Selasa, 29 Oktober 2024

Hadiah dari suami


 

Perkenalkan namaku Lia, aku berumur 28 tahun, sudah menikah tetapi belum berniat memiliki anak karena masih berkonsentrasi dengan karier dan pendidikanku. Aku bekerja pada salah satu bank swasta ternama di Jakarta. Menurut teman-temanku aku dikaruniakan bentuk tubuh yang seksi, mungkin karena ukuran dada dan pinggulku yang sangat menggoda.
Sebenarnya belum terlalu lama aku berhubungan dengan situs ini, kurang lebih baru sekitar 3 bulan yang lalu, itu juga karena diperkenalkan oleh suamiku. Oleh karena itu aku mau kirim pengalaman pribadiku ini, supaya fair kali ya, selama ini kan aku hanya membaca kisah dari orang lain, sekarang gantian aku mau bercerita.
Aku dan suamiku baru menikah sekitar 8 bulan, bagiku suamiku adalah guru sexku yang paling luar biasa, terkadang aku sampai kewalahan menghadapi gairahnya yang begitu tinggi. Sebelum menikah mungkin aku adalah gadis yang lugu, sex adalah hal yang tabu bagiku, tetapi begitu merasakan nikmatnya sex, aku begitu merindukannya setiap waktu.
Suamiku seorang yang inovatif dalam urusan ranjang, dari aku yang lugu menjadi aku yang liar dan haus sex dibuatnya. Terkadang dalam bersetubuh kami menggunakan alat bantu, kami mempunyai beberapa alat bantu seperti butterfly, kondom sambung dan vibrator. Dari semua alat bantu tersebut semuanya memberikan kenikmatan yang berbeda-beda, tetapi favoritku adalah vibrator.
Wah sambil menulis ini aku jadi membayangkan kontol silikon itu maju mundur didalam vaginaku. Kelebihan dari vibrator itu selain bisa maju mundur secara otomatis tetapi juga dapat memberikan sensasi luar biasa menjelang aku orgasme karena sambil maju mundur vibrator itu dapat disetel bergetar. Bagi para istri coba deh, apalagi sekarang alat bantu sex mudah sekali diperoleh. Terkadang kalau lagi “on” aku juga suka masturbasi dengan alat bantu. Suamiku sangat senang melihat aku bermasturbasi. Sebenarnya dia yang pertama kali mengajarkan masturbasi kepadaku, dan dia tidak keberatan apabila aku bermasturbasi didepan dia, malah katanya aku sangat seksi dan merangsang, kalau sudah begitu masturbasiku pasti berganti dengan persetubuhan yang liar dan panas.
Selain menggunakan alat bantu, kami juga suka bersetubuh ditempattempat yang tidak lazim, bosan kalu ditempat tidur terus kata suamiku. Kami pernah bersetubuh di taman depan rumah dimana tingkat ketahuan sama orang lainnya sangat tinggi. Seru sekali nikmat sambil degdegan. Selain itu kami pernah bersetubuh diatas balkon sebuah apartemen terkemuka di Jakarta, kalau penghuni kamar sebelah ke balkon juga, wah gimana jadinya, tetapi itulah kenikmatannya. Kami juga pernah bersetubuh dikolam renang salah satu hotel di Bali dan hampir ketahuan, ternyata enak lo bersetubuh didalam air, sensasinya sungguh luar biasa.
Sebenarnya bukan itu yang mau aku ceritakan. Aku mau bercerita tentang hadiah ulang tahun yang diberikan oleh suamiku bulan yang lalu, tepat pada usiaku yang ke-28. Pada waktu itu kami sepakat merayakan disebuah hotel, hanya aku dan suamiku. Hotelnya ada di kawasan Slipi, kami menyewa salah satu kamar yang ada dilantai 21. Memang dari rumah aku sudah menduga bahwa ada kejutan yang sangat merangsang yang akan diberikan oleh suamiku, tetapi aku tidak menduga betapa luar-biasanya kejutan tersebut.
Saat makan malam suamiku memberikan ucapan selamat ulang tahun kepadaku.
“Selamat ulang tahun Sayang”.
Kemudian dia mengambil sesuatu dari saku celananya, sebuah kotak hitam kecil dan membukanya di hadapanku. Wah sebuah kalung dari emas putih bermatakan berlian, aku senang sekali karena walaupun buas diranjang suamiku sangat romantis.
“Sini aku pakaikan” kata suamiku seraya memakaikan kalung tersebut.
“Terima kasih ya Mas” kataku.
“Itu masih hadiah pembukaan Sayang, masih ada paket hadiah yang lainnya” katanya.
“Apaan tuh Mas, jangan main rahasia-rahasiaan dong” kataku lagi.
“Sekarang kita selesaikan makam malamnya nanti hadiah utamanya diberikannya di dalam kamar” katanya genit.
Rasanya aku tahu apa hadiah utamanya kataku dalam hati, pasti dia memberikan sex toys baru lagi. Tak lama kami menyelesaikan makan malam kami, setelah berjalan – jalan sebentar melihat lihat pemandangan di lobby, suamiku mengajakku kembali ke kamar.
“Mau lihat hadiah utamanya nggak?” katanya, aku hanya tersenyum.
“Bikin penasaran orang aja” kataku.
“Aku kan mau memberikan sesuatu yang beda, Sayang” katanya lagi.
Tak lama sampailah kami di kamar. Suamiku menyalakan TV dan aku masih bertanya tanya dalam hati mengenai kejutan dari suamiku.
“Siap untuk kejutannya, Sayang” katanya sambil mencium bibirku dengan lembut.
Itulah suamiku, dia sangat tahu bagaimana memperlakukan perempuan. Kamipun mulai berciuman, ternyata ini toh kejutannya kataku, tetapi masa cuma ini sih, yang seperti ini kan tiap hari kami lakukan.
Saat aku sedang terbuai ketika payudaraku dicumbu oleh suamiku, bel kamar berbunyi kembali, suamiku memintaku untuk membuka pintu.
“Selamat malam, Mbak’ apakah ini kamar Pak Indra?” seorang pemuda bertanya kepadaku.
“O iya benar, ayo masuk. Pak Indranya ada kok di dalam” dalam hati aku mengomel kok datang di saat yang nggak tepat sih, orang lagi mau asik diganggu.
“Halo Ivan, ayo silakan duduk jangan sungkan, perkenalkan ini Lia istri saya”.
“Ivan”, kata pemuda tersebut sambil menyodorkan tangannya.
“Lia”, kataku singkat.
“Bawa pesanan saya Van?”, tanya suamiku.
“Bawa Mas”, katanya sampil menyerahkan sesuatu kepada suami saya.
Rupanya sebotol champagne.
“Hari ini Mbak Lia ulang tahun Van, kita harus memberikan hadiah yang khusus, sekarang tolong persiapkan dong”, kata suamiku meminta si Ivan menyiapkan minuman tersebut.
“Baik Mas” kata Ivan sambil tersenyum.
Tak lama Ivan datang dengan 3 gelas champagne.
“Mari kita bersulang”, kata suamiku sambil membagikan gelas.
“Demi kebahagiaan kamu, Sayang” kata suamiku lagi.
Kami menghabiskan isi gelas tersebut. Setelah itu kami ngobrol tentang bebagai hal, dari politik sampai ke lelucon porno, tetapi ketika ngobrol aku kok merasa begitu horny, aku terangsang sekali.
Nafasku turun naik seolaholah tidak mampu menahan birahi dan apabila aku menggeser pantatku dari tempat tidur. Sedikit gesekan pada vagina saja memberikan rangsangan yang sungguh luar biasa, aku tak tahan lagi tetapi aku masih sadar karena aku melihat masih ada Ivan di situ.
“Mas”, kataku lirih sambil menahan gejolak birahi, maksudku agar menyuruh Ivan pulang dan kami dapat melanjutkan pertempuran yang tertunda.
Tapi suamiku malah berkata, “Siap buat hadiahnya Sayang?”.
