Senin, 01 Juli 2024

Threesome di gunung


 

Aku punya teman akrab bernama Sherly. tak seperti diriku yang isteri rumahan (house-wife), Sherly adalah seorang career woman, bebas, dinamik, dan yang aku suka darinya adalah ceritanya yang seringkali aneh-aneh, terutama cerita tentang petualangan seksualnya.

Suatu hari ketika kami berbincang di sebuah cafe, dia menyela bicaraku dengan tawaran yang menurutku gila, “Yan, threesome yuk!” pintanya. Setengah kaget bercampur seperempat penasaran, aku bilang, “waw… pasti seru yah??” sahutku sambil menyelidik. “Ya, iya lah, seru ‘kali, soalnya gw juga belom pernah threesome,” katanya sok alim. Kami pun saling diam lagi sembari menyeruput teh poci yang sedari tadi menemani sore kami itu.

Tapi anehnya, setelah terdiam beberapa saat, aku bertanya padanya, “Emang kalau threesome, ama siapa Sher?” Sherly pun tersenyum lebar seolah tanda kemenangan atas godaannya padaku. Lalu dibisikkannya sebuah nama di telingaku, “Edo…” Mataku terbelalak, hmmm, aku ingat Edo, pria macho yang seminggu lampau dikenalkan padaku.

Singkat kata, kuiyakan saja ajakan threesome itu, itung-itung pengalaman baru untuk memuaskan rasa penasaranku, apalagi aku sudah 2 bulan tak tersentuh seks, karena suamiku masih di luar negeri. Segera saja Sherly menelepon Edo, dan setengah jam kemudian dia muncul di depan cafe kami berdua dengan mengendarai X-Trail berwarna hitam solid. Well, mobil itu keren, kesannya macho seperti Edo. Sejurus kemudian kami pun telah melesat bertiga menuju sebuah peristirahatan di kaki bukit yang sejuk.

Seperti sudah biasa ke situ, sambil menenteng sebotol red wine yang diambilnya dari locker dashboard mobil, Edo pun langsung check in dan mengajak kami masuk ke dalam sebuah kamar junior suite yang wangi dengan jendela menghadap ke lembah bertatahkan beledu hijau hutan pinus dan nun jauh di bawah sana kota kami tinggal kelihatan seperti kelap-kelip kumpulan kunang-kunang…

Setelah minum-minum red-wine yang menghangatkan sekujur syaraf kami, kami pun segera asyik ngobrol bertiga. Aku dan Sherly duduk di sofa mengapit Edo di tengah. Obrolan ringan sambil cekikikan itu tiba-tiba sudah kami lanjutkan dengan saling berpelukan dan berciuman, memagut sana sini, sambil mendesah-desah penuh sensasi. Pelan-pelan kami mencopoti busana Edo. Dia mandah saja. Setelah tinggal celdamnya saja, kami terantuk pada sesuatu yang mengeras dan panjang di balik celdam itu, waw, penis Edo sudah ereksi tegang sekali. Sherly dengan tak sabar merogoh penis itu dan mengeluarkannya dari balik celdam Edo. Hmm, memang seperti yang kami duga, penis Edo lebih panjang …

Kemudian tibalah giliran kami untuk buka-buka busana, setelah Edo mengkode dengan kerdipan mata dan monyong bibirnya. Pada mulanya aku dan Sherly agak kagok juga melepaskan busana kami karena belum pernah kami telanjang berdua seperti itu.
Sambil tersenyum-senyum dikulum, kami berbaring setengah bugil, hanya ditutupi selimut putih bersih yang tersedia di kamar itu. Edo pun memotret kami sambil nyerocos mengagumi tubuh-tubuh sintal kami yang tergolek telanjang di balik selimut itu.

Adegan selanjutnya, Edo berbaring telentang di atas ranjang, dan aku pun segera menyerbu penisnya untuk kujilati dan kukulumi, sementara Sherly berciuman dahsyat dengan Edo yang tangannya nakal meremas-remas toket Sherly.Hmm, kurasakan penis yang besar itu tegang di dalam mulutku dan si empunya mengerang-erang tanda menikmati kulumanku. Berbagai jurus kuluman kukerahkan dengan variasi yang merangsang, sampai Sherly kemudian mengajak gantian mengulum penis Edo.Dengan buas Sherly ganti mengemut penis Edo. Dan edo kini mencoba merangsangku. Tangan kirinya meremas-remas toketku sementara tangan kanannya berkecipak meraba-raba vaginaku yang mulai basah berlendir hangat mengalir pelan keluar dari celah surgaku…
Aku pun merasakan sensasi yang luar biasa dan aku pun menemukan arti baru dari sia-sianya rasa cemburu. Kalau memang lelaki bisa dinikmati bersama, kenapa perempuan harus posesif begitu rupa, pikirku.

Setelah hampir satu jam kami bercumbu mesra bertiga, permainan kami segera mencapai klimaksnya. Pertama vaginaku diterabas oleh penis Edo yang tegang menantang itu. Rangsangan, goyangan, dan sodokannya pun segera mengantarku ke titik orgasme ku yang pertama. Wuuaahhh, belum pernah gairah yang begitu sensual membuncah seperti kejutan listrik ribuan volt yang membuatku langsung tumbang berkelejotan… Dengan tubuh terbaring lemas, kurasakan penis Edo keluar dari liang vaginaku masih dalam keadaan tegang dan segera ditancapkannya di vagina Sherly. Aku menyaksikannya sambil mengatur deru nafasku yang masih memburu. Sherly yang sudah berpengalaman itu segera ganti posisi woman on top, dan menggoyang Edo sesuka-sukanya, ke depan-belakang dengan cepat, lalu variasi putaran pinggul, dan naik-turun, wuah, benar-benar pemandangan yang mengasyikkan yang baru pertama kalinya kusaksikan langsung di depan mataku. tak sedikit pun rasa iri dan cemburu, malah bangga bisa disetubuhi oleh lelaki seperkasa Edo itu… Begitu perkasanya Edo, sehingga tiba-tiba Sherly memekik kecil dan rebah menutupi tubuh Edo sambil memeluknya erat-erat. Rupanya Sherly juga telah mencapai orgasmenya…

Setelah kami berdua mengalami orgasme itu Edo meminta kami untuk menungging berdampingan.Nafasku yang mulai teratur lagi mengundang kembali nafsuku untuk disetubuhi dengan doggy style. Kami berdua pun berdampingan menungging dan Edo melesakkan penisnya bergantian ke dalam vaginaku sebentar, cabut, lalu ke dalam vagina Sherly, demikian seterusnya sampai suatu ketika kami mendengar lenguhannya tertahan dan siraman air mani yang muncrat-muncrat mengenai pantat kami berdua. Tanpa dikomando, kami segera membalikkan badan dan mengelamuti air mani yang masih bermunculan dari lubang kecil di kepala penis Edo. rupanya beberapa kali sperma Edo masih muncrat kembali sehingga membasahi wajahku dan wajah Sherly.,,,,,,,,,,,,,,,

Busyet… pengalaman threesome yang luar biasa, tak kan terlupa sampai kapan pun juga.

 

Fitri Dan Anaknya


 

Namaku Yudha. Kini aku berumur 29 tahun. Aku bekerja di salah satu perusahaan swasta di Jakarta. Aku memiliki kisah menarik. Kisah ini bermula 5 tahun yang lalu.
Aku memiliki tetangga seorang wanita cantik yang waktu itu berumur 38 tahun. Aku biasa memanggilnya Fitri. Karena dia orang Betawi. Fitri adalah istri kedua dari suaminya yang sekarang. Sebelumnya ia sudah pernah menikah dan memiliki anak perempuan, yang biasa kupanggil Sri. Aku dan Fitri bertetangga sangat akrab. Sejak aku SD, keluarga Fitri dekat dengan keluargaku. Kedua orang tuaku yang sudah tua dianggap sebagai orang tua oleh keluarga Fitri. Hubungan kami tetap akrab meski kedua orang tuaku telah meninggal.

Aku sebenarnya sudah nafsu melihat Fitri sejak SMP. Bodinya seksi dan kencang. Buah dada dan pantatnya besar. Sering kali jika aku bermain ke rumahnya, Fitri hanya menggunakan daster atau, dengan cuek setelah mandi, hanya dengan menggunakan handuk, melenggok di depanku. Aku menjadi terangsang dan pulangnya langsung beronani. Aku tidak berani berbuat lebih jauh karena hubungan yang sudah terlalu akrab itu. Apalagi Fitri melihatku yang masih SMP hanya menganggapku sebagai adiknya.

