya pas aku ngapel ke tempat kostnya, aku ngajakin dia ML. Habis aku pengin banget sih. (keseringan mantengin VCD parto kali yee…). Tapi si Rere menolak mentah-mentah. Malahan aku diceramahin, busyet dah!

Makanya malam minggu itu aku nggak ngapel (ceritanya ngambek). Aku cuman duduk-duduk sambil gitaran di teras kamar kostku. Semua teman kostku pada ngapel atau entah nglayap kemana. Rumah induk yang kebetulan bersebelahan dengan rumah kost agak sepi. Sebab sejak tadi sore ibu kost dan bapak pergi ke kondangan. Putri tertua mereka, Murni sudah dijemput pacarnya sejam yang lalu. Sedang Maidy, adiknya Murni entah nglayap kemana. Yang ada tinggal Maya, si bungsu dan Ersa, sepupunya yang kebetulan lagi berkunjung ke rumah oomnya. Terdengar irama lagu India dari dalam rumah induk, pasti mereka lagi asyik menonton Gala Bollywood.

Nggak tahu, entah karena suaraku merdu atau mungkin karena suaraku fals plus berisik, Maya datang menghampiriku.
“Lagi nggak ngapel nih, Mas Andra?” sapanya ramah (perlu diketahui kalau Maya memang orangnya ramah banget)
“Ngapel sama siapa, May?” jawabku sambil terus memainkan Sialannya Cokelat.
“Ah… Mas Andra ini pura-pura lupa sama pacarnya.”
Gadis itu duduk di sampingku (ketika dia duduk sebagian paha mulusnya terlihat sebab Maya cuman pakai kulot sebatas lutut). Aku cuman tersenyum kecut.
“Udah putus aku sama dia.” jawabku kemudian.
Nggak tahu deh, tapi aku menangkap ada yang aneh dari gelagat Maya. Gadis 14 tahun itu nampaknya senang mendengar aku putus. Tapi dia berusaha menutup-nutupinya.
“Yah, kacian deh… habis putus sama pacar ya?” godanya. “Kayaknya bete banget lagunya.”
Aku menghentikan petikan gitarku.
“Yah, gimana ya… kayaknya aku lebih suka sama Maya deh ketimbang sama dia.”

Nah lo! Kentara benar perubahan wajahnya. Gadis berkulit langsep agak gelap itu merah mukanya. aku segera berpikir, apa bener ya gosip yang beredar di tempat kost ini kalo si Maya ada mau sama aku.
“May, kok diam aja? Malu yah…”

Maya melirik ke arahku dengan manja. Tiba-tiba saja batinku ngrasani, gadis yang duduk di sampingku ini manis juga yah. Masih duduk di kelas dua smp tapi kok perawakannya udah kayak anak sma aja. Tinggi langsing semampai, bodinya bibit-bibit peragawati, payudaranya… waduh kok besar juga ya. Tiba-tiba saja jantungku berdebar memandangi tubuh Maya yang cuman pakai kaos ketat tanpa lengan itu. Belahan dadanya sedikit tampak diantara kancing-kancing manisnya. Ih, ereksiku naik waktu melirik pahanya yang makin kelihatan. Kulit paha itu ditumbuhi bulu-bulu halus tapi cukup lebat seukuran cewek.

“Mas, daripada nganggur gimana kalo Mas Andra bantu aku ngerjain peer bahasa inggris?”
“Yah Maya, malam minggu kok ngerjain peer? Mendingan pacaran sama Mas Andra, iya nggak?” pancingku.
“Ah, Mas Andra ini bisa aja godain Maya..”
Maya mencubit pahaku sekilas. Siir.. Wuih, kok rasanya begini. Gimana nih, aku kok kayak-kayak nafsu sama ini bocah. Waduh, penisku kok bangun yah?
“Mau nggak Mas, tolongin Maya?”
“Ada upahnya nggak?”
“Iiih, dimintai tolong kok minta upah sih…”
Cubitan kecil Maya kembali memburu di pahaku. Siiiir… kok malah tambah merinding begini ya?
“Kalau diupah sun sih Mas Andra mau loh.” pancingku sekali lagi.
“Aah… Mas Andra nakal deh…”

Sekali lagi Maya mencubit pahaku. Kali ini aku menahan tangan Maya biar tetap di pahaku. Busyet, gadis itu nggak nolak loh. Dia cuman diam sambil menahan malu.
“Ya udah, Maya ambil bukunya trus ngerjain peernya di kamar Mas Andra aja. Nanti tak bantu ngerjain peer, tak kasih bonus pelajaran pacaran mau?”