Tangan suamiku meremas perlahan payudaraku dan bibirnya melumat bibirku. Sekarang aku sudah lupa diri, setiap remasan pada payudaraku membuat aku tidak peduli lagi bahwa ada orang lain dikamarku. Satu demi satu kancing bajuku terlepas.
Suamiku terus mencumbuku, karena sudah tidak tahan aku juga merespon rangsangan suamiku, malam itu setiap sentuhan maupun remasan rasanya lebih nikmat satu juta kali dibading biasanya. Aku telanjang bulat sekarang, aku terus merasakan nikmatnya remasan di payudaraku, suamiku meminta aku telentang kemudian dia membuka kedua pahaku dan menjilati seluruh kemaluanku.
“Aaaccrhh..”, aku menggelinjang nikmat.
Klitorisku distimulasi dengan sedemikian nikmatnya. Sambil merasakan nikmat pada vaginaku, aku meremas payudaraku sendiri, suamiku rupanya mengerti sambil menjilati vaginaku tangannya membantu meremas payudaraku dan memilin putingku. Mataku terpejam nikmat, hebat sekali suamiku malam ini, lebih hebat dari biasanya.
Dari vagina sekarang dia menjilati seluruh payudaraku dan putingku, aku hanya bisa terpejam nikmat. Antara sadar atau tidak sadar aku merasa saat memegang rambut suamiku rasanya kok berbeda. Betapa terkejutnya aku ketika aku membuka mataku bukannya suamiku yang ada didepanku tetapi si Ivan yang sudah telanjang bulat juga, aku terkejut, aku mau marah tetapi tidak bisa, kenikmatan demi kenikmatan yang kuperoleh mengalahkan segalanya. Kulihat suamiku duduk di kursi di samping ranjang sambil mengurut urut kontolnya.
“Mas, kamu..”, kataku tak sanggup meneruskan kata kataku karena menahan nikmat.
“Nikmati saja hadiahnya Mas”, katanya.
Akupun melihat dia pun sudah dikuasai nafsu melihat istrinya dicumbu sedemikian rupa. Akupun memutuskan untuk menikmati saja malam ini karena aku tidak dapat berhenti lagi dan sudah terlanjur. Ivan memintaku untuk berjongkok, kemudian mengarahkan kontolnya kemukaku, aku mengerti dengan segera saja kusambar dan kumasukan kedalam mulutku, kuhisap dan kunikmati sedemikian rupa. Ivan menggelinjang sedemikian rupa, menahan nikmat.
“Teruus Mbak Lia, teruuss..”, katanya meracau.
Kontol Ivan ukurannya sama seperti suamiku hanya lebih banyak uratnya dan kepalanya lebih besar. Kalau ditaksir umurnya mungkin baru sekitar 18atau 19 tahun. Sambil terus meng-oral kontolnya si Ivan aku merasa payudaraku ada yang meremas dari belakang, ternyata adalah suamiku. Aku tambah tidak karuan saja menahan serangan nikmat dari dua laki laki.
“Masukan sekarang Van, masukan sekarang..”, pintaku.
Dengan lembut Ivan memasukan kontolnya ke dalam vaginaku, setiap pergerakan mili demi mili dari kontol Ivan memberikan sensasi yang tidak tertahankan. Ivan terus memompa kontolnya didalam vaginaku, sementara itu suamiku mengarahkan kontolnya ke dalam mulutku, jadilah vagina dan mulutku dihajar oleh dua lakilaki. Hanya sekitar 5 menit aku diperlakukan demikian aku segera mendapatkan orgasmeku.
“Aku mau sampai”, kataku dengan mulut masih penuh oleh kontol suamiku.
Akhirnya, “Aaarrcchh ..”, Aku mengejan hebat, aku merasakan seluruh otot kewanitaanku berkontraksi, pandanganku menjadi gelap rasanya.
Setelah itu kami masih terus mencoba gaya ini dan itu karena kedua lakilaki ini mempunyai keperkasaan yang luar biasa di ranjang, baru setelah orgasmeku yang keempat suamiku memuntahkan spermanya didalalam vaginaku dan tak lama Ivan memuntahkan spermanya juga didalam vaginaku. Setelah itu kami pun tertidur kelelahan. Saat aku tidur terasa ada yang menciumku.
“Selamat pagi Sayang, gimana hadiahnya semalam?”, ternyata suamiku membangunkanku.
“Mas kok tega sih, aku kan istrimu, kok rela sih istrinya ditiduri orang”, kataku.
“Kamu menikmatinya nggak?”, dia balik bertanya.
Jujur dalam hati belum pernah aku mendapatkan kenikmatan sedemikian rupa, satu kontol aja sudah enak apalagi dua. Aku hanya terdiam.
“Ya sudah kalau kamu marah aku minta maaf”, kata suamiku.
“Mas, aku kok bisa terangsang banget sih semalam, memangnya yang diminum apa sih?”, tanyaku.
“Cuma segelas champagne kok, tetapi di gelas kamu ditambah dengan beberapa tetes spanish fly”, katanya sambil tersenyum.
Pantas, umpatku dalam hati, aku begitu terangsang, mungkin kalau dalam kondisi normal aku belum tentu mau ber threesome ria seperti semalam. Kulihat Ivan masih tertidur pulas.
“Ivan itu siapa sih” tanyaku pada suamiku.
“O.. dia gigolo, aku menyewanya untuk kamu, tenang, dia bersih kok”, jawab suamiku.
Pantas goyangan dan pompaannya begitu professional.
“Tapi kamu puas kan sama hadiahnya?”, tanya suamiku lagi.
Aku hanya tersenyum, aku nggak mau munafik semalam aku sangat menikmatinya dan mungkin suatu saat rindu untuk mengulanginya lagi. Jujur aku merasa menjadi wanita sejati semalam.
“Ya sudah kalau kamu menikmatinya, aku ke bawah dulu mau cari rokok, ini sisa pembayaran buat si Ivan, nanti serahkan saja ke dia”, kata suamiku sambil pergi meninggalkan kamar.
Di dalam kamar aku termenung mengingat kejadian semalam, sungguh luar biasa, sungguh fantastis. Tibatiba mataku tertuju kepada Ivan dalam hati aku memuji ganteng juga, badannya sangat atletis. Dalam hatiku terbersit keinginan untuk menikmati Ivan saat suamiku tidak ada, bukankah nggak masalah kalaupun suamiku sampai tahu, bukankah semalam si Ivan juga sudah menikmati vaginaku di depan suamiku.
Untuk memuaskan penasaranku bagaimana bersetubuh dengan gigolo maka dengan lembut aku membangunkan si Ivan dengan cara menghisap kontolnya yang masih kecil, perlahanlahan kontol itupun menjadi besar, gagah, berotot dan menjulang. Ivan terbangun, aku minta dipuaskan Ivan dengan cara gigolo yang paling profesional, kami mengulanginya dua kali ditempat tidur dan dikamar mandi, kami mandi bersama. Sekali lagi aku sangat puas. (nggak usah dibahas mengenai gayanya ya.. karena sama seperti cerita yang lain ya begitu begitu juga, yang berbeda cuma nikmatnya aja)
Sampai saat ini aku masih terkenang dengan kejadian itu, tetapi aku tidak pernah lagi berhubungan seks dengan lelaki lain, biar bagaimanapun bagi wanita seks harus didukung dengan cinta, yang aku lakukan dulu juga karena aku mencintai suamiku. Tetapi kalau di kemudian hari suamiku mengajakku ber-threesome lagi, tentu saja aku tidak keberatan. Malahan sekarang terlintas di benakku bagaimana jika melakukan foursome atau gangbang sekalian. Walau begitu kenangan tersebut akan kupakai untuk berfantasi saat bersetubuh dengan suamiku ataupun bermasturbasi.
Demikian kisahku, mohon komentarnya, mohon maaf kalau tulisannya nggak begitu bagus buat dibaca, habis ini tulisan pertamaku sih. Kalau ada komentar silakan hubungi aku, aku nggak membatasi lakilaki atau perempuan, boleh kok semuanya menghubungiku.

