Aku dan
sahabatku ini tumbuh bersama, kami bersahabat sedari kecil, kenakalan kecil,
belajar mabuk, melamar pekerjaan, bahkan main cewek pun kami selalu bersama.
Denis memang ganteng dan lumayan play boy. Yang aku tahu pasti, dia termasuk
hiper. Two in one selalu menjadi menu wajib kalo kami mampir ke jalan Mayora
Subono Surabaya. Dia juga mempunyai banyak teman mahasiswi yang siap pakai dan
lucunya dia sering menawari aku bercinta dengan gadis mahasiswinya di depan hidungnya.
Terkadang dia mengajak threesome. Aku sih ok ok saja, why not enak kok dan lagi
ketika itu aku cuma karyawan swasta yang bergaji kecil, sedangkan Denis sudah
memiliki usaha sendiri yang cukup sukses.
Sayang sekali di usia 32, sahabatku ini mengalami kecelakaan
yang membuat dia terpaksa menggunakan kursi roda. Padahal dia baru dua
tahun menikah dan dikaruniai satu anak laki laki yang lucu.
Peristiwa ini benar benar membanting dirinya, untunglah Dea benar benar istri
yang setia dan selalu memompakan semangat hidup agar Denis tidak menyerah.
Sebagai sahabat akupun tidak bosan bosannya menghibur agar dia mau mencoba
mengikuti terapi.
Seperti biasa di malam minggu aku main kerumahnya, daripada ngeluyur enggak
karuan, maklum se-tua ini aku masih bujang.
"Don.. Elo masih ingat jaman kita gila dulu? Minimal gue
selalu ambil dua cewek. Hahahaha dan mereka selalu ampun ampun kalo gue ajak
lembur" Denis tersenyum senyum sendiri. Aku memahami rupanya Denis
terguncang karena kemampuan sex yang dibanggakan mendadak hilang dari dirinya.
"Don, gue harus sampaikan sesuatu ke elo, kenapa gue selalu
bicara tentang sex ke elo. Hhhhhhhh…. Gue kasihan sama Dea…. Dia istri yang
baik dan setia, tetapi gue tidak mungkin memaksa dia untuk terus menerus
mendampingi gue. Dia punya hak untuk bahagia" Denis terdiam cukup lama.
"Istriku masih muda, 26 tahun. Gue nggak ingin dia nanti menyeleweng.
Lebih baik kami berpisah baik baik, dia bisa mendapatkan suami yang lebih
baik" Matanya menerawang.
"Tapi Dea tetap bersikukuh tidak mau. Baginya menikah cuma
sekali dalam hidupnya. Tetapi gue kuatir Don… Gue kuatir… Karena… Hhhhh
karena…. Dea nafsunya besar. Bisa kamu bayangkan betapa tersiksanya dia. Kami
dulu hampir setiap hari bercinta" Denis terdiam lagi lama.
Kemarin dia bicara 'Mas aku nggak akan menyeleweng, karena
cintaku sudah absolut. Kalo kamu memaksa untuk berpisah, aku tidak bisa. Memang
kalau bicara sex, sangat berat bagiku. Tapi kita bisa mencoba pakai tangan kan
mas. Mas bisa puasin pakai tangan mas, pake lidah juga masih bisa…. Kita coba
dulu mas…'
"Kami mencobanya Tetapi karena lumpuhku, jari dan lidahku
tidak bisa maksimal, dan dia tidak mampu orgasme. Sempat juga pakai dildo.
Itupun juga gagal. Ini lebih disebabkan posisi tubuhku yang tidak mendukung.
Akhirnya aku mengatakan bahwa bagaimana kalau kamu mencoba pakai cowok beneran.
Kita bisa pakai gigolo, asal kamu bercinta di depanku jangan di belakangku. Aku
bilang bahwa ini hanya murni untuk menyenangkan dirinya. Kamu tahu? Istriku
hanya menangis, dalam hatinya sebenarnya dia mungkin mau tapi entahlah. Hhh…
Sebenarnya aku mau minta tolong kamu… Pertama kamu temanku, sudah seperti
saudara sendiri, kamu belum menikah, kamu sekarang juga sudah nggak segila
dulu… Mungkin udah berhenti ya? Jadi aku minta tolong bener-bener minta tolong
puaskan istriku" Kata Denis, suaranya sedikit tercekat…
"No.. No.. No no no no…. Nggak Den.. Aku nggak mau… Maaf
aku gak bisa bantu seperti itu, Dea wanita baik baik, aku melihatnya seperti
malaikat. Dan aku sungguh menghormatinya. Sorry aku pulang dulu Den… Tolong
pembicaraan ini jangan diteruskan" Aku menghindar.