Tapi ketika aku semakin dewasa, segalanya mulai berubah. Tepatnya ketika usiaku 25 tahun. Aku sebenarnya pria yang tampan dan menarik. Tapi aku agak malas pacaran. Sementara nafsu seksku yang tinggi biasa kusalurkan melalui onani. Soalnya aku takut berhubungan seks dengan pelacur. Selain karena bahaya penyakit, aku males keluar duit. Selama ini fantasi onaniku selain bintang Porno adalah Fitri dan anaknya, yang kini sudah beranjak dewasa. Umurnya 18 tahun. Kulitnya putih mulus bodinya bener-bener proposional. Meskipun pantat dan Buah dadanya tidak terlalu besar. Wajahnya juga cantik seperti Shu Qie bintang film cina.
Suatu ketika aku mendapatkan telepon dari seseorang yang ingin berbicara dengan Sri. Rumah Fitri tidak ada telepon jadi mereka menumpang di rumahku. Aku segera bergegas ke rumahnya. Rupanya Sri sedang mandi. Karena teleponya penting dan ditunggu, maka dia bergegas berganti pakaian. Sri hanya menggunakan daster yang tipis dan membentuk seluruh tubuhnya yang seksi. Sri bergegas menuju ke rumahku sementara aku mengikuti dari belakang. Pinggulnya yang bergoyang-goyang membangkitkan gairahku.

Sampai di rumahku, Sri duduk menerima telepon dengan posisi duduk yang menantang. Bagian bawah dasternya tersingkap, sehingga terlihat jelas pahanya yang putih mulus. Aku duduk di sofa didepanya dan mataku menjelajahi seluruh tubuhnya. Aku baru tahu ternyata Sri tidak sempat memakai BH. Kulihat putingnya tercetak di bagian dada dasternya. Sri menyadari bahwa aku sedang mengamSrinya. Dia tersipu dan berusaha memperbaiki posisi duduknya. Namun dasternya yang pendek membuat posisi duduknya tetap saja merangsang. Tak berapa lama dia selesai menelepon. Dia berdiri dan siap-siap untuk pamit. Aku langsung memegang tangannya.

“Mau kemana? Sini dulu dong temenin gue ngobrol.”
“aduh.. Sri mau pergi nanti jam 1 ke blok M. Udah janjian ama temen.”
“ya udah nanti aja siap-siapnya. Kita ngobrol dulu..”
“aduh… mas Yudha.. Sri harus siap-siap”
“Iya deh. Sekarang Sri sombong. Gak mau ngobrol sama aku lagi.”
“Kok mas Yudha gitu. Emang mau ngobrol apaan?”
Sri duduk di sebelahku. Harum tubuhnya habis mandi semakin merangsangku.
“Sri mau ke Blok M ama siapa ? ama pacar ya ?”
“ah nggak kok. Sri gak punya pacar.”
“kok gak punya padahal Sri kan cantik”

Dia terlihat tersipu. Tanganku mulai membelai perlahan rambutnya. Kemudian turun ke lehernya. Dia masih diam. Akupun memberanikan diri mengecupnya. Dia nampak canggung menerima ciumanku. Aku makin berani. Tanganku merayap di pahanya. Sri pun mulai membalas ciumanku bertubi-tubi. Bibir kami saling berpagutan. Perlahan ku singkap bagian atas dasternya dan dengan leluas tangan kiriku mengelus Buah dadanya. Bibir kami masih saling bertautan. Sri sepertinya mulai terhanyut. Aku mulai menciumi bagian wajah yang lainnya. Pipi, dagu, lehernya yang jenjang. Sri terlihat terbuai. Aku pun mendesah di telinganya “kamu cantik sekali Ti”. Kemudian kurebahkan tubuhnya. Dasternya sudah tersingkap sebatas perut. Terlihat buah dada Sri yang membusung. Ukurannya tidak terlalu besar. Mungkin sekitar 34. Tapi bentuknya bulat dan padat berisi. Perlahan aku mulai mengulum kedua bukit tersebut secara bergantian. Putingnya yang kecoklatan kujilSri sambil sesekali ku hisap lembut. Sri memejamkan matanya dan mulai mendesah. Tangannya berpegangan pada ujung sofa. Sementara tubuhnya terus bergeliat.

“aghhh.. sshhshs.. agghh..”. Desahannya membuatku makin lahap mengulum Buah dadanya. Tangan kiriku bergerilya menuju selangkangannya. Kumasukan jariku di antara CDnya dan kugesek-gesekan di permukaan vaginanya.
“agh.. mas Yudha.. aghh… sshssh..”
rupanya dia terangsang dengan permainanku. Kuhentikan kulumanku di Buah dadanya. Sejenak aku kembali mengulum bibirnya sementara tangan kiriku tetap menggesek-gesek vaginanya. Sri semakin larut dalam permainan ini. Ciumannya pun menjadi lebih memburu. Akupun mulai melepas CDnya. Kemudian aku turun menciumi seluruh bagian tubuhnya hingga sampailah aku di depan lubang vaginanya yang sudah basah. terlihat bibir vaginanya yang sempit ditumbuhi sedikit rambut yang halus.
“mas Yudha mau ngapain… ?” ujarnya lirih.

Aku tidak menjawab. Bibirku mulai menciumi bibir vaginanya yang sempit itu. Kemudian ku jilSri seluruh permukaan. Sekalli-kali lidahku menusuk agak dalam menjangkau klitorisnya. Kemudian ku gigit kecil klitorisnya. Sri terlihat sangat terangsang. Dia merintih sambil berkali-kali memajukan vaginanya ke depan agar lidahku makin dalam menjangkau klitorisnya.
“aghh…. hahh… hahh…. enak maaas.. aghh… terus maasss… shhh..”
Cukup lama aku bermain dengan vaginanya. Sementara Penisku semakin mengeras. Kira-kira 10 menit Sri mulai Orgasme.
“aghhhhhhhh…..” Cairan putih kental keluar dari vaginanya. Napasnya tersenggal-senggal.
Aku yang masih berpakaian lengkap langsung membuka seluruh pakaianku. Aku telanjang bulat dengan penis yang sudah menegang sedari tadi. Sri terpaku melihatku. Sepertinya dia menunggu langkahku selanjutnya. Karena aku sudah sangat bernafsu, maka aku langsung mengarahkan Penisku yang berukuran 15 cm itu ke lubang vaginanya. Ku lebarkan selangkangannya terlihat lubang itu sudah siap menanti untuk ditusuk. Sri terlihat diam saja dan menunggu penetrasiku.
“Sri diam ya.. agak sakit sedikit..” kata ku sambil mengelus pahanya.
Perlahan ujung Penisku mulai menusuk. Sri meringis. Aku mengelus Buah dadanya biar Sri bisa merasakan rangsangan seksual pada bagian tubuhnya yang lain. Penisku pun mulai menusuk makin dalam.
“ah… sakit mas..” ringisnya.

Aku mulai mencium bibirnya agar dia bisa melupakan rasa sakitnya sedikit. Penetrasi ku hentikan sejenak dan aku konsentrasi menciumi bibirnya. Setelah Sri terlihat hanyut, aku mulai melanjutkan kembali penetrasi. Perlahan-lahan Penisku masuk seluruhnya ke dalam vaginanya. Kurasakan otot vaginanya memijit pelan pangkal Penisku. Sambil tetap ku kulum bibirnya, kugoyangkan pantatku perlahan-lahan. Naik turun makin lama makin cepat. Sri terlihat mulai menikmSri gesekan Penisku di vaginanya. Aku segera mempercepat goyangan pantatku. Terasa nikmaaat sekkaalii. Seluruh permukaan vaginanya yang sempit habis dijelajahi Penisku. Penisku terasa seperti di urut-urut. Kadang agak sepet kadang licin. Yang jelas nikmaaat….
Ceplak.. cplak… cplak… cplak.
Terdengar suara dari bagian bawah. Sementar Sri terlihat terengah-engah. Matanya memejam dan bibirnya mendesah tak karuan.
“aghh.. enaaakkkk maaasss…. terussss shhhhhh… terusss… ahhhh… ahhhh. aahhhhh…. !!!”
“aduh Ti… Memek loe… enak banget. Aghh.. shhhh… sempit…. Enak… ahhhh.. ahhhh…..” Kataku di sela desahannya.
Sri merem melek dan berkali-kali menggigit bibirnya diantara desahan-desahannya.
Tiba-tiba kurasakan otot vaginanya semakin keras menjepit.
“mass akuuu mauuu piii piiis…” Aku sadar dia mau orgasme kembali. Ku percepat ayunan pantatku sambil ku angkat pantatnya sedikit ke atas. Dia mulai menggelinjaaang.
“aghhhh massss… aaaahhhhggghhhh….” teriaknya di ujung orgasmenya.