KENIKMATAN BERSAMA TEMAN SUAMIKU

 

Sebut saja nama ku Eni, wanita umur 30 thn dan orang-orang bilang bentuk tubuhku amatlah proposional, tinggi 170 cm berat 55kg dan ukuran buah dada 34B, ditunjang wajah cantik (itu juga orang-orang yang bilang) dan kulit putih cerah. Sebelumnya aku memang belum pernah bekerja. Menikah dengan Adit, 40 thn, seorang pekerja sukses. Kami memang sepakat utk tidak punya anak terlebih dahulu dan kehidupan seks kami baik-baik saja, Adit dapat memenuhi kebutuhan seks ku yang boleh dibilang agak hyper..sehari bisa minta 2 sesi pagi sebelum Adit berangkat kerja dan malam sebelum tidur. Dan cerita ini berawal dari kesuksesan Adit bekerja di kantornya dan mendapat kepercayaan dari sang atasan yang sangat baik. Kepercayaan ini membuat dia sering harus bekerja Lembur, pada awalnya aku bisa menerima semua itu tetapi kelamaan kebutuhan ini harus dipenuhi juga dan itulah yang membuat kami sering bertengkar karena kadang Adit harus berangkat lebih pagi dan lewat tengah malam baru pulang.

Mulailah cerita ini ketika Adit mendapat tanggung jawab untuk menangani suatu proyek dan dia dibantu oleh rekan kerjanya Rokany dari luar kota. Pertama diperkenalkan Rokany langsung seperti terkesima dan sering menatapku, hal itu membuatku risih. Rokany cukup tampan gagah dan kekar. Karena tuntutan pekerjaan dan efisiensi, kantor Adit memutuskan agar Rokany tinggal di rumah kami utk sementara. Dan memang mereka berdua sering bekerja hingga larut malam di rumah kami. Rokany tidur di kamar persis di seberang kamar kami.

Sering di malam hari aku berpamitan tidur matanya yang nakal suka mencuri pandang diantara sela-sela baju tidur yang aku kenakan. Aku memang senang tidur bertelanjang agar jika Adit datang bisa langsung bercinta. Pernah suatu saat ketika pagi hari aku dan Adit bercinta di dapur waktu masih pagi sekali dengan posisiku duduk di meja dan Adit dari depan, tiba-tiba Rokany muncul dan melihat kami, dia menempelkan telunjuk dimulutnya agar aku tidak menghentikan kegiatan kami, karena kami sedang dalam puncaknya dan Adit yang membelakangi Rokany dan aku juga tidak tega menghentikan Adit, akhirnya ku biarkan Rokany melihat kami bercinta tanpa Adit sadari hingga kami berdua orgasme. Dan aku tahu Rokany melihat tubuh telanjangku ketika Adit melepaskan Rudal nya dan terjongkok di bawah meja.

Setelah kejadian itu Rokany lebih sering memperhatikan tiap lekuk tubuhku. Sampai suatu waktu ketika pekerjaan Adit betul-betul sibuk sehingga hampir seminggu tidak menyentuhku. Di hari Rabu kantor tempat Adit bekerja mengadakan pesta dinner bersama di rumah atasan Adit. Rumahnya terdiri dari dua lantai yang sangat mewah di lantai 2 ada semacam galeri barang2 antik. Kami datang bertiga dan malam itu aku mengenakan pakaian yang sangat seksi, gaun malam warna merah yang terbuka di bagian belakang dan hanya dikaitkan di belakang leher oleh kaitan kecil sehingga tidak memungkinkan memakai BH, bagian bawahpun terdapat sobekan panjang hingga sejengkal di atas lutut, malam itu saya merasa sangat seksi dan Rokany pun sempat terpana melihatku keluar dari kamar.

Sebelum berangkat aku dan Adit sempat bercinta di kamar dan tanpa sepengetahuan kami ternya Rokany mengintip lewat pintu yang memang kami ceroboh tidak tertutup sehingga menyisakan celah yang cukup untuk melihat kami dari pantulan cermin, sayangnya karena letih atau terburu-buru mau pergi Adit orgasme terlebih dahulu dan aku dibiarkannya tertahan. Dan Rokany mengetahui hal itu.

Malam itu ketika acara sangat ramai tiba-tiba Adit dipanggil oleh atasannya untuk diperkenalkan oleh customer. Adit berkata padaku untuk menunggu sebentar, sambil menunggu aku ke lantai 2 untuk melihat barang2 antik, di lantai 2 ternyata keadaan cukup sepi hanya 2-3 orang yang melihat-lihat di ruangan yang besar itu. Aku sangat tertarik oleh sebuah cermin besar di pojokan ruangan, tanpa takut aku melihat ke sana dan mengaguminya juga sekaligus mengagumi keseksian tubuhku di depan cermin, tanpa ku sadari di sampingku sudah berada Rokany. “Udah nanti kacanya pecah lho..cakep deh..!”, canda Rokany “Ah bisa aja kamu Rokany”,balasku tersipu. Setelah berbincang2 di depan cermin cukup lama Rokany meminta tolong dipegangkan gelasnya sehingga kedua tanganku memegang gelasnya dan gelasku. “Aku bisa membuat kamu tampak lebih seksi”,katanya sambil langsung memegang rambutku yang tergerai dengan sangat lembut.