Dea adalah wanita sempurna, cantik, hatinya lembut, setia ke suami, tidak neko
neko, dan tubuhnya benar benar sempurna. Denis benar benar sinting kalo aku
diminta meniduri istrinya.
Tiga minggu kemudian, pagi pagi aku mampir lagi ke rumahnya, aku
pikir dia sudah tidak mau membicarakan itu lagi, ternyata aku salah. Kali ini
dia memintaku sambil memohon, bahkan matanya berkaca kaca, "Don please,
bantu aku, kamu tidak kasihan lihat istriku? Kami sudah sepakat kalau kamu dan
dia tidak perlu ML. Mungkin memuaskan dengan tangan atau lidah", aku
sungguh tidak setuju dengan rencananya, tapi melihat permintaannya hatiku
trenyuh. "Ok Den, aku coba bantu, tapi aku perlu bicara dulu dengan Dea".
"Bicaralah dengannya, dia ada di halaman belakang,
bicaralah" Desak Denis.
Perlahan aku melangkah ke bagian belakang rumahnya yang besar, aku lihat Dea
sedang menyirami bunga anggrek, sinar matahari pagi turut menyiram wajahnya
yang lembut, kimononya yang berwarna merah kontras sekali dengan kulitnya yang
putih bersih.. Sungguh anggun… Mungkin Denis sudah memberi tahunya karena dia
seperti menunggu kedatanganku.
"Hai De… Mana si kecil Andre? Masih tidur ya?" Tanyaku basa basi.
"Hai mas.. Iyaaa.. Andre masih bobo… Tumben datang pagi begini… Sudah
sarapan belum?" Dea tersenyum lembut. Wajahnya hanya ber make up tipis,
begitu sempurna.
"Udah kok, eh aku bantu potongin anggrek yuk? Dulu aku suka
bantu ibuku merawat anggrek. Eehh ini sepertinya kepanjangan De.. Coba deh
dipotong lebih pendek lagi, supaya lebih cepat berbunga" Kataku sok
serius.
"Mas aku sangat mencintai mas Denis. Akupun tahu dia sungguh mencintaiku.
Dia adalah suami yang pertama dan terakhir" Suaranya tercekat, wajahnya
menunduk. Dea bicara langsung ke pokok persoalan. Ini lebih baik, karena
semakin lama disini aku semakin canggung.
"Aku sungguh berharap, mas Donny tidak menganggapku wanita
murahan. Mas Denis bilang bahwa kalau melihat aku bahagia maka dia juga
bahagia. Jadi nanti apa yang kita lakukan harus masih dalam koridor saling
menghormati ya mas" Kini matanya berkaca kaca.
"De, aku ikuti apa maumu, kalau nanti kamu minta berhenti, aku berhenti.
No hurt feeling… Jangan kuatir aku tersinggung, Kamu adalah wanita yang paling
aku hormati setelah ibuku. Aku… Aku akan memperlakukanmu dengan terhormat"
Bisikku.
Perlahan Dea menarik tanganku menuju lantai 2, mungkin ini kamar
tamu. Interior kamar sungguh nyaman, warna warna soft mendominasi, mulai dari
warna bedcover, bantal dan gorden terkomposisi dengan baik, benar benar
mendapat sentuhan wanita.
"Bagaimana dengan Denis? Dia pernah bilang kalo harus sepengetahuan
dia.." Tanyaku kuatir, aku tidak mau dituduh mengkhianati sahabat sendiri.
"Mas Denis nanti datang setelah dia rasa kita ada hubungan
chemistry yang lebih jauh. Aku juga keberatan kalo mas menyentuhku di depan mas
Denis terlalu terus terang. Aku tidak mau hatinya sakit. Dan ditahap awal ini
aku sungguh berharap kita tidak terlalu jauh. Mungkin aku belum terlalu siap…
Dan maaf kalo tiba tiba aku minta berhenti.. Mas ngerti kan perasaanku?"
Dea berkata dengan wajah menunduk. Tangannya terlihat gemetar ketika perlahan
lahan membuka bedcover. Aku hanya mengangguk tanpa bicara.
Lalu Dea berjalan menuju meja rias, membelakangiku, perlahan dilepas
cincin kawin dijarinya "Aku tidak bisa bercinta dengan orang lain dengan
tetap memakai cincin ini" Katanya berbisik.