Aku berhenti menggoyang. Kubiarkan Penisku di dalam vaginanya. Terlihat Sri sangat menikmSri orgasmenya. Wajahnya tersenyum puas. Aku yang belum orgasme mencabut Penisku dari vaginanya. Ku minta Sri untuk berbalik dan menungging. Dia pasrah menuruti. Terlihat pantatnya yang montok menantang. Dari sini vaginanya terlihat lebih sempit. Kembali ku masukan Penisku dari belakang. Kali ini terasa lebih mudah. Sri pun tidak meringis lagi. Penisku perlahan mulai masuk ke dalam vaginanya. Kemudian mulai ku goyangkan pantatku maju mundur. Gesekan vaginanya terasa lebih sempit dibandingkan sebelumnya. Pantatnya yang montok ku remas-remas. Sri kembali mendesah.
“aduh… ahh… ahhh”
Perlahan tanganku merayap menuju Buah dadanya yang bulat menggantung. Kemudian kuremas-remas dengan nafsu. Sri tambah terangsang dengan hebat. Desahannya makin tidak teratur. Aku pun makin bernafsu. Goyangan pantatku makin cepat. Napas kami sama-sama memburu. Remasan tanganku di Buah dadanya makin keras. Kugigit telinga dan bahunya dari belakang. Secara refleks Sri membalikan wajahnya dan mencium bibirku. Kami terus berpagutan. Goyangan pantatku makin cepat..

“aghhhh… aghhhh.. shhhh… hhhhhhahhgghh.. iyyyaaa…” kurasakan aku akan orgasme. Tapi rupanya Sri orgasme kembali. Dia menggelinjang hebat.. ahhhhhhh…. aku mencabut Penisku dan menggesek-gesekan diantara pantatnya yang montok. Kuremas dan kutekan kedua belah pantatnya. Gesekan Penisku semakin cepat dan akhirnya aku ejakulasi ahhhhhhh…. ahhhh…
Crooot… Croooot.. Crooot…. air maniku muncrat dengan hebaatnya di atas punggung Sri. Aku terkulai dan langsung duduk sambil meremas-remas pantat Sri yang seksi. Sri terkulai dengan Posisi telungkup. Ku lap punggungnya dengan CDku. Ku lihat Sri tersenyum. Aku memeluknya dan mencium keningnya.
“aku sayang kamu Ti..” Bisikku.
Sri tersenyum. Memang ku tahu sejak SMP Sri sudah naksir kepadaku. Tapi aku cuek karena aku lebih bernafsu kepada ibunya. Kini Sri sudah jatuh dipelukanku. Ku lihat jam dan aku baru menyadari bahwa kami telah bermain selama hampir satu jam. Sri pun memakai CDnya dan memakai dasternya. Dia pamit pulang.
Sejak itu aku dan Sri berpacaran. Kami sering melakukan hubungan sex. Biasanya di tempatku karena aku tinggal sendiri. Ibunya, Fitri mengetahui hubungan tersebut. Dia tampak setuju dan merestuinya. Dia semakin ramah kepadaku dan semakin tidak canggung dalam berpakaian di hadapanku. Sering dia hanya mengenakan bra melenggang di depanku jika aku bertamu ke rumahnya di siang hari yang panas. Aku semakin bernafsu melihatnya.

Suatu hari Fitri bertengkar hebat dengan suaminya. Kemudian dia kabur dari rumahnya dan tinggal di sebuah rumah kontrakan di daerah depok. Suaminya tidak lagi peduli sehingga dibiarkan saja Fitri pergi. Aku dan Sri pernah mengunjunginya dan meminta Fitri untuk pulang. Tapi Fitri menolak dan tetap tinggal di kontrakannya. Sejak itu Sri dan Fitri tinggal terpisah. Sri tetap tinggal di rumahnya dan menemani ayahnya.

Suatu hari aku mengunjungi rumah Fitri. Waktu itu hari libur dan Sri harus menjaga rumah. Aku dimintanya untuk mengunjungi ibunya. Karena sudah akrab Fitri tidak malu menerimaku. Setelah ngobrol ngalor ngidul, angin sepoi-sepoi dan perjalanan yang jauh membuatku mengantuk. Waktu itu sudah jam 3 sore.
“mpok aye tidur dulu ye. Ntar jam lima bangunin aye.” Karena Fitri orang betawi maka aku berdialek betawi jika ngomong dengannya.
“ya udah tidur deh. mau di sini ape di kamar?”
“di sini aje deh. Anginnye enak sih.”
Aku pun mulai tiduran sementara Fitri pergi ke dapur.

Sejam kemudian aku terbangun oleh suara bising sebuah motor di pinggir jalan. Aku bangun dan mencoba mencari Fitri. Kulihat ke dalam kamarnya, sepi. Aku pun pergi ke dapur, tidak ada. Kayaknya Fitri sedang mandi. Kulihat di depan kamar mandi disebelah dapur ada sendalnya. Aku menghampiri mencoba mengintip ke dalam melalui salah satu celah dari pintu kamar mandi yang terbuat dari papan. Ternyata benar Fitri ada di dalam. Tapi ia tidak sedang mandi. Ku lihat tangan kanannya yang sedang menggesek-gesek vaginanya sementara tangan kirinya meremas-remas Buah dadanya yang besar. Terdengar desahan kecil dari mulutnya. Pemandangan ini membuatku terangsang. Aku pun mulai mengocok Penisku. Tiba-tiba aku sadar bahwa ini adalah kesempatan bagiku. Fitri memang sudah lama tidak berhubungan seks dengan suaminya. Hampir 8 bulan. Sejak suaminya sering sakit dan tinggal dirumah istri tuanya. Pasti Fitri sangat haus sentuhan pria.

Aku berdiri dan mengetuk pintu kamar mandi.
“mpok lagi ngapain ? aye mau ke kamar mandi nih” kayaknya Fitri kaget. Dari dalam kudengar ia menjawab dengan gugup.
“ehh.. gue lagi maandi..”
“aduh Mpok aye sakit perut nih mpok…” kataku sambil berpura-pura.
“ya udah… tunggu sebentar…” kudengar suara air disiram dan tidak berapa lama Fitri keluar dengan mengenakan handuk. Tubuhnya yang seksi terlihat sangat merangsang. Buah dadanya yang besar membusung tertutup sebagian oleh handuknya. Ku rasakan Penisku bangun pelan-pelan.
“katanya lagi mandi, kok gak basah.” Godaku
“yee kan gak jadi mandi”
“lagi mandi apa lagi ngapain..”

Fitri terlihat memerah wajahnya menahan malu. Dia mencoba membenarkan handuknya yang agak melorot.
“mpok, aye tahu mpok lagi pengen begituan. Aye mau kok nolongin mpok.” kataku sambil maju dan menarik ke bawah handuknya. Seketika itu juga Fitri telanjang bulat di hadapanku. Berbeda dengan anaknya, Buah dada Fitri besar. Ukurannya mungkin 36. Di usianya yang sudah 38 tahun ini badannya masih kenceng. Meskipun dia tidak pernah fitness ataupun minum jamu. Wajahnya yang cantik, hanya memiliki sedikit kerutan di ujung matanya.
Fitri berusaha menutupi tubuhnya dengan tangannya. Dia terlihat akan marah. Aku pun segera mencium bibirnya biar dia tidak bersuara. Dia nampak gelagapan. Dengan sekuat tenaga ku rangkul dan ku angkat Fitri masuk kembali ke kamar mandi. Dia berontak dan berusaha melepaskan diri. Aku melepaskannya dan langsung mengunci pintu kamar mandi. Sekitar rumah Fitri cukup sepi. Sehingga jika dia berteriak belum tentu ada yang mendengar. Tapi aku tidak mau memperkosanya. Ku biarkan Fitri yang gemetaran di tepi bak mandi.

“Yud, loe mau ngapaain..?” ujarnya agak gemetar.
Aku tidak menjawab. Dengan tenang ku buka pakaianku satu per satu. Akhirnya aku telanjang bulat dihadapannya. Penisku yang sedari tadi menegang mengacung dihadapannya. Aku tersenyum melihat Fitri yang gemetar dan memandangi Penisku. Aku tahu dia pasti menginignkannya. Ku permainkan Penisku naik turun di hadapannya. Ku lihat dia menelan ludah. Penisku yang panjangnya 15 cm sudah ereksi sempurna. Sehingga terlihat kokoh sekali. Aku maju ke depan mendekSrinya. Kulihat napasnya mulai memburu. Matanya terus menatap Penisku. Aku yakin tidak akan ada perlawanan darinya. Tanganku mulai membelai bahunya perlahan bergerak kebawah menuju Buah dadanya yang besar. Kedua telunjukku bergerak mengikuti lekuk Buah dadanya yang bulat. Kemudian kuplintir putingnya yang belum mengeras layaknya sedang memutar gelombang radio. Mata Fitri tetap tak lepas melihat Penisku. Perlahan-lahan dia mulai menutup matanya. Fitri sudah pasrah. Segera ku lumat kedua Buah dadanya dengan rakus. Bergantian kiri dan kanan sambil tanganku meremasnya juga bergantian. Lidahku bermain-main dengan leluasa di kedua putingnya dan menyapu seluruh permukaan Buah dadanya. Sekali-kali ku gigit kecil Buah dadanya. Fitri mulai memiringkan kepalanya. Mulutnya agak terbuka dan mengeluarkan rintihan yang pelan hhheh.. ssshh.. tangan kanannya berpegangan pada pinggir bak mandi sementara tangan kirinya memegang kepalaku sambil beberapa kali menekan ke dalam dadanya.

