Kamis, 24 Oktober 2024

yanti kakak iparku yang terlena


 

Sudah lama aku mengagumi Mbak aryanti (biasa dipanggil Mbak Yanti), kakak dari suami istriku, orangnya tidak terlalu tinggi sekitar 160 cm tingginya, dengan wajah cantik alami, kuning langsat dan yang membuatku terpesona adalah buah dadanya yang begitu padat (belakangan baru aku ketahui kalau ternyata ukurannya 38C), ditambah dengan body-nya yang sintal menambah kesan seksi.

Dibandingkan dengan istriku susan, dia lebih seksi dan dewasa, karena profesi dia sebagai agen yang mengharuskan dia ramah dan mudah bergaul dengan lainnya. Usianya hanya satu tahun lebih tua dari usia istriku yang 30 tahun.

Selama ini Mbak Yanti sudah kuanggap sebagai kakak sendiri, karena dia memang selalu menjaga jarak dan bersikap anggun, sehingga aku semakin menghormatinya, meskipun di dalam hati ada hasrat liar untuk menikmati kemolekan tubuhnya.

Meskipun sudah menikah dan punya satu anak, tetapi postur tubuhnya masih tidak berubah, bahkan bertambah padat karena terus dilatih dengan olahraga yang teratur.

Hari Sabtu itu di rumahku suasananya sepi, susan masuk kerja karena tutup buku di kantornya, sedangkan aku sendirian di rumah nonton TV, di luar hujan turun dengan derasnya disertai petir yang menggelegar.
“Ding dong.., Ding dong..” bel rumahku berbunyi.

“Ah, siapa sih hujan-hujan begini ngganggu orang saja..!” pikirku sambil malas mendekati pintu depan.
Ternyata Mbak Yanti di luar pagar kehujanan dengan blazer-nya yang basah kuyup, segera kubuka pintu pagar dan mempersilakan dia segera masuk.

“Sorry dit, aku mampir kesini, abis Mas iwan (suaminya) belum pulang dari menjemput si lia (anaknya).” katanya sambil menggigil kedinginan.

Tanpa menunggu jawabanku, Mbak Yanti langsung masuk dan melepas jas luarnya yang basah, sehingga terlihat baju dalamnya yang tipis dan basah, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah. BH hitam kelihatan membayang di balik baju putihnya, sementara tonjolan di dadanya seolah menantang, karena baju basah itu begitu menempel di tubuhnya.

Sungguh pemandangan yang sangat indah yang tidak disangka-sangka dapat kusaksikan di hari itu.
“Mbak Yanti mandi aja dulu dengan air hangat, biar tidak masuk angin, nanti kuambilkan bajunya si susan..” kataku setelah tersadar dari ketakjuban.

Ketika Mbak Yanti mandi, kucarikan baju susan yang kira-kira cukup untuk dia dan terutama yang kelihatan seksi, atau paling tidak dapat menikmati lebih lama keindahan tubuh yang telah lama kuidamkan, apalagi perkiraanku dia pasti tidak akan memakai celana dalam dan BH-nya yang basah, sedikit banyak pasti akan segera melihat sebagaian tubuhnya yang indah.

 “dit.., tolong handuk dong..!” teriak Mbak Yanti dari kamar mandi.
“Ah, begonya aku sampai lupa tidak menyiapkan handuk dulu..!” batinku.

Sambil berlari kuambil handuk dari dalam lemari dan kuberikan ke Mbak Yanti yang sudah menunggu di pintu kamar mandi, tetapi dasar sial (atau keberuntungan), karena terburu-buru aku tidak melihat lantai licin karena tetesan air hujan dari tubuh Mbak Yanti yang basah, sehingga aku terpeleset.

Akibatnya dengan tanpa dapat dikontrol lagi, tubuhku terhuyung-huyung menerobos ke pintu kamar mandi dimana Mbak Yanti sudah menunggu dalam keadaan telanjang.

“Brak..!” tubuhku menabrak pintu dan menerobos masuk ke dalam tanpa dapat ditahan lagi oleh Mbak Yanti, langsung aku terduduk di lantai kamar mandi, sementara Mbak Yanti yg berdiri telanjang di depanku tertegun sampai lupa menutup sebagian tubuhnya yang sensual.
Sesaat kami berdua tertegun tanpa berbuat apa-apa, akhirnya aku sadar dan memberikan handuk itu ke Mbak Yanti.

“Sorry Mbak..” kataku segera menyerahkan handuk yang masih kupegang, terus keluar dari kamar mandi dengan terpincang-pincang.
“Ah nggak apa-apa kok, kan kecelakaan, nggak sengaja..” katanya memaklumi peristiwa tadi.

Setelah mengganti celana pendekku yang basah, di depan TV aku tidak dapat berkonsentrasi. Meskipun mataku tertuju ke layar TV, tetapi bayangan indah tubuh Mbak Yanti sungguh sangat menggoda dan terus membayang di benakku. Kemudian Mbak nining keluar dari kamar mandi dengan berbalut handuk yang tidak mampu menutupi seluruh tonjolan bukit di dadanya.

“Ini Mbak bajunya..” kataku masih gemeteran sambil memberikan daster (lebih tepatnya baju tidur) milik susan, sambil langsung ke dapur mengambil air minum untuk menenangkan diri.

Kulihat pintu kamar belakang (kamar kosong untuk keluarga kalau bermain atau menginap) gelap dan tertutup, “Ah, dia masih ganti baju, atau mungkin langsung tidur..” pikirku.

Aku langsung menuju kamarku yang pintunya setengah terbuka, dan, “Aaahh..” teriak Mbak Yanti.
Ternyata dia berdiri di depan kaca rias tanpa sehelai benang pun melekat di tubuh indahnya, balutan handuknya sudah dilepas, tetapi masih belum memakai daster yang kuberikan tadi.

Tangannya berusaha menutupi bagian tubuhnya yang sempat ditutup, tetapi itu tidak berhasil dengan baik, sehingga aku masih dapat melihat tubuh telanjangnya untuk kedua kalinya dengan jelas, apalagi lampu kamar yang begitu terang, jauh lebih terang dari lampu kamar mandi, sehingga sangat jelas terlihat kemolekan dan keseksian tubuhnya.

Sebagai laki-laki normal, langsung saja alat kejantananku bereaksi keras melihat pemandangan indah tersebut.
“Sorry Mbak, aku.. aku.. kira Mbak di kamar belakang..” kataku gugup langsung keluar dan menutup pintu kamar, masih sempat kulihat dia tersenyum yang tidak dapat kuterjemahkan artinya, bingung kenapa dia di kamar utama.

“dit.., tolongin Mbak dong..!” teriaknya dari dalam kamarku.
Perlahan kubuka pintu kamar, takut kalau kejadian tadi terulang lagi, tetapi ternyata dia duduk di kursi di depan meja rias sambil menyisir rambutnya yang masih basah dan mengenakan baju tidur yang kubawakan tadi.

“Masuk aja dit, nggak usah malu-malu..” katanya pelan dan tenang.
Agak ragu aku melangkah masuk ke kamarku sendiri. Mbak Yanti berdiri mendekatiku, dan langsung memelukku, kurasakan dadanya menekan tubuhku, terasa hangat dan kenyal.

 “dit.., sudah lama aku menginginkan saat-saat ini, aku tahu kamu selalu berusaha mencuri pandang..” katanya lembut.
Aku tidak tahu harus berbuat apa, karena seolah dia menangkap basah pikiranku. Kupeluk balik dia dan kuusap punggungnya. Akhirnya aku tidak dapat menahan gejolak lagi ketika tangan Mbak Yanti mulai mengusap kejantananku yang sudah menegang sejak kehadirannya dirumahku.