Cerita Panas - Gadis itu cuman senyum saja kemudian masuk rumah induk. Asyik… pasti deh dia mau. Benar saja, nggak sampai dua menit aku sudah bisa menggiringnya ke kamar kostku.

Kami terpaksa duduk di ranjang yang cuman satu-satunya di kamar itu. Pintu sudah aku tutup, tapi nggak aku kunci. Aku sengaja nggak segera membantunya ngerjain peer, aku ajak aja dia ngobrol.
“Sudah bilang sama Ersa kalo kamu kemari?”
“Iya sudah, aku bilang ke tempat Mas Andra.”
“Trus si Ersa gimana? Nggak marah?”
“Ya enggak, ngapain marah.”
“Sendirian dong dia?”
“Mas Andra kok nanyain Ersa mulu sih? Sukanya sama Ersa ya?” ujar Maya merajuk.
“Yee… Maya marah. Cemburu ya?”
Maya merengut, tapi sebentar sudah tidak lagi. Dibuka-bukanya buku yang dia bawa dari rumah induk.

“Maya udah punya pacar belum?”tanyaku memancing.
“Belum tuh.”
“Pacaran juga belum pernah?”
“Katanya Mas Andra mau ngajarin Maya pacaran.” balas Maya.
“Maya bener mau?” Gayung bersambut nih, pikirku.
“Pacaran itu dasarnya harus ada suka.” lanjutku ketika kulihar Maya tertunduk malu. “Maya suka sama mas Andra?”

Maya memandangku penuh arti. Matanya seakan ingin bersorak mengiyakan pertanyaanku. tapi aku butuh jawaban yang bisa didengar. Aku duduk merapat pada Maya.
“Maya suka sama Mas Andra?” ulangku.
“Iya.” gumamnya lirih.
Bener!! Dia suka sama aku. Kalau gitu aku boleh…
“Mas Andra mau ngesun Maya, Maya nurut aja yah…” bisikku ke telinga Maya

Tanganku mengusap rambutnya dan wajah kami makin dekat. Maya menutup matanya lalu membasahi bibirnya (aku bener-bener bersorak sorai). Kemudian bibirku menyentuh bibirnya yang seksi itu, lembut banget. Kulumat bibir bawahnya perlahan tapi penuh dengan hasrat, nafasnya mulai berat. Lumatanku semakin cepat sambil sekali-sekali kugigit bibirnya.
Mmm..muah… kuhisap bibir ranum itu.

“Engh.. emmh..” Maya mulai melenguh.
Nafasnya mulai tak beraturan. Matanya terpejam rapat seakan diantara hitam terbayang lidah-lidah kami yang saling bertarung, dan saling menggigit. Tanganku tanpa harus diperintah sudah menyusup masuk ke balik kaos ketatnya. Kuperas-peras payudara Maya penuh perasaan. ereksiku semakin menyala ketika gundukan hangat itu terasa kenyal di ujung jari-jariku.

Bibirku merayap menyapu leher jenjang Maya. Aku cumbui leher wangi itu. Kupagut sambil kusedot perlahan sambil kutahan beberapa saat. Gigitan kecilku merajang-rajang birahi Maya.
“Engh.. Masss… jangan… aku uuuh…”
Ketika kulepaskan maka nampaklah bekasnya memerah menghias di leher Maya.

“May… kaosnya dilepas ya sayang…”
Gadis itu hanya menggangguk. Matanya masih terpejam rapat tapi bibirnya menyunggingkan senyum. Nafasnya memburu. Sambil menahan birahi, kubuka keempat kancing kaos Maya satu persatu dengan tangan kananku. Sedang tangan kiriku masih terus meremas payudara Maya bergantian dari balik kaos. Tak tega rasanya membiarkan Maya kehilangan kenikmatannya. Jemari Maya menggelitik di dada dan perutku, membuka paksa hem lusuh yang aku kenakan. Aku menggeliat-geliat menahan amukan asmara yang Maya ciptakan.