'Maafkan aku De, aku akan meperlakukan kamu dengan baik..'
Bisikku dalam hati.
Perlahan dia berbalik menghadapku sambil membuka gaunnya, ternyata dibalik
kimononya, Dea hanya memakai lingerie warna pink, G-string plus stocking putih
berenda. Aku tidak mau sembarangan untuk memulainya. Ini aku pakai juga untuk
menghormati mas Donny, Dea berjalan perlahan ke arahku. Aku hanya bisa menahan
nafas, dadaku sesak bergemuruh, rasanya sulit untuk bernafas, rasanya aku tidak
akan bisa menyentuhnya, dia terlalu indah, Dea terlalu indah untukku, kakiku
lemas.
Dengan perlahan Dea membuka kancing bajuku, sedikit
mengelus dadaku yang berbulu, wajahnya masih menunduk, tanganku menyentuh
rambutnya lembut kemudian aku cium perlahan keningnya.. Dengan bertelanjang
dada tanpa melepas celana panjangku, ku tuntun Dea ketempat tidur. Aku peluk
lembut, aku ciumi keningnya berulang kali. Turun ke pelipis, lama aku cium di
situ. Aku harus membuatnya rileks….
Matanya yang indah tampak berkaca kaca. Hembusan nafasnya masih
memburu bergetar.
Aku mengerti Dea masih belum siap…
Aku bisikkan kata kata lembut ketelinganya "De… Kamu santai saja, aku
nggak akan menyentuh yang nggak semestinya kok. Jangan kuatir, kita tidak
terlalu jauh, ini hanya semacam perkenalan saja… Ok?" Dea mengangguk
sambil memejamkan matanya mencoba menghayati.
Kemudian bibirku menyentuh pipinya, harum Kenzo di lehernya, menuntunku ke arah
sana. Lehernya sungguh indah, bibirku menyelusuri leher jenjangnya sambil sekilas
menciumi belakang telinganya.
"Oooohhhh.. Mas.. Ahhhh" Nafasnya dihembuskan panjang,
rupanya tadi dia terlalu tegang. Aku tetap menciumi dia, tidak beranjak dari
sekitaran pipi, kening, leher dan telinga. Sengaja tidak kucium bibirnya, takut
membuat moodnya jadi hilang. Tetapi ternyata Dea sendiri yang mencari bibirku,
dan mencium lembut perlahan. Badanku merasa meremang.
Kemudian kami berpandangan dekat, matanya lekat menghunjam mataku, seperti
mencari kepercayaan disitu. Ini adalah titik kritis, berhenti atau lanjut…
Perlahan Dea memejamkan matanya, bibirnya sedikit terbuka, aku
mengerti kalau ini semua bisa berlanjut lebih jauh. Kucium lama dan lembut
bibirnya yang indah itu.
Perlahan bibirku turun ke leher sedikit ke bawah. Turun… Turun ke belahan
dadanya yang ranum. Wanginya sungguh memabukkan. Dea hanya melenguh pelan
"Eeehhhhh.. Mas".
Tanganku mulai mengelus pahanya, aku gosok perlahan, tanganku
berhenti ketika jemari Dea menyentuh tanganku. Ahh mungkin aku terlalu jauh..
Ternyata jemari Dea menggosok permukaan lenganku. Kulanjutkan lagi gosokan
tanganku ke pangkal pahanya.
Kusentuh missVnya yang hangat. Aku tidak membuat gerakan yang tiba tiba, semua
harus mengalir lembut. Cukup lama jemariku menyentuh bulu bulunya. Bibirnya
terasa dingin, Dea sudah mulai terangsang sambil masih mencium lembut bibirnya,
jemariku mulai menyentuh klitorisnya, begitu tersentuh, Dea langsung merintih
nafasnya memburu "Mas uffff.. Mas.." Cepat sekali vaginanya basah.
Aku memahami, mungkin sudah satu tahun Dea tidak disentuh Denis.
Bibirku perlahan mulai mencium dari belahan dada menuju bukit indahnya. Belum
pernah kulihat toket seranum ini. Lidahku menari nari diujung putingnya yang
merah muda. Aku sentuh dengan ujung lidah kemudian sedikit aku sedot lalu aku
lepas lagi, begitu berulang ulang. Nikmat sekali. Aku lirik wajah Dea merah
padam, nafasnya tersengal sengal "Geliii… Aaahhhh… Geliii mas…. Jangan
lama lama… Geli… Aduuuuhhh".