Dengan penuh nafsu, kubuka baju tidur yang belum lama dipakainya dan kusibakkan rambutnya yang basah dan mulai kucium leher jenjangnya, kujilati kulit halusnya, sudah lama aku mendambakan kesempatan indah ini.
“Aaaghh.., ss.. shh..!” desahnya sambil meremas batang kejantananku.

Tidak kusia-siakan kesempatan ini, tanganku mulai mengelus dan meremas payudaranya yang besar dan indah yang sudah lama kuimpikan, begitu kenyal dan padat, meskipun sudah memiliki satu anak.

Kuturunkan ciumanku ke pundaknya, terus turun lagi, tetapi tiba-tiba tubuhnya merosot dan berjongkok di depanku, ditariknya celana pendek sekaligus celana dalamku ke bawah, sehingga menyembullah kejantananku yang sudah lama menegang. Sejenak dia tertegun melihat alat vitalku yang 17 cm panjangnya dan melengkung ke bawah.

“dit, gede banget.., jauh lebih gede dari punya Mas ian dan lagi bentuknya aneh, pasti enak deh di dalam..” katanya sambil menengadah menatapku, dan tersenyum simpul.

Sedetik kemudian dijilatinya ujungnya dan dimainkannya lidah mungil itu, menari-nari di kepala kemaluanku. Terus dijilati dari ujung hingga pangkal, kemudian turun ke kantong kemaluanku. Kuangkat kaki kananku untuk memberinya jalan supaya lebih mudah menjilati. Kemudian jilatannya naik lagi ke atas hingga akhirnya dengan agak susah dikulumnya kepala kejantananku, perlahan tetapi pasti.

Akhirnya, tiga perempat batang kejantananku masuk ke dalam mulut mungilnya. Sambil tangan kirinya mengusap-usap kantong kemaluanku, tangan kanannya memegang dan mengocok batang kemaluanku, sementara kepala batangku masih di dalam mulutnya dengan tidak lupa digoyang-goyangkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, sungguh sensasi yang luar biasa.

“Aaahh.. oosshh..” erangku sudah hampir tidak tahan.
Kupegang rambutnya dan kudorong-tarik hingga kemaluanku dapat bergerak leluasa keluar masuk di mulut seksinya.

Kuangkat tubuhnya dan kutelentangkan di ranjang, mulai kujilati puting di dadanya secara bergantian kiri dan kanan, kurasakan badannya menggelinjang-gelinjang keenakan. Terus jilatanku turun ke perut, lalu sampai ke pusar, dan akhirnya menyentuh rambut bawahnya sambil tanganku bermain di daerah liang kewanitaannya yang sudah basah.

Lidahku mulai menjelajahi daerah kemaluannya, sengaja aku tidak langsung ke arah klitoris, tetapi berputar-putar di sekitar kemaluannya, terutama di lipatan pahanya, terus turun sampai ke lubang anus dan naik lagi, diangkatnya pinggulnya turun naik mengimbangi gerakan lidahku.

“dit.. pleasse.. jangan.. goda.. aku.. begini..” desahnya sambil menarik rambutku, tetapi kata-katanya tidak kupedulikan.
Kuteruskan jilatanku mulai ke arah klitoris sambil kumasukkan tanganku ke lubang kenikmatannya, satu jari.., dua jari.., dan akhirnya tiga jari dapat masuk juga. Kugerakkan jariku keluar masuk sambil menjilat klitorisnya.

“Aaagghh.., sshh.., shh..” desahnya sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya semakin liar, seliar kilatan dan guntur di luar yang mengiri irama permainan kami.

Akhirnya kuposisikan tubuhku di atasnya, kutindih tubuhnya, masih dapat kurasakan tonjolan di dadanya yang montok itu. Sementara tubuhku di atasnya, sedikit kuangkat pantatku untuk memberi jalan tangannya supaya dapat memegang kejantananku dan diusap-usapkannya ke liang senggamanya.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, kudorong pantatku dan, “Bless..!” dan, “Aaauu..!” dia menjerit kesakitan.
Badannya menegang dan tangannya mencengkeram erat lenganku, kudiamkan sejenak. Kulihat dia memejamkan matanya, kubiarkan menikmati saat-saat seperti ini. Meskipun sudah mempunyai satu anak, tetapi liang kemaluannya masih tetap kencang seperti belum pernah melahirkan.

Perlahan ketegangannya mulai mengendur, pelan-pelan kutarik keluar batang kemaluanku, lalu pelan-pelan pula kumasukkan lagi, begitu seterusnya sehingga dia sudah dapat menyesuaikan iramanya, semakin lama semakin cepat kocokan batang keperkasaanku di dalam liang senggamanya, hingga semua masuk ke dalam, terasa menyentuh sesuatu di dalam, tetapi enak.

“Ooosshh.. ss.., yaa.. terus.. terus.. diit..!” dia mulai mengerang dan menggelinjang semakin lama semakin tidak beraturan.
Kunaikkan badanku hingga posisi jongkok bertumpu pada lutut.

Aku dapat melihat ekspresi wajahnya dan goyangan buah dadanya saat kukocok keluar masuk. Kakinya mengimbangi gerakanku dengan dinaikkannya ke pinggulku, lalu terus naik ke pundakku. Sesekali dipegangnya sendiri kedua bukit di dadanya, sehingga lebih menonjol dan kelihatan lebih seksi dari biasanya.

Sementara hujan di luar semakin deras, sederas keringat dan nafsu kami berdua, sampai akhirnya, “Ooogghh.., ya.. ya.. ya.. lebih cepat dit, aku mau keluar.., ya.. terus.. ya.. begitu.. yaa..!”

Mbak Yanti mencengkeram tanganku dengan kuat, kurasakan denyutan di dalam liang kewanitaannya. Rasanya seperti dipilin-pilin enak, aku tidak menghiraukan itu, masih terus kukocok keluar masuk meskipun dia sudah orgasme, sudah menjadi kebiasaanku kalau cewek keluar akan semakin meningkat tensi dan kocokanku.

Kubalikkan badannya hingga posisi dogie style, selanjutnya kumasukkan kejantananku ke liang senggamanya yang sudah basah itu, masih terasa seperti menyentuh ke dinding rahim, kupegang pantatnya yang padat, kutarik dan kudorong maju mundur. Aku mulai mengocok Mbak Yanti lagi, meskipun sudah kelihatan lemas, tetapi masih menggairahkan.

Dari belakang kuraih kedua buah dadanya yang menggelantung dan kugunakan sebagai pegangan untuk menggoyang-goyangkan badannya sambil sesekali kupilin-pilin putingnya yang kian membesar. Dari pantulan kaca rias, terlihat wajahnya yang meregang keenakan, tangannya mencengkeram pinggiran ranjang dengan kuatnya.

“Sss.. terus diitt.., cepaatt.. cepaatt..!” sambil mendorongkan badannya ke arahku untuk mengimbangi gerakanku yang semakin cepat dan keras, sesekali digoyangnya ke kiri dan ke kanan menambah sensual gerakannya yang semakin lama semakin liar.
Sesekali kutarik rambutnya ke belakang, semakin kujambak semakin liar gerakannya.

“Ya.., truss.. diit.. trus.., Mbak.. ke.. ke.. luar.. laagii..!” desahnya sambil menggigit ujung bantal di depannya.
Kembali terasa dinding kemaluannya berdenyut, tetapi itu tidak kuhiraukan, malah kupercepat irama permainan kami.