Kaos pink Maya terjatuh di ranjang. Mataku melebar memandangi dua gundukan manis tertutup kain pink tipis. Kupeluk tubuh Maya dan kembali kuciumi leher jenjang gadis manis itu, aroma wangi dan keringatnya berbaur membuatku semakin bergairah untuk membuat hiasan-hiasan merah di lehernya.Perlahan-lahan kutarik pengait BH-nya, hingga sekali tarik saja BH itupun telah gugur ke ranjang. Dua gundukan daging itupun menghangat di ulu hatiku.

Kubaringkan perlahan-lahan tubuh semampai itu di ranjang. Wow… payudara Maya (yang kira-kira ukuran 34) membengkak. Ujungnya yang merah kecoklatan menggairahkan banget. Beberapa kali aku menelan ludah memandangi payudara Maya. Ketika merasakan tak ada yang kuperbuat, Maya memicingkan mata.

“May… adekmu udah gede banget May…”
“Udah waktunya dipetik ya mass…”
“Ehem, biar aku yang metik ya May…”
Aku berada di atas Maya. Tanganku segera bekerja menciptakan kenikmatan demi kenikmatan di dada Maya.
Putar… putar.. kuusap memutar pentel bengkak itu.
“Auh…Mass.. Aku nggak tahan Mass… kayak kebelet pipis mas..” rintih Maya.

Cerita Sex - Tak aku hiraukan rintihan itu. Aku segera menyomot payudara Maya dengan mulutku.
“Mmmm… suuup… mmm…” kukenyot-kenyot lalu aku sedot putingnya.
“Mass… sakiit…” rintih Maya sambil memegangi vaginanya.
Sekali lagi tak aku hiraukan rintihan itu. Bagiku menggilir payudara Maya sangat menyenangkan. Justru rintihan-rintihan itu menambah rasa nikmat yang tercipta.

Tapi lama kelamaan aku tak tega juga membuat Maya menahan kencing. Jadi aku lorot saja celananya. Dan ternyata CD pink yang dikenakan Maya telah basah.
“Maya kencing di celana ya Mass?”
“Bukan sayang, ini bukan kencing. Cuman lendir vaginamu yang cantik ini.”
Maya tertawa mengikik ketika telapak tanganku kugosok-gogokkan di permukaan vaginanya yang telah basah. Karena geli selakangnya membuka lebar. Vaginanya ditumbuhi bulu lebat yang terawat. Lubang kawin itu mengkilap oleh lendir-lendir kenikmatan Maya. Merah merona, vagina yang masih perawan.

Tak tahan aku melihat ayunya lubang kawin itu. Segera aku keluarkan penisku dari sangkarnya. Kemudian aku jejalkan ke pangkal selakangan yang membuka itu.
“Tahan ya sayang…engh..”
“Aduh… sakiiit mass…”
“Egh… rileks aja….”
“Mas… aah!!!” Maya menjambak rambutku dengan liar.
Slup… batang penisku yang perkasa menembus goa perawan Maya yang masih sempit. Untung saja vagina itu berair jadi nggak terlalu sulit memasukkannya. Perlahan-lahan, dua centi lima centi masih sempit sekali.
“Aduuuh Masss… sakiiit…” rintih Maya.

Aku hentakkan batang penisku sekuat tenaga.
“Jruub…”
Langsung amblas seketika sampai ujungnya menyentuh dinding rahim Maya. Batang penisku berdenyut-denyut sedikit sakit bagai digencet dua tembok tebal. Ujungnya tersentuh sesuatu cairan yang hangat. Aku tarik kembali penisku. Lalu masukkan lagi, keluar lagi begitu berkali-kali. Rasa sakitnya berangsur-angsur hilang.

Aku tuntun penisku bergoyang-goyang.
“Sakit sayang…” kataku.
“Enakkk…eungh…” Maya menyukainya.
Ia pun ikut mengggoyang-goyangkan pantatnya. Makin lama makin keras sampai-sampai ranjang itu berdecit-decit. Sampai-sampai tubuh Maya berayun-ayun. Sampai-sampai kedua gunung kembar Maya melonjak-lonjak. Segera aku tangkap kedua gunung itu dengan tanganku.