Tangan kiriku mulai turun ke bawah menuju selangkangannya sementara tangan kananku meremas-remas pantatnya. Mulutku masih sibuk melahap Buah dadanya. Setelah sampai divaginanya, jari tengahku langsung masuk ke dalamnya. Dengan cepat ku gesek-gesekan jariku di dalamnya. Fitri langsung terangsang dengan hebat. Tangan kirinya makin kencang menjambak rambutku dan kepalaku ditekan makin dalam.
“Aghh.. aghhhhh… aghhhh…. terus yud…. terus…. shhh.. aghhhh…. aghhhh…. yaaah… ahhhh”
Fitri terus meracau tak karuan. Selama sekitar 5 menit aku korek habis-habisan vaginanya. Kemudian aku merasakan cairan bening mengalir dari vaginanya melalui jariku. Rupanya dia sudah terangsang hebat. Aku menghentikan permainan jariku dan mulai merambat mencium ke bawah menuju vaginanya. Ku lihat vaginanya yang ditumbuhi bulu-bulu agak lebat disekitar lobangnya sudah basah. Aku siram dengan air agar vagina itu menjadi lebih bersih. Lalu aku mulai menjilSri seluruh permukaannya. Kedua tanganku meremas-remas pantatnya yang montok dengan sekali-kali mengagaruk belahan pantatnya. Kedua tangan Fitri menjambak kepalaku dengan keras sambil mendesah panjang dan tak beraturan.

“Aghhhh… yaaa… yaaa…. Teruuusss yud… terus shhhh ahh.. ahhghhh….”
Lidahku makin dalam menjangkau ke dalam vaginanya sambil sekali-kali menyentuh klitorisnya. Terkadang kuhisap dan ku gigit kecil klitorisnya. Ku jilat, hisap, jilat, hisap, gigit, jilat demikian berulang ulang ku permainkan vaginanya. Makin lama desahannya makin memburu.
“yd… gue… mao… keluaaar… aghhh”
Terlihat cairan putih meleleh keluar dari lubang vaginanya. Kulihat Fitri merem melek dan nafasnya terengah-engah. Aku berdiri dan mencium bibirnya.
Kemudian aku berbisik.. “mpok sepongin aye dong..”
Fitri langsung berjongkok. Tangan kanannya memegang Penisku dan mulai mengocoknya sambil sesekali dikecupnya. Seluruh permukaan Penisku dan bijinya dikecupnya pelan-pelan. Aku menikmSrinya tapi Fitri belun juga menghisap Penisku.
“mpok ayo dong diisep..” Pintaku sambil membelai rambutnya.

Dia pun mengisap hanya kepala Penisku. Kemudian dengan cepat dia menjilSri seluruh permukaan Penisku layaknya sedang menjilSri es krim. Meskipun rasanya nikmat tapi aku ingin Penisku dihisap. Tanganku memegang kepalanya dan ku pencet hidungnya. Seketika itu dia membuka mulutnya. Aku langsung memasukan Penisku ke dalam mulutnya. Tanpa melepas cengkramanku di kepalanya aku mulai menggoyangkan pantatku. Penisku keluar masuk dengan cepat di dalam mulutnya. Nikmatnya luar biasa. Kurasakan kepala Penisku menyentuh langit-langit mulutnya dan terkadang menyentuh ujung kerongkongannya.
‘mmmghhh….. mmmhhgghhh… ‘ kulihat Fitri memberontak. Aku melonggarkan cengkramanku. Fitri langsung melepaskan mulutnya dari Penisku.
“uhuugg… uuhhuggg… heeegghh…” rupanya Fitri tersedak.
“Aduuuh… maaf mpok kekencengan.” Kataku sambil membelai rambutnya. Fitri teresenyum dan langsung menghisap Penisku lagi. Kali ini aku tidak memegangi kepalanya lagi karena dia mulai menghisap seperti yang aku inginkan. pertama-tama pelan lalu semakin lama bertambah cepat. Diselingi dengan kecupan, jilatan dan kocokan tangan. Terlihat Fitri bernafsu sekali melahap Penisku. Setiap kali dihisap serasa Penisku diurut pelan-pelan dan licin. Aku serasa melayang. Nikmat sekali. Seluruh batang penisku berada di dalam mulutnya.
“aghhhh…. yes… aghhh… yes..” desahku.

Tak lama kemudian aku merasa aku akan ejakulasi. Segera ku pegang kepala Fitri dan aku mulai menggoyangkan pantatku dengan cepat. Sleep… sleeeep…. sleeep…. sleeep.
Bunyi Penisku beradu dengan pinggir mulutnya.
Fitri mencoba memberontak “mmmhhh…. mmmmmhhhh…”
tapi hal itu malah membuat nikmat karena Penisku jadi menelusuri seluruh rongga mulutnya. Akhirnya aku ejakulasi di dalam mulutnya. Fitri mencoba melepaskan mulutnya dari Penisku. Tapi aku malah semakin menekan dan memaksanya menghisap lebih dalam
“isep mpok…. iseeep…. enak kok mpok…. banyak proteinnya…” Akhirnya dia pasrah dan menelan semua air maniku.
Setelah habis semua air maniku. Penisku menurun ereksinya. Fitri ku lihat tersenyum sambil membersihkan air mani yang meleleh keluar dari mulutnya.
“Mpok kita lanjutin di kamar yuk..” ajakku.
Fitri langsung berdiri berjalan mendahuluiku menuju kamar tidurnya. Goyangan pantatnya yang montok perlahan mulai membangkitkan kembali Penisku. Aku siram dengan segayung air biar lebih segar dan aku mengikuti Fitri menuju kamarnya.

Fitri langsung rebahan di tempat tidurnya. Dadanya semakin terlihat membusung merangsang. Jarinya memainkan vaginanya. Aku langsung rebah disamping kirinya. Ku hisap kedua Buah dadanya yang menantang tersebut sementara tangan kiriku mulai bermain di dalam vaginanya. Tangan kanan Fitri mengocok-ngocok Penisku yang tampaknya akan segera ereksi dengan sempurna kembali. Bibir kami kemudian saling berpagutan dan tangan kami makin cepat bergerak. Jariku keluar masuk dengan cepat demikian juga tangannya yang mengocok Penisku dengan cepat. Tak berapa lama kurasakan Penisku sudah kembali ereksi dengan sempurna. Masih dengan posisi rebahan di sampingnya, aku memasukan Penisku ke dalam vaginanya. Kaki kiri Fitri melintang di badanku sehingga selangkangannya terbuka lebar. Karena sudah sering dipakai maka aku tak kesulitan memasukan Penisku ke vaginanya. Dengan cepat kugoyangkan pantatku. Tangan kiriku sibuk meraba bagian depan tubuhnya. Buah dadanya, perutnya, permukaan vaginanya. Sementara bibirku juga sibuk bergerilya ke bahu, leher dan bibirnya. Tidak seperti anaknya yang cenderung pasif kalo sedang berhubungan, Fitri tampak lebih aktif. Dia ikut menggoyangkan pantatnya ketika Penisku keluar masuk di vaginanya. Seluruh dinding vaginanya serasa keras menjepit penisku. Terdengar desahan-desahan kecil dari mulutnya. “shhh…. ahhhh… ehhh.. shhhhh”

Selanjutnya kami melakukan banyak variasi gaya. Kedua kakinya kuangkat kebahuku dan pahanya kurapatkan. Dengan begini bukaan lobang vaginanya menjadi lebih sempit. Sehingga jepitannya lebih terasa di Penisku. Ayunan pinggulku yang ritmis, membuat gesekan penis dan vagianya menjadi lebih nikmat. Kemudian ku rebahkan pahanya ke samping kanannya dan dengan posisi menyamping aku melakukan penetrasi. Vaginanya terasa agak longgar tapi kuat mencengkram Penisku. Rasanya benar-benar nikmat… ohhhh… yeeeahh.. desahku seiring goyanganku yang cepat menusuk-nusuk vaginanya. Fitri terlihat meremas-remas sprai tempat tidur. Matanya terpejam dan dari mulutnya keluar rintihan-rintihan yang merangsang
“ooughhh…. yaaahh… ouuhhh…. aghhhh… hahhhhgghhh… yaaahh…”
Selama hampir satu jam aku menghujamkan penisku ke vaginanya. Posisiku di atas membuatku leluasa melakukan manuver. Tanganku dengan leluasa meremas-remas buah dada dan pantatnya.
Kemudian aku menyelipkan bantal dibawah pantatnya sehingga vaginanya terangkat ke atas dan penetrasiku bisa lebih dalam. Fitri terlihat makin menggila. Kepalanya bergerak ke kiri dan kanan. Sementara pinggulnya menggelinjang ke atas merepotkan aku menahannya.