Sebenarnya pada saat yang bersamaan aku hampir orgasme, tetapi kutahan sejenak dan pada saat itu dia mengrudtikan goyangannya, sehingga aku ada waktu untuk menurunkan tegangan di ujung kemaluanku. Perlahan kutarik keluar kemaluanku, dia langsung telungkup, kulihat keringat membasahi punggung dan sprei, kurebahkan diriku di sampingnya.

“Kamu gila diit.., Mbak udah dua kali keluar, tapi punyamu masih tegang..” komentarnya sambil memegang dan mengocok perlahan kemaluanku yang basah oleh cairan kewanitaannya.
Kemudian dia bangkit dan diarahkannya kepalanya ke kemaluanku, dikulum dan dijilatinya batang kemaluan basah itu.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, kutarik tubuhnya dan kuposisikan dia di atasku.
“dit.., aku udah nggak kuat, beri aku istirahat sebentar..!” katanya sambil tetap memasukkan batang kemaluanku ke dalam mulut seksinya.

Kulirik jam di dinding, sudah pukul 14:30, berarti kami sudah bermain lebih dari setengah jam, sebentar lagi susan datang (biasanya dia datang sekitar pukul 15:00 sore kalau hari Sabtu), jadi tidak ada waktu lagi untuk beristirahat, aku harus menuntaskan permainan, segera sebelum susan pulang.

“Mbak.., sebentar lagi susan datang, kita selesaikan aja sekalian, ntar Mbak bisa istirahat setelah ini..” kataku.
Tiba-tiba Mbak Yanti berdiri dan keluar kamar, diambilnya wireless phone dan kudengar dia bicara dengan seseorang.

Siang.., bisa disambungkan dengan susan.. susan, adit pesan akan keluar dan kembali jam lima sore.., ada perlu dengan temannya katanya. Telpon kantormu sibuk terus, dia telpon ke rumah.. Telpon dulu, barangkali sudah datang. Atau ke rumahku.. tapi.. aku lagi ada janji sama nasabah. Mas ian ada kok.. Oke..?” sepotong-sepotong kalimatnya kudengar, tetapi dapat kutebak maknanya.

Kemudian dia masuk ke kamar lagi, langsung memeluk dan menciumi leherku.
“Kita aman sampai jam lima nanti..” katanya sambil tangannya mulai meremas batang kemaluanku lagi.
“Mbak nakal deh..!” kataku membalas ciuman bibirnya.

Tidak lama kemudian, Mbak Yanti sudah menempatkan dirinya di atasku, dengan mudahnya kemaluanku sudah terbenam semuanya ke dalam tubuhnya. Perlahan tetapi pasti, Mbak Yanti sudah mulai menggoyang pinggulnya, maju mundur, kiri kanan, berputar-putar, sementara tangannya meraba kantong kemaluanku, terasa geli dan nikmat.

Aku masih diam tidak melakukan gerakan kecuali tanganku yang aktif meraba payudaranya yang kelihatan sempurna. Sesekali kupilin-pilin seperti mencari gelombang radio.

Mbak Yanti merubah gerakannya menjadi turun naik, sehingga batang kemaluanku keluar masuk liang senggamanya, terasa sekali jepitan otot kemaluannya di batang kejantananku.
“Sss.., yess.. akh.. sshh..!” desahnya mengiringi gerakan tubuhnya.

Beberapa saat kemudian, kurasakan remasan pada batang kemaluanku, ternyata Mbak Yanti sudah orgasme untuk ketiga kalinya, langsung tubuhnya dijatuhkannya ke tubuhku.
“Sekarang giliranku..” bisikku.

Kupeluk tubuh montok Mbak Yanti dengan erat, lalu pinggulku mulai turun naik melakukan kocokan ke lubang nikmatnya, nafasnya terdengar naik turun dekat telingaku.

Aku tidak mempedulikan desahannya, justru menambah rangsangan bagiku, semakin dia mendesah semakin kuat genjotanku ke tubuhnya. Akhirnya ujung kemaluanku semakin menegang, dan dorongan di dalam tubuh semakin kuat untuk menyemburkan cairan panas dari kemaluanku.

Beberapa saat kemudian, kubisikkan ke telinganya, “Mbak aku mau keluar..” tanpa menghentikan gerakanku.
Kurasakan desakan keluar di ujung kemaluanku, dengan cepat kutarik keluar supaya spermaku tidak tumpah di dalam.

Tetapi, “Jangan ditarik dit.., keluarin di dalam aja..!” katanya sambil merapatkan pinggulnya di atas pinggangku, sehingga aku tidak dapat mengeluarkan kejantananku dari dalam.

Akhirnya aku sudah tidak tahan lagi, dan, “Crot.. crot.. crot..” hingga 12 kali semprotan di dalam liang rahimnya.
“Aaauughh..!” jeritnya ketika kusemprotkan spermaku ke dalam lubang kenikmatannya.

Terasa bibir kemaluannya menyempit dan menjepit batang kejantananku ketika ujung kemaluanku itu berdenyut. Kudiamkan sesaat di dalam hingga kurasakan pijatan halus dari dinding kemaluannya, sungguh nikmat. Lalu kucabut keluar alat kejantananku yang sudah setengah lemas. Kurebahkan Mbak Yanti di ranjang, lalu kujepitkan kemaluanku yang basah di antara buah dadanya yang montok sambil perlahan kugerakkan maju mundur.

Terasa geli enak karena sudah berpelumas cairan kami berdua, dan lagi buah dada Mbak nining mampu menjepit seluruh lingkaran kemaluanku, sesekali dijilatinya ujungnya dengan nakal.

Kami berdua terkulai lemas, tubuh Mbak Yanti masih terkulai di atas tubuhku. Kami berdua sama-sama bersimbah peluh, dinginnya AC dan suasana hujan tidak mampu menahan gejolak diri kami. Mbak nining kemudian meraih dan mengelus-elus kejantananku.

Tiba-tiba kepalanya dicondongkan dan kembali alat kejantananku yang sudah agak lemas dan basah oleh spermaku dan cairan kewanitaannya dimasukkan ke dalam mulutnya, dikulumnya, dijilatinya seperti lollypop. Sungguh aku tidak tahan diperlakukan seperti itu. Akhirnya aku menyerah karena kegelian.

Jarum jam sudah menunjukkan 15:15, masih ada waktu beberapa jam sebelum istriku susan sampai di rumah. Sambil berpelukan di ranjang, pembicaraan mengarah ke hal-hal pribadi yang selama ini tidak pernah dibicarakan, hingga akhirnya, “Kamu sungguh hebat dit.., belum pernah aku diperlakukan oleh laki-laki seperti itu, apalagi dibandingkan dengan Mas ian, jauh sekali..” katanya manis.

“Emang sebelumnya pernah dengan laki lain..?” tanyaku iseng, tetapi jawabannya sungguh diluar dugaan.
“Iya sih, just for fun aja..” jawabnya ringan tetapi cukup mengejutkanku, dan aku penasaran seberapa jauh petualang dia dalam melakukan hubungan seks.

Akhirnya dia bercerita tentang petualangan dia sebagai seorang agen eksekutif di sebuah perusahaan .

Kami masih sempat main sekali lagi di bath tub kamar mandi sambil membersihkan diri. Setelah itu kami berdua duduk berpelukan sambil nonton TV di ruang tengah seperti layaknya dia istriku sambil melanjutkan cetita petualangannya. Tepat pukul 17:30, susan istriku datang. Segera Mbak nining masuk kamar belakang untuk berganti pakaian yang lebih sopan, supaya tidak mengundang kecurigaan susan.