“Enggh.. ahhh..” desis Maya ketika tanganku mulai meremas-remasnya.
“Mass aku mau pipis…”
“Pipis aja May… nggak papa kok.”
“Aaach…!!!”
“Hegh…engh…”
“Suuur… crot.. crot.. ”
Lendir kawin Maya keluar, spermaku juga ikut-ikutan muncrat. Kami telah sama-sama mencapai orgasme.

“Ah…” lega. Kutarik kembali penisku nan perkasa. Darah perawan Maya menempel di ujungnya berbaur dengan maniku dan cairan kawinnya. Kupeluk dan kuciumi gadis yang baru memberiku kepuasan itu. Mayapun terlelap kecapaian.

Kreek… Pintu kamarku dibuka. Aku segera menengok ke arah pintu dengan blingsatan. Ersa terpaku di depan pintu memandangi tubuh Maya yang tergeletak bugil di ranjang kemudian ganti memandangi penisku yang sudah mulai melemas. Tapi aku juga ikut terpaku kala melihat Ersa yang sudah bugil abis. Aku tidak tahu tahu kalau sejak Maya masuk tadi Ersa mengintip di depan kamar.

“Ersa? Ng… anu..” antara takut dan nafsu aku pandangi Ersa.
Gadis ini lebih tua dua tahun diatas Maya. Pantas saja kalau dia lebih matang dari maya. Walau wajahnya tak bisa menandingi keayuan Maya, tapi tubuhnya tak kalah menarik dibanding Maya, apalagi dalam keadaan full naked kayak gitu.

“Aku nggak akan bilang ke oom dan tante asal…”
“Asal apaan?”
Mata Ersa sayu memandang ke arah Maya dan penisku bergantian. Lalu dia membelai-belai payudara dan vaginanya sendiri. Tangan kirinya bermain-main di belahan vaginanya yang telah basah. Ersa sengaja memancing birahiku. Melihat adegan itu, gairahku bangkit kembali, penisku ereksi lagi. Tapi aku masih ingin Ersa membarakan gairahku lebih jauh.

Ersa duduk di atas meja belajarku. Posisi kakinya mekangkang sehingga vaginanya membuka merekah merah. Tangannya masih terus meremas-remas susunya sendiri. Mengangkatnya tinggi seakan menawarkan segumpal daging itu kepadaku.
“Mas Andra.. sini.. ay…”
Aku tak peduli dia mengikik bagai perek. Aku berdiri di depan gadis itu.
“Ayo.. mas mainin aku lebih hot lagi..” pintanya penuh hasrat.

Aku gantiin Ersa meremas-remas payudaranya yang ukuran 36 itu. Puting diujungnya sudah bengkak dan keras, tanda Ersa sudah nafsu banget.
“Eahh.. mmhh…” rintihannya sexy sekali membuatku semakin memperkencang remasanku.
“Eahhh.. mas.. sakit.. enak….”

Ersa memainkan jarinya di penisku. Mempermainkan buah jakarku membuatku melenguh keasyikan. “Ers… tanganmu nakal banget…”
Gadis itu cuman tertawa mengikik tapi terus mempermainkan senjataku itu. Karena gemas aku caplok susu-susu Ersa bergantian. Kukenyot sambil aku tiup-tiup.
“Auh…”
Ersa menekan batang penisku.
“Ers… sakit sayang” keluhku diantara payudara Ersa.
“Habis dingin kan mas…” balasnya.

Setelah puas aku pandangi wajah Ersa.
“Ersa, mau jurus baru Mas Andra?”
Gadis itu mengangguk penuh semangat.
“Kalau gitu Ersa tiduran di lantai gih!”
Ersa menurut saja ketika aku baringkan di lantai. Ketika aku hendak berbalik, Ersa mencekal lenganku. Gadis yang sudah gugur rasa malunya itu segera merengkuhku untuk melumat bibirnya. Serangan lidahnya menggila di ronga mulutku sehingga aku harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk mengimbanginya. Tanganku dituntunnya mengusap-usap lubang kelaminnya. Tentu saja aku langsung tanggap. Jari-jariku bermain diantara belantara hitam nan lebat diatas bukit berkawah itu. “Mmmm… enghh…”
Kami saling melenguh merasakan sejuta nikmat yang tercipta.