Selama satu jam itu pula Fitri sudah dua kali mengalami orgasme. Aku pikir tenaganya sudah habis. Sementara aku masih belum orgasme juga. Tiba-tiba Fitri mendorongku kesamping dan dia langsung berada di atas. Kemudian secara menggila dia goyangkan pantatnya naik turun maju mundur. Penisku berputar-putar mengikut gerakan dan isapan vaginanya. Luar biasaa wanita ini. Ternyata tenaganya masih banyak. Buah dadanya yang bergoyang bergelantungan segera kuhisap. Sementara goyangannya makin liar..
“ahhh… oughhh… yahhh… ayo… yud…. rasain memek gue..” Fitri meracau gak karuan. “iseepp tookeet gue yud… ahh terus yud..”
Aku memeluk punggungnya keras sambil mulutku terus menghisap Buah dadanya dengan nafsu. Sepertnya aku akan keluar. Segera ku pegang pinggulnya dan ku goyangkan tubuh Fitri dengan cepat
“ahhh… gue mao keluar Yud..”
“aye juga mpookk…. ahhhhh”
Akhirnya aku ejakulasi bersamaan dengan orgasme Fitri yang ketiga kalinya. Kurasakan denyut Penisku yang cepat bersamaan dengan disemburkannya air maniku ke dalam vagina Fitri. Kami berpelukan sangat erat. Sementara otot vagina Fitri terasa keras memijit-mijit Penisku. Kami pun berciuman. Dan Fitri rebah di pelukanku.
“mpok.. sorry aye nggak ngeluarinnye diluar. Soalnya kagok.”
“gak ape-ape Yud. sebenarnya mpok udah di vasektomi 3 bulan yang lalu. Jadi mpok gak bakal hamil.”
Betapa senang aku mendengarnya. Dengan begini aku bisa puas ngentotin Fitri tanpa takut dia hamil. Sementara dengan anaknya, aku lebih sering mengeluarkan diluar. Sore itu kami melakukannya berulang-ulang, sampai jam 9 malam aku pamit pulang.

Sejak saat itu aku sering melakukan hubungan badan dengan Fitri dan anaknya, Sri, secara bergantian. Fitri mengatakan bahwa hubungan denganku sebatas rekreasi dan pemuasan kebutuhan. Karena ia tidak ingin terikat apa-apa denganku. Lagi pula dia tahu anaknya Sri sangat mencintaiku. Dia nggak mau mengambil kebahagiaan anaknya. Tak lama kemudian Fitri resmi bercerai dengan suaminya karena suaminya lebih peduli dengan Istri tuanya. Fitri benar-benar hidup sendirian. Aku pun akhirnya melamar Sri untuk ku jadikan Istri. Setelah itu dengan alasan untuk menemani istriku, aku minta Fitri untuk tinggal serumah bersama kami. Padahal ini akal-akalan aku dan Fitri biar bisa lebih sering berhubungan sex. Karena biarpun serumah aku bisa berselingkuh dengan Fitri. Biasanya kami melakukan hubungan saat istriku belanja ke pasar atau pada saat malam ketika ia tidur. Bahkan pernah kami melakukannya ketika istriku ada di rumah.

Waktu itu dia sedang menyetrika di ruang depan sambil menonton tv. Fitri di dapur sedang mencuci piring. Aku yang kebetulan hendak ke kamar mandi di dekat dapur, terangsang melihat Fitri yang hanya mengenakan daster tipis. Tubuhnya yang seksi berbayang dibalik daster tersebut. Aku langsung menghampiri dan mencium bibirnya. Fitri yang malamnya belum mendapat jatah dariku langsung membalas dengan penuh nafsu juga. kemudian bagian atas dasternya dibuka sedikit dan dia menurunkan BHnya sehingga Buah dadanya yang montok muncul keluar. Aku pun mengulumnya dengan penuh nafsu sementara tanganku mengelus-elus pahanya. Fitri berpegangan pada pinggir bak cuci piring. Cuma sekitar 5 menit kami melakukan fore play. Aku langsung melorotkan sedikit celanaku sehingga Penisku bisa keluar dengan leluasa. Fitri menyingkap bagian bawah dasternya dan menggeser sedikit bagian tengah CDnya sehingga terlihatlah lubang vaginanya. Tanpa menanggalkan pakaian, kami melakukannya sambil berdiri. Meskipun demikian kami lakukan dengan sangat membara. Tentu saja karena dilakukan dengan khawSrir dan terburu-buru, maka hubungan sex itu berlangsung cepat juga. Hanya sekitar 10 menit. Setelah itu aku langsung ke ruang depan menemani istriku, seolah-olah tak terjadi apa-apa.,,,,,,,,,,,,,,,,,,

TAMAT

 

Fitri dan anakya sama-sama nikmat


 
Pada masa itu belum banyak kesempatan bagi saya walaupun melihat tubuh wanita bugil sekalipun selain istriku. Aku mungkin susah membayangkan bahwa bisa sampai punya hubungan dengan tatanggaku yang nota bene adalah teman akrab istriku.
Bisalah dibayangkan bagaimana menggebu-gebunya gairah dan nafsu saya ketika diberi kesempatan untuk secara nyata bukan saja hanya bisa melihat tubuh bugil wanita seperti Fitri, tetapi bisa mengalami kenikmatan bersanggama dengan wanita sungguhan, tanpa memperdulikan apakah wanita itu tetangga sendiri. Dengan hanya memandang tubuh Fitri yang begitu mulus dan putih saja sudah cukup sebetulnya untuk menjadi bahan imajinasi saya untuk bermasturbasi, apalagi dengan secara nyata-nyata bisa merasakan hangatnya dan mulusnya tubuhnya. Apalagi betul-betul melihat kemaluannya yang mulus ber jembut tipis. Bisa mencium dan mengendus bau kemaluannya yang begitu menggairahkan yang kadang-kadang masih berbau sedikit amis kencing perempuan dan yang paling hebat lagi buat saya adalah bisanya saya menjilat dan mengemut kemaluannya dan kelentitnya yang seharusnyalah masih merupakan buah larangan yang penuh rahasia karena bukan milikku.

Mungkin pengalaman inilah yang membuat saya menjadi sangat menikmati apa yang disebut cunnilingus, atau mempermainkan kemaluan wanita dengan mulut. Sampai sekarangpun saya sangat menikmati mempermainkan kemaluan wanita, mulai dari memandang, lalu mencium aroma khasnya, lalu mempermainkan dan menggigit bibir luarnya (labia majora), lalu melumati bagian dalamnya dengan lidah saya, lalu mengemut clitorisnya sampai si wanita minta-minta ampun kewalahan. Yang terakhir barulah saya memasukkan batang kemaluan saya kedalam liang sanggamanya yang sudah banjir.

Setelah kesempatan saya dan Fitri untuk bermain cinta yang pertama kali itu, maka kami menjadi semakin berani dan Fitri dengan bebasnya akan datang kerumah saya hampir setiap hari, paling sedikit 3 kali seminggu. Apabila dia datang, dia akan langsung masuk kedalam kamar tidur saya disaat saya masih tidur dan tidak ada istri di rumah.
Biasanya dia selalu mengenakan daster yang longgar yang bisa ditanggalkan dengan sangat gampang, hanya tarik saja keatas melalui kepalanya, dan biasanya dia duduk dipinggiran tempat tidur saya. Saya biasanya langsung menerkam payudaranya yang sudah agak kendor tetapi sangat bersih dan mulus. Pentilnya dilingkari bundaran yang kemerah-merahan dan pentilnya sendiri agak besar menurut penilaian saya. Fitri sangat suka apabila saya mengemut pentil susunya yang menjadi tegang dan memerah, dan bisa dipastikan bahwa kemaluannya segera menjadi becek apabila saya sudah mulai ngenyot-ngenyot pentilnya.