Setelah susan mandi dan berganti pakaian, kami bertiga duduk di ruang tengah sambil mengobrol dan nonton TV, seolah tidak pernah terjadi apa-apa, hingga Mas ian menjemput Mbak Yanti untuk pulang pada jam 20:00, setelah menjemput lia dari rumah kakeknya.

Sejak kejadian itu, kami sering melakukannya, baik di rumahnya ataupun di rumahku. Bahkan kalau ada dinas keluar kota, tidak lupa kami menyempatkan diri semalam berdua di hotel.

 

Yanti Kakak iparku selingkuhanku


 

Aku sebenarnya merasa sangatlah berdosa dengan kakak iparku sendiri karena istrinya yang nota bene adalah  kakak iparku sendiri sudah bermain api denganku boleh dikatakan semacam Cerita Hot yang tentu saja ada indikasi cerita perselingkuhan berikut alur kisah lengkapnya. Karir Mbak Yanti di kantornya memang cukup baik bahkan penghasilannya jauh lebih baik ketimbang suaminya jika bertemu aku dia cukup antusias membicarakan masalah masalah pekerjaan sedangkan suaminya biasanya diam saja mendengarkan dan tidak bisa mengikuti pembicaraan. Mbak Yanti mempunyai paras yang cantik tetapi yang lebih mengundang pikiran jorok para lelaki adalah tubuhnya yang mungil dan sintal amat seksi Menyadari kelebihannya itu dia selalu memakai celana panjang dan baju baju atau kaos yang ketat seakan sengaja mempertontonkan buah dada dan lekukan lekukan indah tubuhnya.Terus terang setiap bertemu atau berbicara dengannya aku tidak kuat lama lama menatapnya aku seringkali berpaling ke arah lain kalau berbicara dengannya keadaan itu justru membuat janggal hubungan kami Mbak Yanti seakan mengerti usahaku untuk menjinakkan liar mataku.Aku hampir tak pernah bisa bicara dengannya secara santai parasnya yang sensual selalu membuatku gelisah pernah suatu saat aku mencoba untuk bersikap santai berbicara sambil menatap matanya yang bening tetapi lama kelamaan mataku terasa berat kemudian semakin berat lagi seolah menahan beban puluhan ton akhirnya mataku merasa capai sehingga kemudian pandanganku turun kemudian turun lagi dan berhenti pada buah dadanya yang menyembul dibalik kaosnya yang ketat.Aku menarik nafas panjang sebelum kemudian tersadar kembali akan tetapi kesadaran itu sudah terlambat Mbak Yanti telah menangkap basah kelakuan mataku yang nakal entah apa yang dipikirkan saat itu dia kemudian merubah posisi duduknya setelah kejadian itu aku semakin tidak berani menatap Mbak Yanti. Akan tetapi sekarang Mbak Yanti ada didepanku setelah check in aku membantu Mbak Yanti membawakan tasnya ke kamarnya ketika berjalan di lorong hotel aku sempat memperhatikan Pantat Mbak Yanti Sintal seolah meliuk liuk menggoda kejantananku lumayan juga hotelnya ujarnya sambil memperhatikan sekeliling kamar.Setelah menyimpan barang barangnya dilemari aku kemudian duduk di kursi menghadap ke tempat tidur sementara itu Mbak Yanti kemudian melepaskan jaketnya sehingga kini yang tersisa adalah tang topnya yang berwarna hitam dengan celana ketatnya berwarna hitam juga dengan baju yang relatif minim itu kini belahan dada dan pangkal lengan Mbak Irma semakin terbuka aku mengagumi begitu mulus dan putihnya tubuh Mbak Yanti. Aduh cape juga gumannya setelah minum aqua yang tersedia di meja kecil kemudian dia berjalan menghampiri tempat tidur tidak disangka sangka dia kemudian membalikkan badannya kemudian merebahkan badannya ditempat tidur sementara kakinya menggantung ke lantai apa yang terlihat adalah onggokan kewanitaannya yang menyembul di balik celananya yang relatif tipis.Bahkan belahan diantara dua bibir memeknya pun tampak dengan jelas terlihat suasana dalam kamar yang hening dan nyaman itu ikut membantu meningkatkan nafsuku detak jantungku semakin terasa memburu.Aku merasakan ada aliran panas antara jantung sampai ke tenggorokan nafasku menjadi tersengal sengal beberapa kali aku menarik nafas panjang mencoba menenangkan diri kejantanan dan sekitarnya terasa panas dan kaku atau entah apa rasanya. Kini kepalaku terasa pusing mungkin peredaran darahku menjadi tidak teratur dalam keadaan tersebut pikiran warasku telah terbang entah ke mana aku mencoba lagi sekuat tenaga untuk mengendalikan diri terlintas di pikiranku untuk segera lari secepat kilat menerjang pintu menjauhi situasi yang sangat menyiksa itu.Akan tetapi semakin lama aku semakin tidak dapat mengendalikan diri dalam pikiranku aku ingin berbuat sesuatu kalaulah nanti terjadi apa apa dan Mbak Yanti marah aku akan segera balik menyalahkan Mbak Yanti kenapa bersikap begitu mengundang nafsuku sebagai laki laki yang normal.Tekadku sekarang telah terfokus aku ingin meraba onggokan indah di selangkang Mbak Yanti itu akan tetapi tanganku kini menjadi kaku seakan erat menempel pada sandaran kursi akan tetapi kepalaku yang sudah semakin pusing dan darahku yang semakin mendidih telah mendorongku untuk berbuat nekat. Setelah aku berdiri tampaklah wajah sensual  beserta dua payudaranya yang montok matanya menatapku mestinya dia tahu gelagatnya bahwa aku sedang mendekatinya kalaulah dia akan menolak semestinya dia segera merubah posisi tubuhnya pikirku akan tetapi dia hanya menatapku.Berarti dia tidak menghindar terhadap semua kemungkinan yang akan terjadi pikirku tanpa basa basi aku mengelus onggokan yang kuimpikan itu kemudian aku berjongkok mencium onggokan itu dalam dalam.Aku menciumnya dengan nafas yang panjang sampai paru paruku penuh betul juga dugaanku dia tidak marah dia menggelinjang sebentar tanpa merubah posisi tubuhnya setelah menciumnya dengan penuh kelembutan aku bangkit kembali kemudian merayap di tempat tidur menghampiri wajahnya Mbak aku nggak tahan ucapku mesra.Ahhhhhhhhhhh Doni sahutnya Mbak aku ingin menyetubuhimu godaku sengaja aku mengucapkan kata kata jorok untuk membangkitkan birahinya dia tertawa kecil Doni seharusnya jadwalku ke Yogya baru minggu depan tetapi sengaja kupercepat menjadi hari ini setelah tahu bahwa kamu ada di sini ucapnya nah lo pengakuannya bagaikan guntur yang menggema ke seluruh ruangan berarti dia ingin ketemu aku. Mbakkkk gumanku aku segera merangkulnya kemudian menyeret tubuhnya ke atas sehingga seluruh tubuhnya kini berada di atas kasur aku memeluknya menindihnya kemudian menciumi pipi kiri dan kanannya penuh kemesraan sedangkan kedua tangan Mbak Yanti merangkul pundakku erat sekali nafas kami sama sama memburu.Terasa kenyal buah dadanya lama aku menggumulinya menciumi lehernya kemudian bawah telinganya baik kiri maupun kanan kami sama sama menarik nafas panjang Mbak Yanti ternyata sangat bernafsu.Bibir sensualnya menyambar bibirku kemudian kami saling mengulum tampaknya dia mencari lidahku kemudian kujulurkan dan langsung dia hisap dalam