Sengaja aku teruskan jilatanku, dengan sedikit mengeluarkan
erangan, agar Dea mengerti kalo aku sendiri juga super terangsang. Eranganku
dengan erangannya kini bersahut sahutan. Kepala Dea bolak balik terbangun
mungkin karena dia tidak tahan dengan gelinya. Jemariku bertambah cepat
menggosok klitorisnya. Tiba tiba jemari Dea meremas rambutku dan kedua
tangannya pun menekan kepalaku, sehingga aku sulit bernafas karena terbenam di
toketnya. Pinggul Dea terangkat tinggi sambil merintih panjang "Masssssss…
Ahhhhh Dea Orgasme….".
Pinggul kembali terhempas ke tempat tidur yang langsung terayun
ayun, badannya melemas, tangannya lunglai ke bawah, sambil berkali kali menelan
ludahnya Dea mulai menangis memalingkan wajahnya.
Aku ciumi lembut kepalanya, kucium air matanya di pipi, kemudian
kucium tipis bibirnya.
Perlahan kepalaku turun ke leher, dada, perut, pusar dan berhenti di bulu bulu
kemaluannya. Lidahku mulai menari di klitorisnya yang super basah. Dea hanya
terdiam.
Aku masih sibuk menjilati vaginanya yang wangi. Dea mulai
recovery lagi jemari lentiknya meremas rambutku. Dagunya terangkat ke atas,
nafasnya terputus putus memburu. Perlahan kuturunkan celanaku. Bibirku kembali
ke atas, mencium pusarnya, mengecup putingnya kemudian menyentuh bibirnya.
Mataku beradu dengan matanya. Pandangan mataku bertanya, haruskah kuteruskan.
Dea mengerti kalau batangku menempel kemaluannya. Perlahan
kakinya melingkar ke pahaku.. Mata kami tetap berpandangan. Ku gesekkan
batangku perlahan lahan, Dea sedikit merintih, bibirnya terbuka..
Kepala batangku mulai menekan, menekan sedikit masuk, masuk lagi
perlahan, lalu kaki Dea menekan pinggulku sehingga batangku lebih dalam masuk.
Masuk seluruhnya.. Badanku meremang, batangku terasa hangat. Mata kami masih
beradu pandang… Tiba tiba disudut matanya muncul air bening yang mengalir
perlahan ke pipinya. Dea kembali menangis…
Kembali aku cium lembut bibirnya. Pinggulku tidak langsung aku
gerakkan, agar dia merasa nyaman dulu dengan batangku didalam. Lalu Perlahan
aku mulai gerakkan pinggulku sedikit demi sedikit, "Pelan pelan mas "
Dea merintih.
Gerakan lebih kupercepat, aku rasakan batangku masuk sepenuhnya
kedalam vaginanya, Tempat tidur mulai berguncang, bunyi geritan besi tempat
tidur mulai keras terdengar.
Tiba tiba Dea memelukku erat, bibirnya mendekat ke telingaku dan
berbisik "Kok besar sekali mas, terima kasih, nikmat sekali mas… Ooohhh
nikmat" Dea kini lebih agresif menciumku, lidahnya mulai berani masuk ke
mulutku.
Tubuh kami berguling, kini dia diatasku. Otomatis batangku lebih
menghunjam ke dalam, posisi ini favoritku karena aku bisa sepenuhnya melihat
kecantikannya, melihat lekuk tubuhnya, meremas dadanya dan pinggulnya lebih
leluasa.
Gerakan tubuh Dea mulai liar, wajahnya berada keatas dengan mata terpejam.
Gerakannya malah lebih cepat dari gerakanku. Tubuhnya mulai menggigil dipenuhi
peluh yang mengucur deras di sela belahan toketnya, pemandangan ini membuat
tubuhnya tampak sensual, kujilati semua peluhnya dengan nikmat.
Dea mendekati puncak…. Sementara aku susah payah bertahan agar tidak
ejakulasi.
"Aaaaaa… Aaaaaaahhhh.. Aahh!" Dia mulai tidak malu
mengeluarkan rintihan dan erangan suaranya lebih keras, tiba tiba tubuhnya
menghentak keras, lenguhannya memanjang kemudian tubuhnya lunglai ambruk di
tubuhku. Segera kupeluk erat dan kucium lembut keningnya. Aku lega… Senang bisa
memuaskannya..