Mungkin saking tegangnya saya didalam melakukan sesuatu yang terlarang, pada permulaannya kami mulai bersanggama, saya sangat cepat sekali mencapai klimaks. Untunglah Fitri selalu menyuruh saya untuk menjilat-jilat dan menyedot-nyedot kemaluannya lebih dulu sehingga biasanya dia sudah orgasme duluan sampai dua atahu tiga kali sebelum saya memasukkan penis saya kedalam liang peranakannya, dan setelah saya pompa hanya beberapa kali saja maka saya seringkali langsung menyemprotkan mani saya kedalam vaginanya. Barulah untuk ronde kedua saya bisa menahan lebih lama untuk tidak ejakulasi dan Fitri bisa menyusul dengan orgasmenya sehingga saya bisa merasakan empot-empotan vaginanya yang seakan-akan menyedot penis saya lebih dalam kedalam sorga dunia.

Fitri juga sangat doyan mengemut-ngemut penis saya yang berukuran besar di banding suaminya . dan setelah beberapa minggu Fitri kemudian berhasil menarik seluruh kemaluan saya sehingga bisa tegak san siap untuk menghantam. Saya masih ingat bagaimana dia berusaha menarik-narik senjata sampai terasa sakit, lalu dia akan mengobatinya dengan mengemutnya dengan lembut sampai sakitnya hilang. Setelah itu dia seperti memperolah permainan baru dengan mempermainkan lidahnya disekeliling leher penis saya sampai saya merasa begitu kegelian dan kadang-kadang sampai saya tidak kuat menahannya dan mani saya tumpah dan muncrat ke hidung dan matanya.

Kadang-kadang Fitri juga minta "main" walaupun dia sedang mens. Walaupun dia berusaha mencuci vaginanya lebih dulu, saya tidak pernah mau mencium vaginanya karena saya perhatikan bau-nya tidak menyenangkan. Paling-paling saya hanya memasukkan penis saja kedalam vaginanya yang terasa banjir dan becek karena darah mensnya. Terus terang, saya tidak begitu menikmatinya dan biasanya saya cepat sekali ejakulasi. Apabila saya mencabut kemaluan saya dari vagina Fitri, saya bisa melihat cairan darah mensnya yang bercampur dengan mani saya. Kadang-kadang saya merasa jijik melihatnya.

Satu hari, kami sedang asyik-asyiknya menikmati sanggama, dimana kami berdua sedang telanjang bugil dan Fitri sedang berada didalam posisi diatas menunggangi saya. Dia menaruh tiga buah bantal untuk menopang kepala saya sehingga saya bisa mengisap-isap payudaranya sementara dia menggilas kemaluan saya dengan kemaluannya. Pinggulnya naik turun dengan irama yang teratur. Kami rileks saja karena sudah begitu seringnya kami bersanggama. Dan kebetulan pada saat itu kami melakukannya di rumah fitri karena situasi rumah yang lagi sepi.

Saya sudah ejakulasi sekali dan air mani saya sudah bercampur dengan jus dari kemaluannya yang selalu membanjir. Lalu tiba-tiba, pada saat dia mengalami klimaks dan dia mengerang-erang sambil menekan saya dengan pinggulnya, anak perempuannya yang bernama Sri baru dating dari sekolah ternyata sedang berdiri dipintu kamar tidur saya dan berkata, "Ibu main rabenan, iya??"
Saya sangat kaget dan tidak tahu harus berbuat bagaimana tetapi karena sedang dipuncak klimaksnya, Fitri diam saja terlentang diatas tubuh saya. Saya melirik dan melihat Sri datang mendekat ketempat tidur, matanya tertuju kebagian tubuh kami dimana penis saya sedang bersatu dengan dengan kemaluan ibunya. Lalu dia duduk di pinggiran tempat tidur dengan mata melotot.

"Hayo, ibu main rabenan," katanya lagi.

Lalu pelan-pelan Fitri menggulingkan tubuhnya dan berbaring disamping saya tanpa berusaha menutupi kebugilannya. Saya mengambil satu bantal dan menutupi perut dan kemaluan saya .

"Sri, Sri. Kamu ngapain sih disini?" kata Fitri lemas.

"Sri pulang sekolah agak pagi dan Sri cari-cari Ibu dirumah, tahunya lagi ngentot sama Bang Adi," kata Sri tanpa melepaskan matanya dari arah kemaluan saya. Saya merasa sangat malu tetapi juga heran melihat Fitri tenang-tenang saja.

"Sri juga mau ngentot," kata Sri tiba-tiba.

"E-eh, Sri masih kecil?" kata ibunya sambil berusaha duduk dan mulai mengenakan dasternya.

"Sri mau ngentot, kalau nggak nanti Sri bilangin Ayah."

"Jangan Sri, jangan bilangin Ayah?, kata Fitri membujuk.

"Sri mau ngentot," Sri membandel. "Kalo nggak nanti Sri bilangin Ayah?"

"Iya udah, diam. Sini, biar Adi ngentotin Sri." Fitri berkata.

Saya hampir tidak percaya akan apa yang saya dengar. Jantung saya berdegup-degup seperti alu menumbuk. Saya sudah sering melihat Sri bermain-main di pekarangan rumahnya dan menurut saya dia hanyalah seorang anak yang masih begitu kecil yang memang sekarang sudah mulai tumbuh dewasa. Dari mana dia mengerti tentang "main ngentot" segala?

Fitri mengambil bantal yang sedang menutupi kemaluan saya dan tangannya mengelus-ngelus penis saya yang masih basah dan sudah mulai berdiri kembali.

"Sini, biar Sri lihat." Fitri memegang menunjukkan kepala penis saya kepada Sri. Sri datang mendekat dan tangannya ikut meremas-remas penis saya. Aduh maak, saya berteriak dalam hati. Bagaimana ini kejadiannya? Tetapi saya diam saja karena betul-betul bingung dan tidak tahu harus melakukan apa.

Tempat tidur nya cukup besar dan Fitri kemudian menyutuh Sri untuk membuka baju sekolahnya dan telentang di tempat tidur didekat saya. Saya duduk dikasur dan melihat tubuh Sri yang masih begitu remaja. Payudaranya masih mengkel, sudah agak membenjol. Putingnya masih kecil,. Fitri kemudian melorot celana dalam Sri dan saya melihat kemaluan Sri yang sangat mulus, seperti kemaluan ibunya. Belum ada bulunya, hanya garis lurus saja, dan diantara garis lurus itu saya melihat itilnya yang seperti mengintip dari sela-sela garis kemaluannya. Sri merapatkan pahanya dan matanya menatap kearah ibunya seperti menunggu apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Saya mengelus-elus bukit venus Sri yang agak menggembung lalu saya coba merenggangkan pahanya. Dengan agak enggan, Sri menurut, dan saya berlutut di antara kedua pahanya dan membungkuk untuk mencium selangkangan Sri.

"Ibu, Sri malu ah?" kata Sri sambil berusaha menutup kemaluannya dengan kedua tangannya.

"Ayo, Sri mau ngentot, nggak?" kata Fitri.

Saya mengendus kemaluan Sri dan baunya sangat tajam.

"Uh, baunya." Saya berkata dengan agak jijik. Saya juga melihat adanya "keju" yang keputih-putihan diantara celah-celah bibir kemaluan Sri.

"Tunggu sebentar," kata Fitri yang lalu pergi keluar kamar tidur. Saya menunggu sambil mempermainkan bibir kemaluan Sri dengan jari-jari saya. Sri mulai membuka pahanya makin lebar.

Sebentar kemudian Fitri datang membawa satu baskom air dan satu handuk kecil. Dia pun mulai mencuci kemaluan Sri dengan handuk kecil itu dan saya perhatikan kemaluan Sri mulai memerah karena digosok-gosok Fitri dengan handuk tadi. Setelah selesai, saya kembali membongkok untuk mencium kemaluan Sri. Baunya tidak lagi setajam sebelumnya dan sayapun menghirup aroma kemaluan Sri yang hanya berbau amis sedikit saja. Saya mulai membuka celah-celah kemaluannya dengan menggunakan lidah saya dan Sri-pun merenggangkan pahanya semakin lebar. Saya sekarang bisa melihat bagian dalam kemaluannya dengan sangat jelas. Bagian samping kemaluan Sri kelihatan sangat lembut ketika saya membuka belahan bibirnya dengan jari-jari saya, kelihatanlah bagian dalamnya yang sangat merah.

Saya isap-isap kemaluannya dan terasa agak asin dan ketika saya mempermainkan kelentitnya dengan ujung lidah saya, Sri menggeliat-geliat sambil mengerang, "Ibu, aduuuh geli, ibuuuu?., geli sekali ibuuuu?."

Saya kemudian bangkit dan mengarahkan kepala penis saya kearah belahan bibir kemaluan Sri dan tanpa melihat kemana masuknya, saya dorong pelan-pelan.

"Aduh, sakit bu?," Sri hampir menjerit.

"Adi, pelan-pelan masuknya." Kata Fitri sambil mengelus-elus bukit Sri.

Saya coba lagi mendorong, dan Sri menggigit bibirnya kesakitan.