Tanpa bisa mengelak dia telah menggulung rambutku sehingga menampak leherku yang jenjang dan mulus dan terus terang aku seperti terpesona oleh keadaan diriku yang seperti itu. dan memang benar aku terlihat lebih seksi. Dan saat terpesona itu tiba-tiba tangan Rokany meraba leherku dan membuatku geli dan detik berikutnya Rokany telah menempelkan bibirnya di leher belakangku, daerah yang paling sensitif buatku sehingga aku lemas dan masih dengan memegang gelas Rokany yang telah menyudutkanku di dinding dan menciumi leherku dari depan. “Rokany apa yang kamu lakukan..lepaskan aku Rokany..lepas..!”,rontaku tapi Rokany tahu aku tidak akan berteriak di suasana ini karena akan mempermalukan semua orang. Rokany terus menyerangku dengan kedua tanganku memegang gelas dia bebas meraba Payudara ku dari luar dan terus menciumi leherku, sambil meronta-ronta aku merasakan gairahku meningkat, apalagi saat tiba- tiba tangan Rokany mulai meraba belahan bawah gaunku hingga ke selangkanganku. “Rokany..hentikan Rokany aku mohon..tolong Rokany..jangan lakukan itu..”,rintihku, tapi Rokany terus menyerang dan jari tengah tangannya sampai di bibir Apem ku yang ternyata telah basah karena serangan itu.

Dia menyadari kalau aku hanya mengenakan G-string hitam dengan kaitan di pinggirnya, lalu dengan sekali sentakan dia menariknya dan terlepaslah G-stringku. Aku terpekik pelan apalagi merasakan ada benda keras mengganjal pahaku. Ketika Rokany sudah semakin liar dan akupun tidak dapat melepaskan, tiba-tiba terdengar suara Adit memanggil dari pinggir tangga yang membuat pegangan himpitan Rokany terlepas, lalu aku langsung lari sambil merapikan pakaian ku menuju Adit yang tidak melihat kami dan meninggalkan Rokany dengan G-string hitamku. Aku sungguh terkejut dengan kejadian itu tapi tanpa disadari aku merasakan gairah yang cukup tinggi merasakan tantangan melakukan di tempat umum walau dalam kategori diperkosa.

Ternyata pesta malam itu berlangsung hingga larut malam dan Adit mengatakan dia harus melakukan meeting dengan customer dan atasannya dan dia memutuskan aku untuk pulang bersama Rokany. Tanpa bisa menolak akhirnya malam itu aku diantar Rokany, diperjalanan dia hanya mengakatakan “Maaf Eni..kamu sungguh cantik malam ini.” Sepanjang jalan kami tidak berbicara apaun. Hingga sampai dirumah aku langsung masuk ke dalam kamar dan menelungkupkan diri di kasur, aku merasakan hal yang aneh antara malu aku baru saja mengalami perkosaan kecil dan perasaan malu mengakui bahwa aku terangsang hebat oleh serangan itu dan masih menyisakan gairah. Tanpa sadar ternyata Rokany telah mengunci semua pintu dan masuk ke dalam kamarku, aku terkejut ketika mendengar suaranya’, “Eni aku ingin mengembalikan ini”‘ katanya sambil menyerahkan G-stringku berdiri dengan celana pendek saja, dengan berdiri aku ambil G-stringku dengan cepat, tapi saat itu juga Rokany telah menyergapku lagi dan langsung menciumiku sambil langsung menarik kaitan gaun malamku, maka bugilah aku diahadapannya. Tanpa menunggu banyak waktu aku langsung dijatuhkan di tempat tidur dan dia langsung menindihku.

Aku meronta- ronta sambil menendang- nendang?”Rokany..lepaskan aku Rokany..ingat kau teman suamiku Rokany..jangan..ahh..aku mohon”, erangku ditengah rasa bingung antara nafsu dan malu, tapi Rokany terus menekan hingga aku berteriak saat Rudal nya menyeruak masuk ke dalam Apem ku, ternyata dia sudah siap dengan hanya memakai celana pendek saja tanpa celana dalam. “Ahhhh?Braam..kau..:’ Lalu mulailah dia memompaku dan lepaslah perlawananku, akhirnya aku hanya menutup mata dan menangis pelan..clok..clok..clok..aku mendengar suara Rudal nya yang besar keluar masuk di dalam Apem ku yang sudah sangat basah hingga memudahkan Rudal nya bergerak. Lama sekali dia menggenjot Apem ku dan aku hanya terbaring mendengar desah nafasnya di telingaku, tak berdaya walau dalam hati menikmatinya. Sampai kurang lebih satu jam aku akhirnya melenguh panjang “Ahhh?..” ternyata aku orgasme terlebih dahulu, sungguh aku sangat malu mengalami perkosaan yang aku nikmati. Sepuluh menit kemudian Rokany mempercepat pompaannya lalu terdengar suara Rokany di telingaku “Ahhh..hmmfff?” aku merasakan Apem ku penuh dengan cairan kental dan hangat sekitar 30 detik kemudian Rokany terkulai di atasku. “Maaf Eni aku tak kuasa menahan nafsuku..”bisiknya pelan lalu berdiri dan meninggalkanku terbaring dan menerawang. hinga tertidur Aku tak tahu jam berapa Adit pulang hingga pagi harinya.

Esok paginya seperti biasa aku berenang di kolam renang belakang, Adit dan Rokany berpamitan untuk nerangkat ke kantor. Karena tak ada seorang pun aku memberanikan diri untuk berenang tanpa pakaian. Saat asiknya berenang tanpa disadari, Rokany ternyata beralasan tidak enak badan dan kembali pulang, karena Adit sangat mempercayainya maka dia izinkan Rokany pulang sendiri. Rokany masuk dengan kunci milik Adit dan melihat aku sedang berenang tanpa pakaian. Lalu dia bergerak ke kolam renag dan melepaskan seluruh pakaiannya, saat itulah aku sadari kedatangannya, “Rokany..kenapa kau ada di sini?” tanyaku, “Tenang Eni suaimu ada di kantor sedang sibuk dengan pekerjaannya”, aku melihat tubuhnya yang kekar dan Rudal nya yang besar mengangguk angguk saat dia berjalan telanjang masuk ke dalam kolam “Pantas saja semalam Apem ku terasa penuh sekali”‘pikirku. Aku buru-buru berenang menjauh tetai tidak berani keluar dr dalam kolam karena tidak mengenakan pakaian apapun juga.