dalam tangan Mbak Yanti terus merayap rayap di sekitar punggungku kini selangkangan Mbak Yanti terasa bergerak mengangkat ke atas dan ke bawah. Kemudian aku duduk kupelorotkan celana panjangnya berbarengan dengan celana dalamnya sampai benar benar terlepas tidak begitu susah karena karet di sekitar pinggang celananya yang lentur demikian juga Mbak Yanti ikut membantu saraf benar..Dihadapanku terhampar pemandangan surga dunia nan indah kulitnya sangat mulus putih bersih bagaikan pualam sementara disekitar lubang memek mba yanti di tumbuhi bulu tipis nan halus sementara bibir surganya sangat indah mungil berwarna merah kecoklatan.Aku segera mengulum bibir surganya itu aku remas remas menggunakan bibirku kembali aku melumat bibir bibir surganya itu dengan buasnya.Kedua kakinya kemudian ditekuk sehingga telapaknya menapak di tempat tidur Mbak Yanti menggelinjang gelinjang naik turun oh oh oh Doniii.Aku segera menjulurkan lidah menyapu lubang surganya dari bawah sampai ke atas sedangkan kedua tanganku memegangi kedua paha mungilnya lidahku kemudian berputar putar di sekitar klitorisnya gerakan pinggulnya semakin lincah lagi demikian juga nafasnya semakin memburu tidak lama kemudian kedua kakinya rapat menjepit kepalaku diiringi erangan panjang yang memilukan.Terasa ada cairan hangat mengalir dari lubang kenikmatannya ternyata mba yanti telah mencapai puncak kenikmatan aku menghentikan semua aktivitasku sampai tubuh Mbak Yanti lunglai kakinya kemudian dijulurkan lagi sejenak kemudian Mbak Yanti duduk dia membuka dasi yang masih mengikat dileherku kemudian kancing bajuku satu satu dia lepaskan aku pun kemudian membuka baju dan BHnya.Tampaklah payudara yang montok menggantung kencang didadanya aku tak habis pikir mengapa tubuh Mbak Yanti begitu bagusnya kemudian Mbak Yanti meraih ikat pinggangku melepaskannya kemudian celanaku pun dia pelorotkan akhirnya kami sama sama telanjang.Sementara itu kontolku sudah tegak berdiri aku langsung menyambar dan melumat payudara yang ranum itu dengan rakusnya kemudian mendorong Mbak Yanti sehingga rebah kembali namun Mbak Yanti meronta berusaha merubah posisinya setelah kuberi kesempatan ternyata dia berputar membentuk posisi 69 kemudian mba yanti mengulum senjataku dan aku pun menggelinjang merasakan nikmatnya permainan bibir mungilnya.Sementara itu aku menikmati indahnya pantat Mbak Yanti kemudian meremas remasnya Mbak Yanti pandai sekali memainkan lidah dan bibirnya mengocok kejantananku aku menggelinjang gelinjang lagi merasakan nikmatnya yang tiada tara untuk mengimbangi permainan Mbak Yanti yang luar biasa kemudian aku memainkan lubang kenikmatannya yang sudah basah tidak karuan kemudian aku kocok menggunakan jari tengahku rupanya Mbak Yanti sudah tidak tahan. Mbak Yanti bergerak merubah posisinya kemudian duduk di sampingku yang kini terlentang.Doniii masukin yah pintanya memelas aku hanya mampu tersenyum Mbak Yanti kemudian mengangkang diselangkanganku dia membimbing dan mengarahkan senjataku kelubang kenikmatannya  kemudian perlahan lahan menurunkan pantatnya setelah kepala kejantananku masuk kemudian dia mengeluarkannya lagi dan kemudian mengocoknya kembali.Kontolku semakin dalam menerobos lubang kenikmatannya yang mungil semakin dalam semakin terasa nikmat sekali pijitan pijitan lubang kenikmatannya aku tak dapat lagi menceritakan bagaimana nikmatnya saat itu apalagi Mbak Yanti adalah fantasiku selama ini kedua payudaranya kuremas remas gerakan Mbak Yanti semakin liar.Desahannya semakin kencang oh..oh..oh..dia terus mengocok kontolku semakin kencang Semakin kencang lagi akhirnya Mbak Yanti menjatuhkan badannya ke dadaku.Wajahnya lekat diselusupkan di leherku nafasnya tersengal sengal sementara pantatku terus kudorong ke atas Doni aku mau keluar desahnya tertahan aku juga Yanti jawabku.Tak lama kemudian kami sama sama mencapai klimaksnya terasa lubang kenikmatannya berdenyut denyut meremas kejantananku kami sama sama lunglai Mbak Yanti tertidur dalam pelukan di dadaku. Sekitar sejam kemudian kami sama sama kaget terbangun oleh dering suara telepon ternyata HP Mbak Yanti yang berbunyi Mbak Yanti kemudian menjawabnya Hallo Pap ternyata telepon dari kakak iparku suaminya dia duduk dengan kaki kirinya bersila sementara kaki kanannya ditekuk tegak dia merunduk menempelkan HP di telinganya.Rambutnya terurai menutupi wajahnya kemudian dia menyibakkan rambutnya tampak sekali lagi wajah sensualnya seperti yang selama ini kulihat.Tapi kali ini aku melihatnya Mbak Yanti Dalam Keadaan Telanjang Bulat tiba tiba nafsuku bangkit kembali kejantananku terasa memanas dan kemudian tegak berdiri aku kemudian menghampirinya dan memeluknya tangan kiri Mbak Yanti berusaha mencegahku tetapi aku terus meremas payudaranya dari belakang dan menciumi pundaknya. Akhirnya Mbak Yanti mengikuti kegilaanku selagi dia telepon suaminya Mbak Yanti berusaha mengurangi pembicaraannya dan memancing suaminya untuk terus berbicara Nafsuku semakin memburu Demikian juga Mbak Yanti dia menggeliat geliat sambil memejamkan matanya Kemudian aku membimbingnya untuk menungging dia mengikutinya nafsuku semakin memuncak lagi kali ini aku semakin terburu buru.Kontolku langsung kumasukkan ke lubang kenikmatannya dari belakang pelan pelan akhirnya seluruh kontolku masuk kedua pantat indahnya kupegang aku lanjutkan dengan mengocok kontolku dan aku semakin bergairah kala itu. semakin tidak tahan pipi kirinya jadi tumpuan di atas bantal sementara HPnya terus menempel di pipi kanannya aku terus mengocoknya sampai terdengar bunyi bleb blep bleb.Tampaknya Mbak Yanti menutup HPnya dan dilanjutkan dengan erangan yang tadi tertahan ooh..ohh..oh..tak lama kemudian kami sama sama mencapai puncak kenikmatan lagi kemudian kami berpelukan lagi edan kamu katanya sambil ketawa kemudian kami tertawa bersama sama. Ketika aku kembali ke Samarinda aku beberapa kali menyakinkan diri bahwa tidak ada yang janggal dari sikapku aku takut sekali kalau perbuatanku sampai tercium demikian juga tatkala suatu saat Mbak Yanti sekeluarga datang ke tempatku yaitu tempat mertuaku aku berusaha menghindar darinya.Setelah basa basi sebentar aku kemudian pergi ke halaman belakang menyiram bunga bunga namun Mbak Yanti memang nakal dia malah sengaja mencari kesempatan menghampiriku pura pura mau menjemur baju anaknya Doni kapan tugas ke luar kota lagi bisiknya sambil melirik dan senyum menggoda astagaaaa kapankan dosaku ini akan berakhir dosa perselingkuhanku yang justru dengan kakak iparku sendiri.Betul kata orang orang apabila nafsu sudah menguasai otak pikiran serta hati maka sulit untuk dikendalikan