"Terima kasih mas…. Terima kasih… Aku belum pernah merasa
nikmat seperti ini, dua kali orgasme" Bisik Dea.
"Aku bisa teruskan kalo kamu mau, De" Bisikku sambil menciumi
pelipisnya.
"Terima kasih… May be next time… Sekarang giliran mas Donny… Mas belum
puas kan?" Aku tersenyum dan kugelengkan kepalaku.
"No… Tidak perlu… Itu tidak penting. Kamu bisa menikmati,
itu lebih penting. Kalau aku turut mencari kepuasan artinya aku tidak
menghargai kamu. Semua ini untuk kamu, De… Hanya untuk kamu" Dalam hati
kumaki maki diriku, mengapa aku sok suci. Tetapi tak bisa kumaafkan diriku
kalau aku ikut menikmati kesempatan emas ini, Dea bersedia bercinta denganku
artinya dia sudah menghempaskan semua harga dirinya dihadapanku. Aku menghargai
dan menghormatinya.
"Mas… Kamu baik sekali… Sungguh kamu baiiiikk sekali".
Dea memelukku erat dan lama sekali sampai aku terengah engah karena kepalaku
terbenam di belahan toketnya. Sebenarnya aku ingin meneruskan dengan melumat
dan mengigit gigit putingnya, tapi aku tidak mau merusak suasana.
Mengapa Denis tidak kemari, bukankah dia minta kita bercinta di
depannya. Aku tidak mau dikatakan mengkhianati teman…
"Mas Denis mungkin sudah melihat kita dari tadi, dia ada di ruangan
dibalik kaca meja rias, itu kaca tembus pandang mas" Dea menjelaskan
ketika melihat mataku memandang pintu.
"Oiya, mas gak bersih bersih badan? Aku bantu di kamar
mandi yuk…" Sambil menarik tanganku.
Kami saling menggosok badan, aku remas lembut toketnya dari
belakang dan mencium lembut punggungnya. Dea kembali merintih.. Tubuhnya
berbalik kemudian melumat bibirku, benar benar agresif, tiba tiba Dea jongkok
dan cepat menggenggam batangku sedetik kemudian mulutnya mengulum milikku yang
makin mengeras penuh. Aku benar benar tidak menduga Dea melakukan itu.
Tindakannya membuat kakiku lumpuh.
"Jangan De… Jangan De… Nanti aku keluar ahhh… De.. Sudah..
Please…" Rintihku.
Dea segera berdiri lagi lalu berbalik menghadap shower dinding. Aku mengerti
dia ingin aku masuk dari belakang. Dengan guyuran air hangat, aku masukkan
batangku cepat, aku sudah tidak tahan, nafsuku sudah memuncak, Dea pun
menggerakkan tubuhnya mengimbangi tubuhku.
"Aaahhh mas…Aku… Aku… Ahhh... Aku…." Tubuhnya kembali
menggeliat dan mengejang, jemarinya kuat meremas tangkai shower, sementara aku
benar benar tidak dapat menguasai diriku.
Spermaku yang tertahan dari tadi akhirnya mau tak mau menyembur keluar, masuk
jauh ke relung vaginanya… Sh(bip)t mengapa aku tidak bisa menahannya? Dea
kembali jongkok dan kini membersihkan lelehan spremaku dengan lidahnya. Aduh
aku merasa geli sekali. Dia kocok kocok lagi agar semua spermaku keluar.
Kemudian mengakhirinya dengan sedotan panjang diujung batangku.
Ooohhhh Dea.. Kenapa aku harus ejakulasi…
Selesai berbersih diri dan memakai baju, kami keluar kamar.
Rupanya Denis sudah menunggu di depan TV, dia tersenyum dari kejauhan. Aku
merasa jengah, merasa tidak enak. Sementara Dea menunduk dan berjalan ragu ke
sebelah suaminya.
Dari kursi rodanya, Denis memeluk pinggang istrinya "Terima kasih Don,
kamu sahabat yang baik. Aku sudah melihat percintaan kalian tadi. Aku berharap
kamu tidak keberatan untuk meneruskan nanti".
Aku hanya mengangguk pelan. Bisakah aku hanya bertahan murni
bercinta tanpa melibatkan perasaan? Aku tidak yakin dengan diriku. Aku tidak
yakin nanti tidak jatuh cinta kepada Dea… Dan aku yakin Dea pun mempunyai
perasaan yang sama. Sorot matanya ketika bercinta tadi menunjukkan itu.