Cerita Dewasa - Aku ikut-ikutan merebah di lantai. Aku arahkan Ersa untuk mengambil posisi 69, tapi kali ini aku yang berada di bawah. Setelah siap, tanpa harus diperintah Ersa segera membenamkan penisku ke dalam mulutnya (aku jadi berpikiran kalau bocah ini sudah berpengalaman).
Ersa bersemangat sekali melumat penisku yang sejak tadi berdenyut-denyut nikmat. Demikian juga aku, begitu nikmatnya menjilati lendir-lendir di setiap jengkal vagina Ersa, sedang jariku bermain-main di kedua payudaranya. Srup srup, demikian bunyinya ketika kusedot lendir itu dari lubang vagina Ersa. Ukuran vagina Ersa sedikit lebih besar dibanding milik Maya, bulu-bulunya juga lebih lebat milik Ersa. Dan klitorisnya… mmm… mungil merah kenyal dan mengasyikkan. Jadi jangan ngiri kalo aku bener-bener melumatnya dengan lahap.

“Ngngehhh…uuuhh..” lenguh Ersa sambil terus melumat senjataku.
Sedang lendir kawinnya keluar terus.
“Erss… isep sayang, iseppp…” kataku ketika aku merasa mau keluar.
Ersa menghisap kuat-kuat penisku dan crooott… cairan putih kental sudah penuh di lubang mulut Ersa. Ersa berhenti melumat penisku, kemudian dia terlentang dilantai (tidak lagi menunggangiku). Aku heran dan memandangnya.
“Aha…” ternyata dia menikmati rasa spermaku yang juga belepotan di wajahnya, dasar bocah gemblung.

Beberapa saat kemudian dia kembali menyerang penisku. Mendapat serangan seperti itu, aku malah ganti menyerangnya. Aku tumbruk dia, kulumat bibirnya dengan buas. Tapi tak lama Ersa berbisik, “Mas.. aku udah nggak tahan…”
Sambil berbisik Ersa memegangi penisku dengan maksud menusukannya ke dalam vaginanya.

Aku minta Ersa menungging, dan aku siap menusukkan penisku yang perkasa. penisku itu makin tegang ketika menyentuh bibir vagina. Kutusuk masuk senjataku melewati liang sempit itu.
“Sakit Mas…”
Sulitnya masuk liang kawin Ersa, untung saja dindingnya sudah basah sejak tadi jadi aku tak terlalu ngoyo.

“Nggeh… dikit lagi Ers…”
“Eeehhh… waaa!!”
“Jlub…” 15 centi batang penisku amblas sudah dikenyot liang kawin Ersa. Aku diamkan sebentar lalu aku kocok-kocok seirama desah nafas.
“Eeehh… terus mass… uhh…”
Gadis itu menggeliat-geliat nikmat. Darah merembes di selakangnya. Entah sadar atau tidak tangan Ersa meremas-remas payudaranya sendiri.

Lima belas menit penisku bermain petak umpet di vagina Ersa. Rupaya gadis itu enggan melepaskan penisku. Berulang-ulang kali spermaku muncrat di liang rahimnya. Merulang-ulang kali Ersa menjerit menandakan bahwa ia berada dipucuk-pucuk kepuasan tertinggi. Hingga akhirnya Ersa kelelahan dan memilih tidur terlentang di samping Maya.

Capek sekali rasanya menggarap dua daun muda ini. Aku tak tahu apa mereka menyesal dengan kejadian malam ini. Yang pasti aku tak menyesal perjakaku hilang di vagina-vagina mereka. Habisnya puas banget. Setidaknya aku bisa mengobati kekecewaanku kepada Rere.

Malam makin sepi. Sebelum yang lain pada pulang, aku segera memindahkan tubuh Maya ke kamarnya lengkap dengan pakaiannya. Begitu juga dengan Ersa. Dan malam ini aku sibuk bergaya berpura-pura tak tahu-menahu dengan kejadian barusan. Lagipula tak ada bukti, bekas cipokan di leher Maya sudah memudar.
He.. he.. he.. mereka akan mengira ini hanya mimpi.