Saat aku bersandar di pingiran sisi lain kolam, aku tidak melihat ada tanda2 Rokany di dalam kolam. Aku mencari ke sekeliling kolam dan tiba-tiba aku merasakan Apem ku hangat sekali, ternyata Rokany ada di bawah air dan sedang menjilati Apem ku sambil memegang kedua kakiku tanpa bisa meronta. Akhirnya aku hanya bisa merasakan lidahnya merayapai seluruh sisi Apem ku dan memasuki liang senggamaku..aku hanya menggigit bibir menahan gairah yang masih bergelora dari semalam. Cukup lama dia mengerjai Apem ku, nafasnya kuat sekali pikirku. Detik berikutnya yang aku tahu dia telah berada di depanku dan Rudal nya yang besar telah meneyruak menggantian lidahnya? “Arrgghh..” erangku menahan nikmat yang sudah seminggu ini tidak tersentuh oleh Adit. Akhirnya aku membiarkan dia memperkosaku kembali dengan berdiri di dalam kolam renang. Sekarang aku hanya memeluknya saja dan membiarkan dia menjilati Payudara ku sambil terus memasukan Rudal nya keluar masuk. Bahkan saat dia tarik aku ke luar kolam aku hanya menurutinya saja, gila aku mulai menikamti perkosaan ini, pikirku, tapi ternyata gairahku telah menutupi kenyataan bahwa aku sedang diperkosa oleh teman suamiku.

Di pinggir kolam dia membaringkanku lalu mulai menyetubuhi kembai tubuh mulusku..”Kau sangat cantik dan seksi Eni..ahh” bisiknya ditelingaku. Aku hanya memejamkan mata berpura-pura tidak menikmatinya, padahal kalau aku jujur aku sangat ingin memeluk dan menggoyangkan pantatku mengimbangi goyangan liarnya. Hanya suara eranggannya dan suara Rudal nya maju mundur di dalam Apem ku, clok..clok..clep..dia tahu bahwa aku sudah berada dalam kekuasaannya. Beberapa saat kemudian kembali aku yang mengalami orgasme diawali eranganku “Ahhh..” aku menggigit keras bibirku sambil memegang keras pinggiran kolam, “Nikmati sayang?”demikian bisiknya menyadari aku mengalami orgasme. Sebentar kemudian Rokany lah yang berteriak panjang, “Kau hebat Eni..aku cinta kau..AAHHH..HHH” dan aku merasakan semburan kuat di dalam Apem ku. Gila hebat sekali dia bisa membuatku menikmatinya pikirku. Setelah dia mencabut Rudal nya yang masih terasa besar dan keras, aku reflek menamparnya dan memalingkan wajahku darinya. Aku tak tahu apakah tamparan itu berarti kekesalanku padanya atau karena dia mencabut Rudal nya dari Apem ku yang masih lapar.



Setelah Adit pulang herannya aku tidak menceritakan kejadian malam lalu dan pagi tadi, aku berharap Adit dapat memberikan kepuasan padaku. Dengan hanya menggenakan kimono dengan tali depan aku dekati Adit yang masih asik di depan komputernya di dalam kamar, lalu aku buka tali kimonoku dan kugesekan Payudara ku yang besar itu ke kepalanya dari belakang, berharap da berbalik dan menyerangku. Ternyta yang kudapatkan adalah bentakannya “Eni..apakah kamu tak bisa melihat kalau aku sedang sibuk? Jangan kau ganggu aku dulu..ini untuk masa depan kita” teriaknya keras. Aku yakin Rokany juga mendengar teriakannya. Aku terkejut dan menangis, lalu aku keluar kamar dengan membanting pintu, lalu aku pergi ke pinggir kolam dan duduk di sana merenung dan menahan nafsu. Dari kolam aku bisa melihat bayangan di Adit di depan komputer dan lampu di kamar Rokany. Tampak samar-samar Rokany keluar dari kamar mandi tanpa sehelai benangpun menutupi tubuhnya. Karena di luar gelap tak mungkin dia melihatku. Tanpa sadar aku mendekat ke jendelanya dan memperhatikan Rokany mengeringkan tubuh.

Gila kekar sekali tubuhnya dan yang menarik perhatianku adalah Rudal nya yang besar dan tegang mengangguk- angguk bergoyang sekanan memanggilku. Aku malu sekali mengagumi dan mengaharapkan kembali penis itu masuk ke dalam Apem ku yang memang masih haus. Perlahan aku membelai-belai Apem ku hingga terasa basah, akhirnya aku memutuskan untuk memintanya pada Rokany, dengan hati yang berdebar kencang dan nafsu yang sudah menutupi kesadaran, aku nekat masuk ke dalam kamar Rokany dan langsung mengunci pintu dari dalam. Rokany sangat terkejut “Eni..apa yang kamu lakukan?”, aku hanya menempelkan telunjuk di bibirku dan memberi isyarat agar tidak bersuara karena Adit ada di kamar seberang. Langsung aku membuka pakaian tidurku dan terpampanglah tubuh putih mulusku tanpa sehelai benagpun di hadapannya, Rokany hanya terperangah dan menatap kagum pada tubuhku. Rokany tersenyum sambil memperlihatkan Rudal nya yang semakin membesar dan tampak berotot.

Dengan segera aku langsung berlutut di hadapannya dan mengulum Rudal nya, Rokany yang masih terkejut dengan kejadian ini hanya mendesah perlahan merasakan Rudal nya aku kulum dan hisap dengan nafsuku yang sudah memuncak. Sambil mulutku tetap di dalam Rudal nya aku perlahan naik ke atas tempat tidur dan menempatkan Apem ku di mulut Rokany yang sudah terbaring, dia mengerti maksudku dan langsung saja lidahnya melahap Apem ku yang sudah sangat basah, cukup lama kami dalam posisi itu, terinat akan Adit yang bisa saja tiba- tiba datang aku langsung mengambil inisiatif untuk merubah posisi dan perlahan duduk di atas Rudal nya yang sudah mengacung tegang dan besar panjang. Perlahan aku arahkan dan masukan ke dalam lubang Apem ku, rasanya berbeda dengan saat aku diperkosanya, perlahan tapi pasti aku merasaskan suatu sensasi yang amat besar sampai akhirnya keseluruhan batang penis Rokany masuk ke dalam Apem ku “Ahh..sssfff..rokkkk!” erangku perlahan menahan suara gairahku agar tidak terdengar, aku merasakan seluruh Rudal nya memenuhi Apem ku dan menyentuh rahimku.

Sungguh suatu sensasi yang tak terbayangkan, dan sensasi itu semakin bertambah saat aku mulai menggoyangkan pantatku naik turun sementara tangan Rokany dengan puasnya terus memainkan kedua Payudara ku memuntir-muntir putingku hingga berwarna kemerahan dan keras “ahh..ahh..” demikian erangan kami perlahan mengiringi suara Rudal nya yan keluar masuk Apem ku clok..clok..clok? Tak tahan dengan nafsunya mendadak Rokany duduk dan mengulum Payudara ku dengan rakusnya bergantian kiri kanan bergerak ke leher dan terus lagi. Aku sungguh tak dapat menahan gairah yang selama ini terpendam. Mungkin karena nafsu yang sudah sangat tertahan atau takut Adit mendengar tak kuasa aku melepaskan puncak gairahku yang pertama sambil mendekap erat Rokany dan menggigit pundaknya agar tidak bersuara, kudekap erta Rokany seakan tak dapat dilepaskan mengiringi puncak orgasmeku. Rokany merasakan Rudal nya disiram cairan hangat dan tahu bahwa aku mengalami orgasme dan membiarkanku mendekapnya sangat erat sambil memelukku dengan belaian hangatnya.