 

yanti mantan kakak iparku yang horni


 

Aku memasuki rumah Kak Yanti. Dia baru saja bercerai dengan suaminya yang ketahuan selingkuh. Tertangkap basah, ketika kakakku ikut penataran di sebuah hotel. Tanpa sengaja, ketika sama-sama membuka pintu, Kak Yanti melihat dengan jelas, dengan jarah tak sampai dua meter, pintu depan kamarnya, dibuka dan keluarlah Suaminya dengan seorang perempuan. Langsung Kak Yanti menjerit dan teman2nya

"Ayo masuk jangan bengong," kata Kak Yanti padaku. Aku memasuki rumahnya yang mungil, pemberian ayahnya. Kak Yanti adalah seorang eksekutif muda di sebuah perusahaan Jepang. Mataku langsung tertuju ke pada belahan dasternya yang tak terkancing. Dan... pentil teteknya membayang didasternya yang tipis.
Cepat Kak Yanti mengancing dasternya. Dan aku menyelanya dengan cepat, tanpa sadar.
"Kok di kancing kak? Kan keren, kancingnya lepas begitu?"
Kak Yanti melototkan matanya.
"Bener lo kak. Putih mulus dan aduhaaaaaiii..." kataku pula nakal.
Kuletakkan ranselku di sofa dan aku langsung ke belakang mengambil air dari kulkas. Terasa air dingin melintas di kerongkonganku dengan nikmatnya. Kak Yanti naik ke sebuah tempat tidur kecil dekat ke pintu menuju teras belakang ruah. Di sana ada sebuah novel. Kayaknya Kak Yanti dari tadi membaca buku itu. Dia mengangkat sebelah kakinya, hingga pahanya yang mulus putih pun terbentang. Aku mendekatinya dan duduk di dekat pinggangnya.
"Suami kakak itu bodoh dan tolol...!" kataku ketus.
"Ikh... tahu apa kamu?"
"Kakakku begini cantiknya, dia masih selingkuh juga," kataku memujinya.
"Sudahlah. Nasi sudah jadi bubur. Dulu juga aku tak mau dijodohkan dengannya, tapi ayah memaksa. Ya.. itu jadinya..."
Aku pun mencubit pipi Kak Yanti dengan geram. Usia kami hanya terpaut dua tahun, membuiat kedekatan kami sebelum dia kawin membuat kami sering bercanda. Kak Yanti belas mencubit pipiku. Kuat sekali dan aku kesakitan. Kublas mencubitnya dan dia mengelak. Lalu aku berusaha mendapatkan pipinya. Sampai akhirnya aku menindih tubuhnya. Dan... bukan mencubitnya, kini aku malah mencium bibirnya yang lembut. Lalu aku merebahkan diriku tidur di sisinya.
"adit... nanti kelihatan orang, kita jadi malu nih.." katanya. Aku tersenyum. AKu memeluknya dengan kuat dan menenpelkan bibirku kembali di bibirnya yang pink.
"Semua pintu sudah terkunci."
"Jadi kamu mau apa?"
"Aku mau mencium seperti tadi," dan langsung dia kupeluk dan kucium. Kupermainkan lidahku dalam mulutnya.
" dit... aku takut. Nanti ada orang..." AKu semakin berani. Jika tidak ada orang, berarti bebas, bisik hatiku dan aku sangat bernafsu. Sebenarnya sudah lama aku mengidamkan tubuh kakak iparku yang cantik dan padat berisi serta putih itu.
"Boleh aku mengatakan sesuatu dengan jujur dan tulus," bisikku pula.
"Apaaaa?" Kak Yanti mendesah. Walau usianya sudah 33 tahun dan hampir 39 tahun, dia tetap kelihatan seperti masih kelas 3 SMA, manja dan suaranya mendesah.
"Kak.. aku mencintaimu. AKu mau Kak Yanti menjadi pacarku." Kami diam sejenak. Kak Yanti tak menjawab. Dia hanya memejamkan matanya. Kutatapmatanya dan dari sela-sela kelopak mata itu, menetes dua butir air mata membasahi pipinya.
"Apa karena aku janda, lantas kamu ngomong sembarangan, Yok?" desahnya lagi.
"Maaf kak. Bukan. Bukan itu. Sejak kita pertama ketemu aku sudah mencintai Kak Yanti. Tapi aku tak berani, mencintai kakak iparku ini. Aku mencintai kak Yanti. Mau ya jadi pacarku?" Aku mengecup bibirnya dengan lembut. Kubelai tembutnya yang pendek. Kutarik tubuhnya mirik ke arahku. Kak Yanti melingkarkan satu tangannya ke leherku. Tangan kiriku sudah berada di tengkuknya dan membelai punggungnya. Sbelah tanganku membelai pantatnya yang padat berisi. Bibir kami masih rapat dan lidah kami sudah menari-nari bersama.
"Kak, aku mencintaimu. Jadilah pacarku..." bisikku ke telinganya. Kak Yanti masih memejamkan matanya. Kutarik daster mini itu ke atas dan tanganku sudah mengelus pantatnya yang masih di balut celana dalamnya. Kontolku sudah menegang dan keras. Terasa olehku aroma nafas Kak Yanti memburu.
" dit... apa kata orang, kalau kita pacaran. Kita ini kan saudara walaupun Cuma ipar?"
"Kita tak perlu mengumumkannya kepada publik kok, Kak. Cukup kitaberdua saja yang tau."
"Tapi..."
"Sudahlah. Yang penting kita sama-sama mencintai dan cinta itu milik kita berdua saja."
"Kamu sungguh-sungguh, dit? Bukan menyenangkan hatiku yang baru empat bulan menjanda?"
Kucium langsung bibirnya dan aku memeluknya dengan kuat dan erat.
"Aku sunguh-sungguh kak. Kak tidak tau, kalau semalaman aku menangis, saat kakak akad nikah."
"Kenapa?"
"Aku tak rela Kakak Menikah dengan laki-laki lain. Aku mencintaimu. Sungguh."
Kak Yanti tersenyum. Ditariknya tengkukku dan dia pun merapatkan bibirnya ke bibirku. Kembali kami berciuman.
Sore itu kami tertidur pulas di atas tempat tidur kecil di belakang rumah mungil Kak Yanti. Setelah adzan sekitar pukul 16.00 kami sama-sama terbangun. Kak Yanti tersenyum padaku dan dia bangkit menyiapkan minum teh sore. Kemudian setelah menyikat gigi, kami duduk di teras belangkang rumah yang ditumbuhi tanaman hias.
Diteras itu aku menunjukkan lamaran kerjaku setelah aku lulus jadi arsitektur. Kak Yanti mengamati lamaranku dan dia tersenyum.
"Tak terasa adik iparku sudah jadi seorang arsitektur juga. Hebat."
"Hus... aku bukan adiknya Kak Yanti lagi. Tapi pacar," kataku.
"Tu... kamu aja masih meyebutku kakak."
"Lalu...."
"Kalau di rumah panggil namaku aja dong..."
"Ya..." Kami pu tersenyum. Terasa janggal memanggil nama Yanti, tanpa mendahului kata Kak atau kakak di awal namanya. Akhirnya aku memanggilnya yang, karena di biasa huruf "y" dalam bahasa inggtris dibaca ai. Jadi yang. Dia tersenyum dan dia menciumku dan memelukku. Nampaknya Kak Yanti senanang sekali.