"Sakit, ibu."

Fitri bangkit kembali dan berkata,"Adi tunggu sebentar," lalu dia pergi keluar dari kamar.

Saya tidak tahu kemana Fitri perginya dan sambil menunggu dia kembali sayapun berlutut didepan kemaluan Sri dan sambil memegang batang penis, saya mempermainkan kepalanya di clitoris Sri. Sri memegang kedua tangan saya erat-erat dengan kedua tangannya dan saya mulai lagi mendorong.

Saya merasa kepala penis saya sudah mulai masuk tetapi rasanya sangat sempit. Saya sudah begitu terbiasa dengan lobang kemaluan Fitri yang longgar dan penis saya tidak pernah merasa kesulitan untuk masuk dengan mudah. Tetapi liang vagina Sri yang masih kecil itu terasa sangat ketat. Tiba-tiba Sri mendorong tubuh saya mundur sambil berteriak, "Aduuuh?!" Rupanya tanpa saya sadari, saya sudah mendorong lebih dalam lagi dan Sri masih tetap kesakitan.

Sebentar lagi Fitri datang dan dia memegang satu cangkir kecil yang berisi minyak kelapa. Dia mengolesi kepala penis saya dengan minyak itu dan kemudian dia juga melumasi kemaluan Sri. Kemudian dia memegang batang kemaluan saya dan menuntunnya pelan-pelan untuk memasuki liang vagina Sri. Terasa licin memang dan saya-pun bisa masuk sedikit demi sedikit. Sri meremas tangan saya sambil menggigit bibir, apakah karena menahan sakit atau merasakan enak, saya tidak tahu pasti.

Saya melihat Sri menitikkan air mata tetapi saya meneruskan memasukkan batang penis saya pelan-pelan.

"Cabut dulu," kata Fitri tiba-tiba.

Saya menarik penis saya keluar dari lobang kemaluan Sri. Saya bisa melihat lobangnya yang kecil dan merah seperti menganga. Fitri kembali melumasi penis saya dan kemaluan Sri dengan minyak kelapa, lalu menuntun penis saya lagi untuk masuk kedalam lobang Sri yang sedang menunggu. Saya dorong lagi dengan hati-hati, sampai semuanya terbenam didalam Sri. Aduh nikmatnya, karena lobang Sri betul-betul sangat hangat dan ketat, dan saya tidak bisa menahannya lalu saya tekan dalam-dalam dan air manikupun tumpah didalam liang kemaluan Sri. Sri yang masih abg. Saya juga sebetulnya sangat horni, tetapi pada saat itu kami berdua sedang merasakan bersanggama dengan disaksikan Fitri, ibunya sendiri.

Sri belum tahu bagaimana caranya mengimbangi gerakan bersanggama dengan baik, dan dia diam saja menerima tumpahan air mani saya. Saya juga tidak melihat reaksi dari Sri yang menunjukkan apakah dia menikmatinya atau tidak. Saya merebahkan tubuh saya diatas tubuh Sri yang masih kurus dan kecil itu. Dia diam saja.

Setelah beberapa menit, saya berguling kesamping dan merebahkan diri disamping Sri. Saya merasa sangat terkuras dan lemas. Tetapi rupanya Fitri sudah terangsang lagi setelah melihat saya menyetubuhi anaknya. Diapun menaiki wajah saya dan mendudukinya dan menggilingnya dengan vaginanya yang basah, dan didalam kami di posisi 69 itu diapun mengisap-ngisap penis saya yang sudah mulai lemas sehingga penis saya itu mulai menegang kembali.

Wajah saya begitu dekat dengan anusnya dan saya bisa mencium sedikit bau anus yang baru cebok dan entah kenapa itu membuat saya sangat bergairah. Nafsu kami memang begitu menggebu-gebu, dan saya sedot dan jilat kemaluan Fitri sepuas-puasnya, sementara Sri menonton kami berdua tanpa mengucapkan sepatah katapun. Saya sudah mengenal kebiasaan Fitri dimana dia sering kentut kalau betul-betul sedang klimaks berat, dan saat itupun Fitri kentut beberapa kali diatas wajah saya. Saya sempat melihat lobang anusnya ber-getar ketika dia kentut, dan sayapun melepaskan semburan air mani saya yang ketiga kalinya hari itu didalam mulut Fitri. "Alangkah lemaknyoooooo?!" saya berteriak dalam hati.

"Ugh, ibu kentut," kata Sri tetapi Fitri hanya bisa mengeluarkan suara seperti seseorang yang sedang dicekik lehernya.

Hanya sekali itu saja saya pernah menyetubuhi Sri. Ternyata dia masih belum cukup dewasa untuk mengetahui nikmatnya bersanggama. Dia masih abg, dan pikirannya sebetulnya belum sampai kepada hal-hal seperti itu. Tetapi saya dan Fitri terus menikmati indahnya permainan bersanggama sampai dua atau tiga kali seminggu. Saya masih ingat bagaimana saya selalu merasa sangat lapar setelah setiap kali kami selesai bersanggama. Tadinya saya belum mengerti bahwa tubuh saya menuntut banyak gizi untuk menggantikan tenaga saya yang dikuras untuk melayani Fitri, tetapi saya selalu saya merasa ingin makan telur banyak-banyak. Saya sangat beruntung karena kami kebetulan memelihara beberapa puluh ekor ayam, dan setiap pagi saya selalu menenggak 4 sampai 6 butir telur mentah. Saya juga memperhatikan dalam tempo setahun itu penis saya menjadi semakin besar dan bulu jembut saya mulai menjadi agak kasar. Saya tidak tahu apakah penis saya cukup besar dibandingkan suami Fitri ataupun lelaki lain. Yang saya tahu adalah bahwa saya sangat puas, dan kelihatannya Fitri juga cukup puas.

Saya tidak merasa seperti seorang yang bejat moral. Saya tidak pernah melacur dan saya masih punya isteri sekaligus teman akrab fitri, Tetapi saya akan selalu berterima kasih kepada Fitri yang telah memberikan saya kenikmatan disela-sela hariku bagai punya istri dua yang setiap hari bisa ngentot tetangga dan anaknya,

Setelah kejadian itu Sri kadang minta jatah untuk bisa bercinta denganku karena dia sudah mulai tumbuh dewasa dan sudah mulai tahu tentang kenikmatan bercinta karena waktu pertama ku setubuhi,malah Sri kini lebih ketagihan setiap dua hari sekali minta di sodok, dan pelajaran yang sangat berharga didalam bagaimana melayani seorang perempuanyang penting bagaimana kita bisa menyimpan rahasia ini tanpa ketahuan satu sama lain,hubunganku dengan istripun aman-aman saja yang penting dapat terpenuhi segala keputuhannya baik kebutuhan ekonomi ataupu kebutuhan biologisnya.
Tamat

 

Kokom dan adiknya


 

Waktu itu sudah malam, sekitar pukul 9. Saya dan kokom baru saja menyelesaikan babak ketiga pertandingan antar jenis kelamin kami yang sudah sekian kali kami lakukan. Kami ada di rumah kokom, suami kokom, Andre, sedang tidak berada di rumah, dia pergi tugas luar kota lagi. Sementara istri saya ada di rumah, saya punya banyak alasan kalau dia bertanya macam-macam.

"Mas Vito, aku kok kayaknya nggak pernah bosen ya 'ngewe' sama kamu..." kata kokom.
"Lha, memangnya kalo sama Andre, bosen..? Kan dia suamimu," jawab saya agak gr.

"Bukannya gitu. Kalo sama Mas Andre gayanya itu-itu saja, dan lagi kontolnya Mas Andre kan nggak sebesar punya Mas Vito," jawab kokom jujur sambil mengurut batang kemaluan saya yang kembali mengeras.

"Nggak boleh gitu lho kom. Andre itu kan suamimu, dia baik lagi. Tapi, masa bodo lah, yang penting memek istrinya enak banget. Ya sudah 'ngentot' lagi yuk, mana toketmu, sini, aku mau 'nenen'..!"

Ketika kami mau mulai babak keempat, Vina, anak kokom yang jadi sering melihat maminya di 'acak-acak', masuk ke kamar.

"Mi, masih main kuda-kudaan ya..? " tanyanya polos.
"Iya, baru mau main lagi, kenapa Vin..? kata Mirna.
"Vina mau bobo, tapi Vina takut, temenin Vina ya Mi, Om Vito main kuda-kudaanya di kamar Vina aja ya..!" pintanya penuh harap.


Ya sudah, akhirnya saya dan kokom pindah arena ke kamarnya Vina. Sambil masih bertelanjang bulat, kami berusaha menina-bobokan Vina yang katanya tidak kangen sama papinya, dia malah menganggap saya papi kandungnya.