Selesai aku orgasme sekiat 30 detik, Rokany membalikan aku dengan Rudal nya masih tertancap di dalam Apem ku. Rokany mulai mencumbuku dengan menjilati leher dan putingku perlahan, entah mengapa aku kembali bernafsu dan membalas ciumannya denga mesra, lidah kami saling berpagutan dan Rokany merasakan Rudal nya kembali dapat keluar masuk dengan mudah karena Apem ku sudah kembali basah dan siap menerima serangan berikutnya. Dan Rokany langsung memompa Rudal nya dengan semangat dan cepat membuat tubuhku bergoyang dan Payudara ku bergerak naik turun dan sungguh suara yang timbul antara erangan kami berdua yang tertahan derit tempat tidur dan suara Rudal nya keluar masuk di Apem ku kembali membakar gairahku dan aku bergerak menaik turunkan pantatku untuk mengimbangi Rokany. Dan benar saja 10 menit kemudian aku sampai pada puncak orgasme yang kedua, dengan meletakan kedua kakiku dan menekan keras pantatnya hingga Rudal nya menyentuh rahimku.

Kupeluk Rokany dengan erat yang membiarkan aku menikmati deburan ombak kenikmatan yang menyerangku berkali-kali bersamaan keluarnya cairanku. Kugigit bibirku agar tidak mengeluarkan suara, cukup lama aku dalam keadaan ini dan anehnya setelah selesai aku berada dalam puncak ternyata aku sudah kembali mengimbangi gerakan Rokany dengan menaik turunkan pantatku. Saat itulah kudengar pintu kamarku terbuka dan detik berikutnya pintu kamar Rokany diketuk Adit, “Rokany..kau sudah tidur?”, demikian ketuk Adit. Langsung saja Rokany melepaskan pelukannya dan menyuruhku bersembunyi di kamar mandi. Sempat menyambar pakaian tidurku yang tergeletak di lantai aku langsung lari ke kamar mandi dan mengunci dari luar. Sungguh hatiku berdebar dengan kerasnya membayangkan apa jadinya jika aku ketahuan suamiku. Rokany dengan santai dan masih bertelanjang membuka pintu dan mengajak Adit masuk, Adit sempat terkejut melihat Rokany telanjang,”Sedang apa kamu Rokany” tanpa curiga dengan tempat tidur yang berantakan yang kalau diperhatikan dari dekat ada cairan kenikmatanku. Rokany hanya tersenyum dan mengatakan,”Mau tau aja..” Dasar Adit dia langsung membicarakan suatu hal pekerjaan dan mereka terlibat pembicaraan itu. Kurang lebih sepuluh menit mereka berbicara dan sepuluh menit juga hatiku sungguh berdebar-debar tapi anehnya dengan keadaan ini nafsuku sungguh semakin menjadi-jadi.

Setelah Adit keluar, Rokany kembali mengunci pintu kamar dan mengetuk kamar mandi perlahan,”Eni buka pintunya..sudah aman”. Begitu aku buka pintunya Rokany langsung menarik aku dan mendudukanku di meja dekat kamar mandi, langsung saja dibukanya kedua kakiku dan bless Rudal nya kembali memenuhi Apem ku “Ahhh..ahh..” erangan kami berdua kembali terdengar perlahan sambil terus menggoyangkan pantatnya maju mundur Rokany melahap Payudara ku dan putingku. Sepuluh menit berlalu dan goyang Rokany semakin cepat sehingga aku tahu dia akan mencapai puncaknya, dan akupun merasakan hal yang sama “rokkk lebih cepat sayang aku sudah hampir keluar..” desahku “Tahan sayang kita bersamaan keluarnya”, dan benar saja saat kurasakan maninya menyembur deras dalam Apem ku aku mengalami orgasme yang ketiga dan lebih hebat dari yang pertama dan kedua, kami saling berpelukan erat dan menikmati puncak gairah itu bersamaan. “rokkk..,” desahku tertahan. “Ahhh Eni..kau hebat..” demikian katanya. Akhirnya kami saling berpelukan lemas berdua, sungguh suatu pertempuran yang sangat melelahkan. Saat kulirik jam ternyata sudah dua jam kami bergumul. “Terima kasih Rokany..kau hebat..” kataku dengan kecupan mesra dan langsung memakai pakaian tidurku kembali dan kembali ke kamarku.

Adit tidak curiga sama sekali dan tetap berkutat dengan komputernya dan tidak menghiraukanku yang langsung berbaring tanpa melepas pakaianku seperti biasanya karena aku tahu ada bekas ciuman Rokany di sekujur Payudara ku. Malam itu aku merasa sangat bersalah pada Adit tapi di lain sisi aku merasa sangat puas dan tidur dengan nyenyaknya. Esoknya seperti biasa di hari Minggu aku dan Adit berenang di pagi hari tetapi mengingat adanya Rokany, kami yang biasanya berenang bertelanjang akhirnya memutuskan memakai pakaian renang, aku syukuri karena hal ini dapat menutupi Payudara ku yang masih memar karena gigitan Rokany. Saat kami berenang aku menyadari bahwa Rokany sedang menatap kami dari kamarnya. Dan saat Adit sedang asyik berenang kulihat Rokany memanggilku dengan tangannya dan yang membuat aku terkejut dia menunjukan Rudal nya yang sudah mengacung besar dan tegang. Seperti di hipnotis aku nekat berjalan ke dalam.”Mas, aku mau ke dalam ambil makanan ya..!” kataku pada Adit, dia hanya mengiyakan sambil terus berenang, Adit memang sangat hobi berenang bisa 2 jam nonstop tanpa berhenti.