Malam itu, kami makan bukan di meja makan. Tapi di teras belakang rumah. Teras sudah ditata dengan baik oleh Yanti. Sop Tom Yam masakannya membuat selera makanku menjadi enak. Kak Yanti menambahinasiku dan kami makan sembari bercerita banyak hal.
"Kamu juga harus nambah dong yang.." kataku. Dia tersenyum.


"So pasti..."
"Senyummu, membuat aku semakin mencintaimu saja.
Kamu wanita tercantik di dunia," rayuku. Lagi-lagi Yanti tersenyum.
Usai makan, kami masih ngobrol. Besok pagi toh pembantu akan datang pagi sekali dan akan membersihkan semua piring dan dapur dengan rapi. Cerita kami pun sampai ke ranjang. Aku mengetakan, kalau aku sebenarnya menginginkan anak darinya. Dia terkejut. Suatu hal yang tak mungkin dan tak boleh terjadi.
"Kita pacaran aja seumur hidup," katanya.
"Bagaimana aku bisa punya anak, kalau pacaran tanpa...."
"Nanti kamu akan menikah dengan perempuan lain. Tapi kita terus pacaran. Toh orang gak akan ceruiga, kita pacaran," katanya manja.
Diskusi panjang itu akhirnya memutuskan, kalau aku hanya kawin formalitas saja untuk mendapatkan anak satu atau dua orang. Namun kami akan tetap pacaran. Jika akhirnya Kak Yanti juga akan menikah dengan laki-laki lain, juga hanya formalitas saja. Kami pun tersenyum dan menguatkan janji kami.
Nyamuk mulai usil. Sesekali dia mulai menggitku dan dan Kak Yanti. Akhirnya kami memutuskan untuk masuk ke rumah. Diskusi kecila terjadi lagi. Akhirnya kami putuskan, kalau kami tidur sekamar, di kamarku di lantai bawah. Jika ada sesuatu, ada tamu atau apa saja,. Kak Yanti akan segera bangun dan lari ke lantai atas di kamar tidurnya. Kami pun tertawa atas keputusan kami.
Di kamar, lampu sengaja kami buat remang, berwarna biru kesukaanku. Beberapa bulan lalu, aku sendiri yang mengganti bola lampu kecil itu dari kuning menjadi biru yag sahdu. Kubuka pakaianku tinggal celana dalam saja. Kak Yanti tersenyum melihat celana dalam putihku sedikit mnggelembung.
Aku naik ke atas tempat tidur dan tidur di sisinya. Kupeluk tubuhnya dan kucium bibirnya.
"Kamu buka baju aja yang..." bisikku. Dia tersenyum dan membuka dasternya. Dan.... lebih gila lagi. Dia tak memakai apa-apa di balik dasternya itu. Tubuh mungil, putih mulus itu bugil di hadapanku. Kami pu bersembuyi berdua di balik seilmut menutup dinginnya AC di kamar itu. Walau dinginnya sangat rendah, tapi lebih nyaman berselimut.
"Gak adil, dit
"Kenapa?"
"Aku bugil, tapi kamu masih makai kolor," bisiknya manja. Cepat kulepas kolorku dan aku juga sudah bugil. Kami berpelukan dan bersiuman serta sembari sama-sama mengelus tubuh.
Kontoljku benar-benar mengeras dan kejang. Bulu-bulu halus dan jarang menyentuh di ujung kontolku dari memek Yanti.
"Kamu mau gak, menjilati sekujur tubuhku, dit?" Tak perlu kujawab dengan kata-kata. Kusibak selimut dan lidahku mulai menjilati tengkuknya, lehernya, telinganya, kemudian tetekya yang ranum dan mengkal. Perutnya, pahanya, sampai kepad jari-jari kakinya. Aku juga menjilati memeknya, bahkan kupermainkan ujung lidahku pada duburnya. Diana menggelinjang dan mendesah-desah.
"Aku tak pernah dijilati seperti ini seumur hidupku. Apalagi duburku, dit...."
Aku tak menjawab, terus saja kujilati tubuhnya dengan lembut. Rambutku di remasnya denga kuat dan desahnya berganti dengan rintihan halus, saat lidahku berada di dalam memeknya dan aku mengecup-ngecup itilnya. Kuat dijepitnya kepalaku dan aku sampai sudah bvernafas. Rintihannya membuatku semakin bersemangat.
" dit... cucuk memekku... aku udah gak tahan, katanya. Cepat kulepas jilatanku dan kukangkangkan kedua kakinya. Kedua kakinya sudah berada di bahuku dan aku menusukkan kontolku ke dalam lubang memeknya. Kutekan perlahan, di lubang yang basah dan licin itu.
"Duh....." hanya itu yang keluar dari mulut Yanti kakak iparku, kekasihku itu.
Kami melepaskan kenikmatan kami dan kami pun terkulai lemas. Besok paginya kami terbangunnoleh suara adzan yang mendayu-dayu. Kami bangun dan mandi bersama. Siap-siap aku menghidupkan mesin mobil Kak Yanti dan kami harus pergi berdua . Setelh aku mengantarkannya ke kantornya, aku pergi ke kantor yang menerima lamaran pekerjaanku. Baru saja aku menyerahkan lamaran pekerjaanku, aku dikejuti oleh suara HP. Kak Yanti.
"Bagaimana lamaranmu, dit?"
"Sudah aku berikan, Kak. Lusa aku wawancara."
"Cepat ke kantorku dong."
"Ada apa?"
"Pokoknya cepat."
Langsung aku menuju mobil setelah keluar dari kantor tempatku melamar. Aku mempercepat jalannya mobil, karean ada hal penting. Jantungku deg-degan.
Ada apa gerangan Kak Yanti. Segera aku berlari kecil ke lift. Kutekan angka 14. Aku demikian gelisah. Orang-orang pun melirikku, sepertinya aku demikian gelisah. Semua turun di lantai 12. Lantai 13 kosong dan aku langsung dibawa naik ke lantai 14. Pintu lift terbuka dan aku keluar, serta berlari ke ruanmgan kerja Kak Yanti. Semua sepi. Hanya ada beberapa OB. Aku menolak pintu kak Yanti.
"Cepat kunci pintunya," kak Yanti memerintah, seperti ada sesuatu yang ditakutkannya dan dia berdiri dari meja kerjanya yang besar menyongsongku.
Kak Yanti langsung memelukku dan menciumi bibirku. Aku blingsatan.
"Ada apa?" tanyaku heran.
"Aku rindu dan dari tadi aku horny..."
"Lalu...."
"Aku mau kita boleh bersetubuh di sini."
"Kak... Apa sudah gila. Kan ini kantor?"
"Tak ada yang berani macam-macam padaku di sini. Pak direktur sudah pulang. Ayolah...." Kak DIana kembali menciumi bibirku dan mempermainkan lidahnya di dalam rongga mulutku. Aku membalasnya tanpa ragu.
"Kita ke hotel saja atau ke rumah?" pintaku. Kak Yanti tersenyum dan langsung menggamit tasnya dan kami meninggalkan kamar kerjanya. Hari masih pukul 11.00. Kami booking sebuah kamar yang sederhana namun nyaman via HP. Kali ini Kak Yanti yang nyetir mobil. Dia membawa mobil seperti kesetanan.
"Awas Kak, jangan sampai nyenggol atau kesenggol," kataku.
"Iya... iya. Aku udah tak tahan ni. Udah horny banget tau...."