Baru sekitar 10 menit si Vina tertidur dan 3 menit si kokom menghisap batang kemaluan saya, telephone di kamar kokom berdering.

"Mas, aku ngangkat telephone dulu ya, kali aja dari Mas Andre." kata kokom.
"Ya, jangan lama-lama.." jawab saya.
Setelah hampir 5 menit, Mirna balik lagi ke kamar dengan wajah bingung.

"Mas, adikku mau kesini. Dia sudah ada di depan komplek. Gimana nih..?" kata kokom.
"Siapa..? Si Yuni..? Dia bareng suaminya nggak..?" tanya saya berusaha tidak panik.
"Nggak sih, kan dia lagi pisah ranjang sama Gery. Sudah 4 bulan ini." jawab kokom.

"Ya sudah, kalo dia kesini, ndak apa-apa. Bilang aja aku lagi nemenin kalian. Apa susahnya sih?"

Tidak lama kemudian yuni datang. Dia adalah wanita cantik berusia sekitar 25 tahun, dengan ukuran dada sekitar 34B (hampir sama dengan kakaknya), kulit putih bersih dan hidung yang bangir. Malam itu dia mengenakan 'Tank Top' warna biru ditutup dengan Cardigan hitam dan celana Capri (ketat, sedengkul) warna putih.

"Malam Mbak, Eh.., ada siapa nih..?" kata yuni.
"Ini Mas Vito, temen suamiku. Dia datang kesini mau nemuin Mas Andre, tapi nggak ketemu." kokom menjawab.
"O iya, kenalin Mas, ini adikku, yuni. yun, ini namanya Mas Vito."
"yuni," katanya sambil bersalaman dengan saya.
"Vito," jawab saya.

"Kamu kenapa kesini..?" kata kokom, "Tumben-tumbenan, mana malem-malem lagi. Kamu nggak takut apa? Daerah sini rawan pemerkosaan lho..!"

Si yuni menjawab sambil melepas Cardigan-nya dan memamerkan keindahan buah dadanya, yang dapat membuat laki-laki sesak nafas itu, katanya, "Ngapain takut, kalo diperkosa malah seneng. Aku sudah hampir 5 bulan lho Mbak, nggak 'gituan'..!"

"Kamu ini kalo ngomong sembarangan," kata kokom sambil melirikku, "Kasian Mas Vito tuh, lagi tanggung, nanti dia ngocok disini lagi."

"Tanggung..? Emangnya kalian lagi ngapain..? Wah, macem-macem nih kayaknya..!" tanya yuni penasaran.

Si kokom menjawab, "Kenapa emangnya..? Mau ikut nimbrung..? Suntikannya Mas Vito besar lho..!"
Saya dari tadi hanya diam dan tersenyum mendengar 'adik' saya dibicarakan dua wanita cantik.

Lalu saya angkat bicara, "Kamu ini ngomong apa sih Mir..? Emangnya kamu sudah pernah liat burungku apa..?" kata saya menggoda.

"Iya nih, Mbak kokom. Emang udah pernah liat..?" kata yuni.

"Wah, jangan macam-macam deh Mas, mendingan kita lanjutin pertandingan tadi. Kamu mau ikutan nggak yun..?" ajak kokom sambil kembali melepas dasternya dan melucuti celana pendek saya.

Melihat hal ini, yuni memekik pelan, "Wah, itu kontol..? Gede banget, boleh nyobain ya Mas..?"

"Ya sudah, kamu hisap-hisap ya yun..!" kata saya, "Nah, kom kesinikan memekmu biar kujilatin..!"

Lalu kami bertiga bermain dengan riang gembira. Saya duduk di sofa, sementara yuni jongkok dan sibuk dengan batang kemaluan saya. kokom berdiri menghadap saya sambil mengarahkan kepala saya ke liang vaginanya dan menjilatinya sampai kelojotan. Saya tidak sadar waktu kokom agak bergeser, ternyata yuni sudah tidak mengenakan apa-apa lagi, polos, telanjang bulat dan berusaha menjepit penis saya dengan kedua buah dadanya yang ternyata memang besar dan membuat gerakan naik turun.

"Ya, terus yun, enak banget..!" kata saya, sementara kokom sudah duduk di sebelah kiri saya sambil mengulum bibir saya.

"Mas Vito, aku mau masukin ke memek ya..!" pinta yuni penuh harap.

Ketika melihat dan mengamati kemaluan yuni, saya agak kaget. Selain botak, vagina yuni juga masih terlihat sempit. Dalam hati saya berpikir, ini kakak beradik punya kemaluan kok ya sama. Lalu yuni membelakangi saya dan memasukkan batang kemaluan saya ke dalam vaginanya yang sempit itu dengan perlahan-lahan. kokom yang juga sedikit terengah-engah memasukkan jari saya ke dalam liang kemaluannya yang mulai basah.

yuni benar-benar memperlakukan batang kemaluan saya dengan baik. Gerakan maju mundurnya sangat hebat dan terkadang dikombinasi dengan gerakan berputar. Menyikapi hal ini, saya lalu mengangkat badan yuni dan saya balikkan, hingga kami beradu pandang, dengan posisi penis saya tetap di dalam vaginanya yang keset-keset basah. yuni ternyata sangat ahli dengan posisi duduk, dia terus naik turun berusaha mengimbangi hujaman-hujaman penis saya yang makin lama makin dalam menembus pertahanan liang vaginanya.

Setelah hampir 10 menit, yuni berkata, "Mas aku keluar..!"

Tapi herannya dia masih saja menggoyang pantatnya. Sementara itu, kokom ada di belakang yuni sambil memeluk dan meremas buah dada yuni.

3 menit kemudian, giliran saya yang bilang, "yunn, aku mau keluar nih, di dalam apa di luar..?"

"Di luar saja Mas, aku mau minum pejunya," jawab yuni semangat.

"yunn, cepat lepas..!" kata saya sambil mengocok batang kemaluan saya dengan cepat dan mengarahkannya ke mulut yuni yang sekarang sudah jongkok di bawah saya.

Ternyata benar, mulut yuni tidak hanya menampung sperma saya yang banyak, tapi juga benar-benar berkumur dan menelannya.

Melihat hal itu, kokom yang vaginanya tidak aktif, langsung mendekati batang kemaluan saya dan mengulumnya lagi.

Saya yang sudah banjir keringat langsung berkata kepada kokom, "kom, yang bersih ya, saya istirahat dulu sebentar."

Sambil kokom terus disibukkan dengan pekerjaannya, saya menyuruh yuni mendekat dan langsung mengulum bibirnya yang tipis dan beraroma sperma.

Tidak lama kemudian, batang kemaluan saya mulai menegang lagi. Mengetahui perbuatannya berhasil, kokom dengan tindakan super cepat menarik saya ke lantai dan menyuruh saya telentang. kokom dengan cepat juga langsung menduduki penis saya dan menjepitnya dengan kemaluannya. Dengan posisi seperti itu, tangan saya diberi kesempatan untuk meremas payudara Mirna dan memainkan putingnya yang agak kecoklatan.

Setelah hampir 10 menit mengerjai batang kemaluan saya, gerakan kokom mulai agak mengendur. Saya tahu, dia sudah orgasme. Melihat hal ini, saya membalikkan badan kokom, dan sekarang dia yang telentang. Kedua kaki kokom yang putih itu saya buka lebar-lebar sambil menusuk vaginanya dengan gerakan yang amat cepat dan teratur. Erangan dan desahan kokom sudah tidak saya dengarkan sama sekali.

Sekitar 3 menit kemudian, saya sudah tidak dapat menahankannya lagi. Dengan posisi penis masih di dalam vagina kokom, saya menyemprotkan cairan sperma saya untuk yang kedua kalinya malam ini. Liang senggama kokom yang saya perhatikan beberapa hari ini sudah agak melebar, tidak kuat menampung cairan sperma saya yang kental dan banyak. Melihat hal itu, yuni langsung menjilati vagina kakaknya berusaha mendapatkan air mani lagi sambil tangannya mengocok penis saya.

Selama seminggu yuni menginap di rumah kokom, kami bertiga hampir tiap malam mengadakan acara begituan bersama. ".

Pernah sekali waktu, ketika istri saya sedang pergi, yuni main ke rumah dan minta disenggamai di memeknya. Karena menarik, saya lakukan saja dan ternyata itu enak sekali, seperti menjebol kemaluan perawan.

Sekali waktu, pernah juga salah seorang teman saya main ke rumah ketika dua kakak beradik itu kebetulan sedang ada di rumah saya. Karena tertarik dengan kokom, teman saya itu mengajak kokom main di atas meja makan saya. Saya dan yuni hanya diam dan tertawa melihat teman saya menghajar kemaluan kokom sampai kokom mengalami multi orgasme.

TAMAT