Dengan tergesa masuk ke dalam dan menuju kamar Rokany. Di sana Rokany sudah menunggu dan tak sabar dia melucuti pakain renangku yang memang hanya menggunakan tali sebagai pengikatnya. “Gila kamu Rokany..bisa ketahuan Adit lho,” protesku tanpa perlawanan karena aku sendiri sangat bergairah oleh tantangan ini. dan dengan kasar dia menciumi punggungku sambil meremas Payudara ku “Tapi kamu menikmatinya khan?!,” goda Rokany sambil mencium leher belakangku. Dan aku hanya mendesah menahan nikmat dan tantangan ini. Yang lebih gila Rokany menarikku ke jendela dan masih dari belakang dia meremas- remas Payudara ku dan meciumi punggung hingga pantatku, “Gila kau Rokany, Adit bisa melihat kita,” tapi anehnya aku tidak berontak sama sekali dan memperhatikan Adit yang benar-benar sangat menikamti renangnya. Di kamar Rokany pun aku sangat menikmati sentuhan Rokany. “eny kamu suka ini khan?” tanyanya sambil dengan keras menusukan Rudal nya ke dalam Apem ku dari belakang. “AHH..Rokany..” teriakku kaget dan nikmat, sekarang aku berani bersuara lebih kencang karena tahu Adit tidak akan mendengarnya. Langsung saja Rokany memaju mundurkan Rudal nya di Apem ku..”Ahh.. Rokany lebih kencang..fuck me Rokany..puaskan aku Rokany..penismu sungguh luar biasa..Rokany aku sayang kamu..” teriakku tak keruan dengan masih memperhatikan Adit. Rokany mengimbangi dengan gerakan yang liar hingga Apem ku terasa lebih dalam lagi tersentuh Rudal nya dengan posisi ini,”Eni..khhaau hhebat..” desahnya sambil terus menekanku, kalau saja Adit melihat sejenak ke kamar Rokany maka dia akn sangat terkejut meilhat pemandangan ini, istrinya sedang bercinta dengan rekan kerjanya. Ternyata kami memang bisa saling mengimbangi, kali ini dalam waktu 20 menit kami sudah mencapai puncak secara bersamaan “Teruuus Rokany lebih keeennceeng..ahhhh aku keluar rokkkkk”, teriaku. “Aaakuu juga eni..nikkkkmat ssekali mmmeemeekmu..aahhhhh.” teriaknya bersamaan dengan puncak kenikmatan yang datang bersamaan. Setelah itu aku langsung mencium bibirnya dan kembali mengenakan pakaian renangku dan kembali berenang bersama Adit yang tidak menyadari kejadian itu.

Setelah itu hari-hari berikutnya sungguh mendatangkan gairah baru dalam hidupku dengan tantangan bercinta bersama Rokany. Pernah suatu saat ketika akhirnya Adit mau bercinta denganku di suatu malam hingga akhirnya dia tertidur keEnihan, aku hendak mengambil susu di dapur dan karena sudah larut malam aku nekat tidak mengenakan pakaian apapun. Saat aku membungkuk di depan lemari es sekelebat ku lihat bayangan di belakangku sebelum aku menyadari Rokany sudah di belakangku dan langsung menubruku dari belakang. Rudal nya langsung menusuk Apem ku yang membuatku hanya tersedak dan menahan nikmat tiba-tiba ini. Kami bergumul di lantai dapur lalu dia mengambil kursi dan duduk di atasnya sambil memangku aku, “Rokany kamu nakal” desahku yang juga menikmatinya dan kami bercinta hingga hampir pagi di dapur. Sungguh bersama Rokany kudapatkan gairah terpendamku selama ini. Akhirnya ketika proyek kantor Adit selesai Rokany harus pergi dari rumah kami dan malam sebelum pergi aku dan Rokany menyempatkan bercinta kembali.

 

Kamis, 24 Oktober 2024

Yanti Kakak Iparku gairahku


 

Kejadian ini berlangsung kira-kira 2 tahun yang lalu, waktu itu aku diminta oleh ibu mertua untuk mengambil suatu barang di rumah kakak ipar perempuanku sekalian menengok dia karena sudah lama tidak ketemu. Kakak iparku ini (sebut saja namanya Yanti) memang tinggal sendirian, walaupun sudah kawin tetapi belum punya anak dan saat ini sudah pisah ranjang dengan suaminya yang kerja di kota lain. Aku sampai di rumahnya sekitar jam 19:00 dan langsung mengetuk pintu pagarnya yang sudah terkunci. Tak lama kemudian Ina muncul dari dalam dan sudah tahu bahwa aku akan datang malam ini.
“Ayo dit, masuk. . , langsung dari kantor?, Sorry pintunya sudah digembok, soalnya Yanti tinggal sendiri jadi harus hati-hati”, Sambutnya.
Yanti malam itu sudah memakai daster tidur karena toh yang bakalan datang juga masih terhitung adiknya, daster yang dia pakai mempunyai potongan leher yang lebar dengan model tangan ‘you can see’.

Kami kemudian ngobrol dan nonton TV sambil duduk bersebelahan di sofa ruang tengah. Selama ngobrol, Yanti sering bolak-balik mengambil minuman dan snack buat kita berdua. Setiap dia menyajikan makanan atau minuman di meja, secara tidak sengaja aku mendapat kesempatan melihat kedalam dasternya yang menampilkan kedua teteknya secara utuh karena Yanti tidak memakai BH lagi dibalik dasternya. Yanti memang cantik, tubuhnya tinggi semampai dengan kulit yang putih dan rambut yang panjang tergerai. Walaupun sudah kawin cukup lama tapi karena tidak punya anak tubuhnya masih terlihat langsing dan ramping. Teteknya yang kelihatan olehku, walaupun tidak terlalu besar tetapi tetap padat dan membulat. Melihat pemandangan begini terus-menerus aku mulai tidak bisa berpikir jernih lagi dan puncaknya tiba-tiba kusergap dan tindih Yanti di sofa sambil berusaha menciumi bibirnya dan meremas-remas teteknya.
Yanti kaget dan menjerit, “dit, apa-apaan kamu ini!”.
Dengan sekuat tenaga dia mencoba berontak, menampar, mencakar dan menendang-nendang. Tapi perlawanannya membuat birahiku semakin tinggi apalagi akibat gerakannya itu pakaiannya menjadi makin tidak karuan dan semakin merangsang.
“Breett. . “, daster bagian atas kurobek ke bawah sehingga sekarang kedua teteknya terpampang dengan jelas. Putingnya yang berwarna coklat tua terlihat kontras dengan kulitnya yang putih bersih.
Yanti terlihat shock dengan kekasaranku, perlawanannya mulai melemah dan kedua tangannya berusaha menutup dadanya yang terbuka.
“dit. . , ingat, kamu itu adik iparku. . “, rintihnya memelas.
Aku tidak mempedulikan rintihannya dan terus kutarik daster yang sudah robek itu ke bawah sekaligus dengan celana dalamnya yang sudah aku tidak ingat lagi warnanya. Sekarang dengan jelas dapat kulihat memeknya yang ditumbuhi dengan bulu-bulu hitam yang terawat baik.

Setelah berhasil menelanjangi Yanti, kulepaskan pegangan pada dia dan berdiri di sampingnya sambil mulai melepaskan bajuku satu persatu dengan tenang. Yanti mulai menangis sambil meringkuk di atas sofa sambil sebisa mungkin mencoba menutupi badannya dengan kedua tangannya. Saat itu pikiranku mulai jernih kembali menyadari apa yang telah kulakukan tapi pada titik itu, aku merasa tidak bisa mundur lagi dan aku putuskan untuk berlaku lebih halus.
Setelah aku sendiri telanjang, kubopong tubuh mungil Yanti ke kamarnya dan kuletakkan dengan lembut di atas ranjang. Dengan halus kutepiskan tangannya yang masih menutupi tetek dan memeknya, kemudian aku mulai menindih badannya. Yanti tidak melawan. Yanti memalingkan muka dengan mata terpejam dan berurai air mata setiap kali aku mencoba mencium bibirnya. Gagal mencium bibirnya, aku teruskan menciumi telinga, leher dada dan berhenti untuk mengulum puting dan meremas-remas tetek satunya lagi. Ina tidak bereaksi. Aku lanjutkan petualangan bibirku lebih ke bawah, perut dan memeknya sambil merentangkan pahanya lebar-lebar terlebih dahulu. Aku mulai dengan menjilati dan menghisap clitorisnya yang cukup kecil karena sudah disunat (sama dengan istriku). Yanti mulai bereaksi. Setiap kuhisap clitorisnya Yanti mulai mengangkat pantatnya mengikuti arah hisapan.