Tanpa Ba-bi-bu, kami langsung memasuki kamar. Kunci segera dikunci. Kak Yanti langsung melepaskan semua pakaiannya.
"Ayo, pakaianmu di lepas. Kok bengong..." bentaknya. Aku melepas pakaianku. Setelah berdua bugil, Kak Yanti menyerbuku dan langsung memelukku dan menicumi leherku dan bibirku. Kami kehilangan keseimbangan dan kami berdua terjadi di karpet. Kami bergumul dan saling memagut.
Kak Yanti membalikkan tubuhku. Kini aku sudah dia tindih. Kemudian dia membalikkan tubuhnya lagi, hinga wajahnya menghadap kontolku dan memeknya persis di mulutku. Tinggi kami tidak terpaut jauh, hingga dalam posisi 69 itu kami benar-benar nyaman. Dengan buas Kak Yanti menjilati kontolku.
"Ayo dong dit. Memek kakak jangan dibiarin aja. JIlatin dong..."
Aku mulau menjilati memek Kak Yanti. Klentitnya yang gurih berwarna pink membuatku semakin bernafsu. Kak Yanti terus menerus mendewsah dan menceracau.
Aku sudah tak tahan dan aku membalikkan tuuhnya dan mengambil posisi biasa. Langsung aku menusuk lubang memeknya dengan bulu jembut yang tercukup licin.
"Waaaawwwww......" Kak Yanti histeris kecil. Dia langsung menarik tengkukku dan mengarahkan mulutku untuk mengisap teteknya. Aku lakukan apa yang diamuinya.
"Duuuhhhh... aku dah dari tadi horny. Aku sudah mau sampek..." jerit kecilnya. Aku terus menusuknya dan menghunjamkan kontolku ke dalam dan jauh lebih ke dalam lagi. Kak Yanti menjerit lagi.
"Tahan sayang. Tahan tusukanmu lebih ke dalam lagiiiiii...." jeritnya. Aku menahan tusukan kontolku dan Kak Yanti memeluku kuat sekali. Digigitnya leherku dan dijilati sekalian. Sebelah tangannya memeluk punggungku dan sebelah mencengkeram rambutku. Kedua kakinya dai jepit erat di pinggangku dan dia menjerit histeris.
"Huuuuu... sampeeeeekkkk...."
Aku terus menekannya dari atas, sampai cengkeraman rambutku melemah dan pelukannya juga melemah. Kucium pipinya dan aku berikan senyuman untuknya.
yang... gimana... udah enakan?"
"Tunggu aku ambil nafas dulu, yank..."
Aku melihat Kak Yanti mengatur nafasnya sembari mengeluskan tangannya ke pipiku.
"Kamu benar-benar hebat, yank..." Dia tidak memanggilku dit lagi. Akun mengecup keningnya. Kami saling mengelis, sementara kontolku yang tegang masih berada di sembunyi di dalam memeknya.
Perlahan aku menarik-cucuk kontolku ke dalam memeknya. Kak Yanti tersenyum.
"Gak apa-apa kan yank, kalau kamu belakangan orgasme?"
"Gak apa-apa, yang penting Kak Yanti bisa menikmati kepuasan," kataku. Aku mulai memainkan lidahku ke lehernya dan mengisapi serta menggigit kecil pentil teteknya. Tanganku terus mengelusi tubuhnya di bagian sensitifnya. Aku melihat gairah Kak Yanti bangkit lagi. Dia sudah balas memelukku dan ikut menjilati bagian tubuhku dengan lidahnya yang lembut.
Tubuh kami sudah dilelehi keringat. Sesekali terasa keasinan tubuh Kak Yanti dalam jilatanku, juga sebaliknya. Kami tak peduli. Akuma tubuh kami pun memencarkan aroma khas. Aroma itu justru membuat kami lebih bergairah lagi dan kami semakin sama-sama beringas.
Kak Yanti membalikkan tubuhku. Kini dia sudah berada di atas tubuhku. Dia mulai memimpin hubungan seks kami. Dia tekan kuat-kuat pantatnya di atas tubuhku, hingga aku merasakan ujung kontolku benar-benar sudah kandas jauh ke ujung dalam di bagian memeknya. Kak Yanti memutar mutar pantatnya kekanan dan ke kiri. Kontolku terasa di putar-putar dan diremas-remas.
Aku tak tinggal diam. Aku meremas-remas tetek Kak Yanti yang menggelantung putih bersih dan indah. Kulihat maranya merem, menikmati keindahan dan nikmatnya seks kami.
"Yank... kontolmu keras sekali, aku suka, Yoooookkkk....."
Tiba-tiba Kak Yanti menarik tanganku dan membuatku duduk di atas tempat tidur. Kedua kakiku lurus menjuntai ke lantai, sementara Kak Yanti masih berada dalam pangkuanku. Dia meluai memelukku dengan kuat dan menjilati leherku. Dadanya demikian rapat menggesek-gesek dadaku. Aku tak mampu lagi rasanya menahan spermaku.
Aku memeluknya dengan kuat sekali dan Kak Yanti juga memelukku dengan kuat. Kami saling merangkul dan masi-masingh mendesah.
"Yaaaaank.... oh...." Kak yanti terus meliuk-liukkan tubuhnya dan aku terus juga memeluk tubuhnya dan menjilati lehernya.
"yangg... aku sampeeeekkkk....." teriakku sembari melepaskan smprotan spermaku. Dia makin kuat memelukku dan menjerit histeri kecil.
"Yaaaannnnkkkkk.... duuuuhhhh... gusstiiii..... enak yannnkkk..."
Crot. Untuk kedua kalinya aku melepaskan spermaku ke dalam rahimnya. Kak Yanti kembali histeris dan kembali mencengkeram rambyutku dan leherku di gigitnya. Aku memeluknya kuat dan terlepas pula tembakan spermaku untuk ke tiga kalinya. Terasa lebih banyak dari yang pertama dan kedua. Kak Yanti menjerit.
"Keluarkan yang banyak yaaaannnnnkkk...."
Crooooottt... keluar lagi spermaku yang ke empat kalinya dan yang terakhir dan aku puin memeluknya sangat kuat. Kak Yanti menjerit lagi sembari memeukul punggungkku kuat. Aku tak merasa sakit atas pukulannya.
Aku mendengarkan desahan nafas Kak Yanti, sembari mengulum cuping telingaku. Lidahnya terus menjilati leherku dengan desah nafasnya yang kuat.
"Terima kasih yaaannnkkkk.... Aku puaaaaassss..."
"Terima kasih juga sayang. Aku juga puas...." balasku dan kami terkulai di atas tempat tidur. Kutarik selimut agar kami hangat dalam selimut, tak masuk angin di terpa AC.
Kami bangun setelag pukul 15. Kami tersenyum dan kami mandi ke kamar mandi dengan shower air panas. Sekujur tubuh kami guyur dan kami kembali segar.
"Kitacepat pulang kataku."
"Kita lanjutkan di rumah ya?"
Duh... gila banget, pikirku. Pantas suaminya cari perempuan lain, karena kakak iparku yang satu ini memang binal dan buas. Tapi asyik juga karena dia memang agresif bias mengendalikan sendiri ,untuk soal sex dia memang wanita yang termasuk hiver sex,kelihatan dari kulitnya yang di tumbuhi bilu-bulu halus,oh kak yanti kamu memang kakak iparku yang bergairah.

TAMAT ...