Kemudian dengan lidah, kucoba membuka labia minoranya dan memainkan lidahku pada bagian dalam memeknya. Tangan Yanti mulai meremas-remas kain sprei sambil menggigit bibir. Ketika memeknya mulai basah kumasukkan jari menggantikan lidahku yang kembali berpindah ke puting teteknya. Mula-mula hanya satu jari kemudian disusul dua jari yang bergerak keluar masuk memeknya. Yanti mulai berdesah dan memalingkan mukanya ke kiri dan ke kanan. Sekitar dua atau tiga menit kemudian aku tarik tanganku dari memeknya. Merasakan ini, Yanti membuka matanya (yang selama ini selalu tertutup) dan menatapku dengan pandangan penuh harap seakan ingin diberi sesuatu yang sangat berharga tapi tidak berani ngomong. Aku segera merubah posisi badanku untuk segera menyetubuhinya. Melihat posisi ‘tempur’ seperti itu, pandangan matanya berubah menjadi tenang dan kembali menutup matanya. Kuarahkan kontolku ke bibir memeknya yang sudah berwarna merah matang dan sangat becek itu. Secara perlahan kontolku masuk ke memeknya dan Yanti hanya mengigit bibirnya. Tiba-tiba tangan Yanti bergerak memegang sisa kontolku yang belum sempat masuk, sehingga penetrasiku tertahan.
“dit, kita tidak boleh melakukan hal ini. . “, Kata Yanti setengah berbisik sambil memandangku.
Tapi waktu kulihat matanya, sama sekali tidak ada penolakkan bahkan lebih terlihat adanya birahi yang tertahan. Aku tahu dia berkata begitu untuk berusaha memperoleh pembenaran atas perbuatan yang sekarang jadi sangat diinginkannya.
“Tidak apa-apa ‘teh, kita kan bukan saudara kandung, jadi ini bukan incest”, Jawabku.
“Nikmati saja dan lupakan yang lainnya”.
Mendengar perkataanku itu, Yanti melepaskan pegangannya pada kontolku yang sekaligus aku tangkap sebagai instruksi untuk melanjutkan ‘perkosaannya’. Dalam ‘posisi standard’ itu aku mulai memompa Yanti dengan gerakan perlahan, setiap kali kontolku masuk, aku ambil sisi memek yang berbeda sambil mengamati reaksinya. Dari eksperimen awal ini aku tahu bahwa bagian paling sensitif dia terletak pada dinding dalam bagian atas yang kemudian menjadi titik sasaran kontolku selanjutnya.

Strategi ini ternyata cukup efektif karena belum sampai dua menit Yanti sudah orgasme, tangannya yang asalnya hanya meremas-remas sprei tiba-tiba berpindah ke pantatku. Yanti dengan kedua tangannya berusaha menekan pantatku supaya kontolku masuk semakin dalam, sedangkan dia sendiri mengangkat dan menggoyangkan pantatnya untuk membantu semakin membenamnya kontolku itu. Untuk sementara kubiarkan dia mengambil alih.
“sshh. . , aahh”, rintihnya berulang-ulang setiap kali kontolku terbenam.
Setelah Yanti mulai reda, inisiatif aku ambil kembali dengan merubah posisi badanku untuk style ‘pumping flesh’ untuk mulai memanaskan kembali birahinya yang dilanjutkan dengan style ‘stand hard’ (kedua kaki Yanti dirapatkan, kakiku terbuka dan dikaitkan ke betisnya). Style ini kuambil karena cocok dengan cewek yang bagian sensitifnya seperti Yanti dimana memek Yanti tertarik ke atas oleh gerakan kontol yang cenderung vertikal. Yanti mengalami dua kali orgasme dalam posisi ini.
Ketika gerakan Ina semakin liar dan juga aku mulai merasa akan ejakulasi aku rubah stylenya lagi menjadi ‘frogwalk’ (kedua kaki Yanti tetap rapat dan aku setengah berlutut/berjongkok). Dalam posisi ini setiap kali aku tusukkan kontolku, otomatis memek sampai pantat Yanti akan terangkat sedikit dari permukaan kasur menimbulkan sensasi yang luar biasa sampai pupil mata Yanti hanya terlihat setengahnya dan mulutnya mengeluarkan erangan bukan rintihan lagi.
“Na, aku sudah mau keluar. Di mana keluarinnya?”, Kataku sambil terus memompa secara pelan tapi dalam.
“ddi dalam saja. . , di dalam saja, aahh. . , jangan pedulikan”, Yanti mejawab ditengah erangan kenikmatannya.
“Aku keluar sekarraang. . “, teriakku.
Aku tekan memeknya keras-keras sampai terangkat sekitar 10 cm dari kasurnya dan cairan kenikmatan tersemprot dengan kerasnya yang menyebabkan untuk sesaat aku lupa akan dunia.
“Jangan di cabut dulu dit. . “, bisik Yanti.
Sambil mengatur napas lagi, aku rentangkan kembali kedua paha Yanti dan aku pompa kontolku pelan-pelan dengan menekan permukaan bawah memek pada waktu ditarik. Dengan cara ini sebagian sperma yang tadi disemprotkan bisa dikeluarkan lagi sambil tetap dapat menikmati sisa-sisa birahi. Yanti menjawabnya dengan hisapan-hisapan kecil pada kontolku dari memeknya
“dit, kenapa kamu lakukan ini ke Yanti?”, tanyanya sambil memeluk pinggangku.
“Kamu sendiri rasanya gimana?”, aku balik bertanya.
“Mulanya kaget dan takut, tapi setelah kamu berubah memperlakukan Yanti dengan lembut tiba-tiba birahi Yanti terpancing dan akhirnya turut menikmati apa yang belum pernah Yanti rasakan selama ini termasuk dari suami Yanti”, Jawabnya.

Kita kemudian mengobrol seolah-olah tidak ada kejadian apa-apa dan sebelum pulang kusetubuhi Yanti sekali lagi, kali ini dengan sukarela. Sejak malam itu, aku ‘memelihara’ kakak iparku dengan memberinya nafkah lahir dan batin menggantikan suaminya yang sudah tidak mempedulikannya lagi. Yanti tidak pernah menuntut lebih karena istriku adalah adiknya dan aku membalasnya dengan menjadikan ‘pendamping tetap’ setiap aku pergi ke luar kota atau ke luar negeri.

Memang selama ini yanti pun sama menyimpan hasrat birahi yang tinggi terhadapku jadi ketika sesuatu itu terjadi ibarat satu aliran yang masuk antara positif dan negative  maka akan menimbulkan sebuah kumparan api yang meletup tinggi.